JAKARTA – Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) kembali kehilangan momentum di tengah derasnya stimulus yang digelontorkan pemerintah untuk sektor perumahan.
Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan KPR hanya mencapai 4,4% secara tahunan (year on year/YoY) pada Juni 2026, melambat dibandingkan Mei 2026 yang masih tumbuh 4,7% YoY.
Perlambatan tersebut terjadi ketika pemerintah masih mengandalkan berbagai insentif untuk menggerakkan sektor properti, mulai dari fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), hingga program baru Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan.
Namun, laju pertumbuhan KPR yang terus melemah mengindikasikan bahwa stimulus pembiayaan belum cukup kuat untuk mengangkat permintaan rumah secara luas.
Di sisi lain, pelaku industri perbankan menilai perlambatan dipengaruhi kombinasi persoalan dari sisi pasokan maupun permintaan.
Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) Hirwandi Gafar mengatakan, perlambatan KPR dipicu oleh sejumlah faktor. Dari sisi pasokan, pengembang masih menghadapi tantangan penyediaan lahan dan proses perizinan.
“Misalnya di perumahan subsidi. Masalah lahan sekarang juga menjadi tantangan, termasuk adanya isu lahan sawah yang dilindungi. Itu ikut memengaruhi penyediaan rumah,” ujar Hirwandi saat ditemui di Perbanas Institute Jakarta.
Selain itu, dia enilai masyarakat kini lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran sehingga pembelian rumah belum menjadi prioritas utama bagi sebagian calon konsumen. “Masyarakat sekarang lebih memprioritaskan kebutuhan mereka terlebih dahulu. Jadi pembelian rumah mungkin menjadi prioritas berikutnya,” katanya. Meski demikian, BTN menilai perlambatan tersebut belum tergolong signifikan. Hirwandi memperkirakan penurunan penyaluran KPR bersubsidi berada di kisaran 20%. Hirwandi tetap optimistis permintaan rumah akan bertahan hingga akhir tahun.
Menurutnya, minat masyarakat untuk memiliki hunian masih tinggi sehingga tantangan berikutnya adalah memperluas edukasi kepada calon pembeli.
Dia juga melihat keterbatasan pasokan rumah baru membuka peluang bagi meningkatnya transaksi rumah sekunder yang saat ini masih cukup aktif.
Keyakinan serupa juga disampaikan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengakui pertumbuhan KPR perseroan ikut melambat, meski masih berada di jalur positif. “KPR memang sedikit melambat. Saat ini pertumbuhan kami sektar 1,8% secara tahunan dan 1,3% secara kuartalan,” ujar Vera dalam Paparan Kinerja Kuartal II/2026, dikutip.
Meski demikian, BCA memperkirakan penyaluran KPR akan membaik pada semester II/2026. Vera mengatakan, pelaksanaan BCA Expoversary tahun ini menghasilkan peningkatan aplikasi kredit dibandingkan tahun lalu.
Menurutnya, kenaikan aplikasi kredit menjadi sinyal positif meski belum seluruhnya langsung berubah menjadi kredit yang disetujui. bisn/mb06
