JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah ter­ha­dap dolar Amerika Serikat (AS) pada per­da­ga­ng­an Selasa (28/7) pagi. Pergerakan rupiah di­ba­yangi sikap hati-hati pelaku pasar dalam men­cermati arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di tengah transisi kepemimpinan bank sen­tral.

Rupiah dibuka melemah 61 poin atau 0,34 persen menjadi Rp 18.070 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan se­be­lum­nya, mata uang Garuda berada di level Rp 18.009 per dolar AS. Di­kutip dari Google Finance, ru­piah berada di level 18.093 per do­lar A pada pukul 11.25 WIB.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan, faktor do­mestik menjadi salah satu sen­timen yang memengaruhi per­ge­rakan rupiah. Investor masih me­nu­nggu arah kebijakan BI setelah pe­rubahan kepemimpinan.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh faktor domestik si­kap hati-hati pelaku pasar ter­hadap arah kebijakan BI di bawah Gu­bernur yang bar,” ucapnya di­kutip dari Antara.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebelumnya di­te­tapkan sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya.

Pemerintah selanjutnya akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pem­be­r­hen­tian Perry Warjiyo secara hormat. Pro­ses pergantian kemudian me­ma­suki masa transisi sebelum calon Gubernur BI definitif dia­jukan.

Sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia, Pre­si­den akan mengusulkan calon Gu­ber­nur BI kepada Dewan Per­wa­kilan Rakyat (DPR) RI. Nama yang diajukan selanjutnya me­­nja­lani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI sebelum mendapatkan persetujuan.

Setelah memperoleh per­se­tu­juan DPR, calon tersbut dapat di­tetapkan dan dilantik Presiden se­bagai Gubernur BI definitif.

Di tengah proses tersebut, Rully menilai Gubernur BI berikutnya perlu memberikan per­hatian terhadap penguatan ke­lembagaan bank sentral, termasuk da­lam menjalankan kebijakan moneter.

“Gubernur BI yang baru perlu memprioritaskan penguatan ke­lembagaan, terutama kebijakan operasional moneter yang mem­pen­garuhi jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi, di mana se­harusnya BI tidak secara langsung mebeli obligasi peme­rin­tah di pasar perdana,” ungkap Rully.

Arah kebijakan bank sentral men­jadi salah satu perhatian pasar ka­rena berkaitan dengan upaya men­jaga stabilitas rupiah dan in­flasi. Selain faktor domestik, per­ge­rakan rupiah juga dipengaruhi per­kembangan sentimen dari pasar global.

Dari eksternal, sentimen glo­bal dinilai relatif positif bagi pasr. Indeks dolar AS bergerak stabil, sementara harga minyak me­ng­a­la­mi penurunan seiring mere­da­nya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. lp6/mb06