JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai inflasi pangan men­jadi tantangan utama dalam menjaga stabilitas har­ga di tengah tingginya ketidakpastian global. Karena itu, BI bersama pemerintah akan memperkuat peng­en­dalian inflasi pangan melalui Gerakan Pengendalian In­flasi Pangan Sinergis (GPIPS).

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti me­ng­a­takan, inflasi inti (core inflation) dan in­flasi umum masih relatif terkendali. Na­mun, inflasi pangan telah berada di atas 5 persen sehingga memerlukan perhatian khusus.

Kita melihat ke depan ada tantangan untuk inflasi. Khususnya inflasi pa­ng­an. Kalau untuk core inflation relatif aman dengan inflasi total sebesar 3,5 per­sen. Sedangkan inflasi pangan di atas 5 persen. Itu yang menjadi perhatian kami,” ujar Destry dalam sam­butan daring pada kegiatan Editors Briefing di Parapat, Sumatera Utara.

Menurut Destry, tekanan inflasi pangan terutama dipengaruhi faktor pa­sokan akibat terbatasnya ketersediaan se­jumlah komoditas. Untuk itu, BI ber­sama pemerintah akan memperkuat ko­or­dinasi melalui Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali In­flasi Daerah (TPID).

“Ketersediaan pangannya relatif ter­batas. Ini yang tentu akan diatasi. Kita ber­syukr punya Tim Pengendali Inflasi, ba­ik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Destry. Ia menambahkan, pada 5 Agustus mendatang BI bersama pemerintah akan melaporkan capaian ser­ta langkah lanjutan pengendalian in­flasi pangan kepada Presiden.

Selain menjaga inflasi, Destry me­ngatakan BI tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah kondisi glo­bal yang masih dibayangi kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) di Amerika Serikat. Menurut dia, kondisi tersebut berdampak terhadap ne­gara berkembang, termasuk Ind­o­nesia, sehingga stabilitas nilai tukar dan inflasi menjadi fokus utama kebijakan BI.

Destry menegaskan, BI akan terus me­ngoptimalkan berbagai instrumen mo­neter untuk menjaga stabilitas ru­piah, sekaligus mendorong per­tum­buhan ekonomi melalui kebijakan mak­roprudensial, sistem pembayaran, penguatan UMKM, ekonomi syariah, dan ekonomi hijau. Ia juga memastikan arah kebijakan BI tetap konsisten meski terjadi pergantian kepemimpinan setelah pgunduran diri Gubernur BI Ferry Warjiyo.

Dalam pengendalian inflasi pangan, BI bersama pemerintah juga me­ng­em­bangkan GPIPS yang merupakan trans­formasi dari Gerakan Nasional Peng­endalian Inflasi Pangan (GNPIP). Program ini mengintegrasikan pe­ni­ng­kat­an produktivitas, hilirisasi, ke­ter­se­diaan, dan kelancaran distribusi pangan se­bagai upaya menjaga stabilitas harga se­ka­ligus memperkuat ketahanan pa­ngan nasional.

Hingga Juli 2026, implementasi GPIPS telah melampaui sejumlah target nasional. Program optimalisasi Good Agricultural Practices (GAP) mencapai 242 kegiatan atau 137,5 persen dari target, kerja sama antar daerah terealisasi sebanyak 267 nota kesepahaman atau 176,82 persen dari target, sedangkan fa­silitasi distribusi pangan mencapai 785 program atau 303,09 persen dari tar­get. Adapun Gerakan Pasar Murah te­lah terlaksana sebanyak 10.669 ke­gi­atan atau 67,22 persen dari target ta­hun­an dan akan terus dipercepat hingga ak­hir tahun. rep/mb06