JAKARTA – Kepala Badan Pangan Nasional (Ba­panas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan ketersediaan stok cadangan beras pemerintah (CBP) In­do­ne­sia dipastikan lebih kuat untuk menghadapi mu­sim kekeringan dan fenomena El Nino pada ta­hun ini.

“Dulu pada saat terjadi El Nino, kita ada stok (cadangan) be­ras nasional sekitar 1,5 juta ton. Sekarang (CBP kita) ada se­ki­tar 5,2 juta ton,” kata Amran dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data Badan Me­teorologi, Klimatologi, dan Geo­fi­sika (BMKG), puncak El Nino pa­da tahun 2023 terjadi pada Ok­tober sampai Desember. Adapun da­lam catatan Bapanas, stok CBP sebelum memasuki puncak El Nino 2023 tersebut, tepatnya di awal September 2023, berada di angka 1,52 juta ton.

Berangkat dari itu, stok beras peme­rintah yang dikelola Perum Bu­log per 22 Juli 2026 sudah men­capai 5,24 juta ton. Artinya stok CBP Indonesia saat ini sangar kuat, meningkat hingga 244,74 persen jika dibandingkan de­ngan momentum sebelum ter­ja­dinya puncak El Nino pada 2023 silam.

“Nah semua ini adalah per­tahanan kita untuk me­ng­an_ti­sipasi kekeringan. Kita sudah pengalaman El Nino tahu 2015, 2023, 2024. Dengan pengalaman ini, dulu saja kita bisa pen­ye­su­aian saat El Nino, alhamdulillah kita bisa lolos,” beber Amran.

Oleh karena itu, dia me­ng­an­jurkan kepada masyarakat agar tidak perlu khawatir mengenai ke­tersediaan pangan, terutama be­ras. Stok beras yang dimiliki pe­merintah sangat mumpuni.

“Jadi kita tidak perlu kha­watir, karena kapasitas yang di­per­lukan selama musim kemarau bia­sanya sekitar 3 juta ton, se­dangkan kita ada stok sekarang ma­sih 5,2 juta ton, masih ada (sur­plus) 2 juta ton lebih,” te­gasnya.

Bapanas menyatakan stok CBP tersebut berfungsi untuk men­jaga stabilitas komoditas be­ras melalui program strategis pe­me­rintah di antaranya penyaluran be­ras stabilisasi pasokan dan har­ga pangan (SPHP).

Per 22 Juli 2026, dari total tar­get program SPHP beras pe­riode Maret-Desember sebanyak 828 ribu ton, sebanyak 61,32 per­sen atau 507,75 ribu ton di an­ta­ra­nya telah disalurkan.

Selain distribusi beras SPHP, pe­merintah juga akan men­ya­lurkan bantuan pangan beras tahap kedua alokasi Juli-Sep­tem­ber 2026 sebanyak 997,2 ribu ton. Penyaluran dilakukan me­lalui Perum Bulog secara one shoot atau sekaligus mulai Agus­tus dengan target penerima 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.

Adapun tingkat inflasi beras sampai Juni cukup terkendali. Data Badan Pusat Statistik (BPS) me­nunjukkan inflasi beras pada Ju­ni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,98 per­sen. Angka ini mulai melandai 0,57 persen lebih rendah di­ban­dingkan Mei 2026 yang mencapa 4,55 persen.

Sementara inflasi beras secara bu­lanan (month-to-month/mtm) sam­pai Juni 2026 tercatat di 0,45 per­sen. Indeks tersebut masih bera­da di bawah level 1 persen, sehingga mencerminkan pe­r­ge­rakan harga beras yang relatif ter­ken­dali. Di sisi lain, BMKG telah memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026. ant/mb06