Perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia telah membawa perubahan besar terhadap pola penyakit masyarakat. Jika beberapa dekade lalu perhatian lebih banyak tertuju pada penyakit menular, kini ancaman utama justru datang dari penyakit tidak menular (PTM). Penyakit seperti hipertensi, stroke, diabetes melitus, penyakit jantung, kanker, hingga penyakit paru kronis menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan kesehatan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga bagaimana membangun budaya hidup sehat agar masyarakat terhindar dari berbagai faktor risiko.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab sekitar 74 persen kematian di dunia. Indonesia pun mengalami kondisi yang serupa. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa faktor risiko PTM, seperti hipertensi, obesitas, diabetes, kurang aktivitas fisik, konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan, serta kebiasaan merokok masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian serius. Ironisnya, peningkatan faktor risiko tersebut kini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada usia produktif bahkan remaja.
Fenomena tersebut menggambarkan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan kesadaran menjaga kesehatan. Kemajuan teknologi memang memberikan berbagai kemudahan, tetapi di sisi lain juga mendorong masyarakat menjadi lebih pasif. Aktivitas yang dulunya membutuhkan banyak gerak kini dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam. Pola konsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula, kebiasaan duduk terlalu lama, kurang tidur, hingga tingginya tingkat stres menjadi bagian dari kehidupan modern yang tanpa disadari meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Berbeda dengan penyakit infeksi yang umumnya menunjukkan gejala sejak awal, sebagian besar penyakit tidak menular berkembang secara perlahan. Hipertensi, diabetes, maupun kadar kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan keluhan yang berarti. Seseorang dapat terlihat sehat, tetap bekerja, bahkan berolahraga, tetapi sebenarnya sedang mengalami proses kerusakan pembuluh darah yang berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak mengherankan apabila masyarakat sering dikejutkan oleh kabar seseorang yang tiba-tiba mengalami serangan jantung atau stroke padahal sebelumnya tampak sehat. Inilah alasan mengapa penyakit tidak menular sering disebut sebagai silent killer.
Yang sering terlupakan, kesehatan gigi dan mulut sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyakit tidak menular. Selama ini masyarakat masih menganggap kesehatan gigi hanya berkaitan dengan gigi berlubang atau nyeri gigi. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara penyakit periodontal atau radang jaringan penyangga gigi dengan diabetes melitus. Kadar gula darah yang tidak terkendali dapat memperburuk kondisi jaringan gusi, sementara infeksi kronis pada rongga mulut dapat menyulitkan pengendalian kadar gula darah. Begitu pula kebiasaan merokok yang menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan kanker juga merupakan penyebab utama penyakit periodontal serta kanker rongga mulut.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika ataupun kenyamanan saat mengunyah makanan. Rongga mulut merupakan pintu gerbang kesehatan tubuh. Banyak penyakit sistemik yang dapat memberikan tanda awal melalui perubahan pada rongga mulut, seperti mulut kering pada penderita diabetes, perdarahan gusi akibat peradangan kronis, maupun luka yang tidak kunjung sembuh yang dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala seharusnya menjadi bagian dari upaya deteksi dini penyakit secara menyeluruh.
Melihat besarnya ancaman penyakit tidak menular, pemerintah terus mengembangkan berbagai strategi promotif dan preventif. Salah satu pendekatan yang paling dikenal adalah perilaku CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktivitas fisik, Diet sehat dengan gizi seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres. Meskipun sederhana, konsep ini sesungguhnya merupakan panduan hidup sehat yang sangat relevan untuk menghadapi tantangan kesehatan masyarakat masa kini.
Langkah pertama adalah cek kesehatan secara berkala. Pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya dilakukan ketika tubuh sudah merasakan sakit. Pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, berat badan, lingkar perut, hingga pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut secara rutin merupakan bentuk investasi kesehatan yang jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan ketika penyakit sudah berkembang menjadi komplikasi. Posbindu Penyakit Tidak Menular, puskesmas, maupun fasilitas pelayanan kesehatan kini semakin mudah diakses oleh masyarakat sebagai tempat melakukan deteksi dini.
Selanjutnya adalah enyahkan asap rokok. Rokok masih menjadi salah satu faktor risiko terbesar berbagai penyakit kronis. Tidak hanya perokok aktif yang mengalami dampaknya, tetapi juga anggota keluarga yang terpapar asap rokok. Bahkan saat ini dikenal istilah third-hand smoke, yaitu residu zat berbahaya yang menempel pada pakaian, dinding, maupun perabot rumah tangga setelah rokok dipadamkan. Kondisi ini membuktikan bahwa bahaya rokok tidak berhenti ketika asapnya hilang. Menghentikan kebiasaan merokok merupakan langkah penting dalam melindungi kesehatan diri sendiri maupun orang lain.
Komponen berikutnya adalah rajin melakukan aktivitas fisik. Kesibukan bekerja sering dijadikan alasan untuk tidak berolahraga. Padahal aktivitas fisik tidak selalu berarti olahraga berat. Berjalan kaki, menggunakan tangga dibanding lift, bersepeda, berkebun, maupun melakukan peregangan di sela pekerjaan sudah memberikan manfaat besar bagi kesehatan apabila dilakukan secara konsisten. Aktivitas fisik mampu membantu mengendalikan tekanan darah, menjaga berat badan, meningkatkan kebugaran, serta memperbaiki kesehatan mental.
Perilaku diet sehat dengan gizi seimbang juga menjadi fondasi utama dalam pencegahan penyakit tidak menular. Masyarakat perlu membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak serta memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein berkualitas, dan air putih. Konsumsi gula berlebihan tidak hanya meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, tetapi juga mempercepat terjadinya karies atau gigi berlubang. Dengan demikian, pola makan sehat memberikan manfaat ganda, yaitu menjaga kesehatan tubuh sekaligus mempertahankan kesehatan gigi dan mulut.
Tidak kalah penting adalah istirahat yang cukup. Tidur selama tujuh hingga delapan jam setiap malam merupakan kebutuhan biologis tubuh. Kurang tidur terbukti meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, diabetes, serta menurunkan daya tahan tubuh. Di era digital, kebiasaan begadang karena bekerja atau terlalu lama menggunakan media sosial menjadi tantangan baru yang perlu dikendalikan.
Komponen terakhir adalah kelola stres. Beban pekerjaan, tekanan ekonomi, tuntutan akademik, maupun derasnya arus informasi di media sosial membuat masyarakat semakin rentan mengalami stres. Jika tidak dikelola dengan baik, stres dapat meningkatkan tekanan darah, memicu gangguan metabolisme, memperburuk kualitas tidur, hingga memengaruhi kesehatan gigi melalui kebiasaan menggertakkan gigi (bruxism) atau menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi rongga mulut. Oleh sebab itu, menjaga kesehatan mental menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik.
Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian penyakit tidak menular tidak cukup hanya mengandalkan rumah sakit atau tenaga kesehatan. Keluarga, sekolah, tempat kerja, media massa, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun budaya hidup sehat. Paradigma pelayanan kesehatan juga harus bergeser dari mengobati penyakit menuju mencegah penyakit. Semakin dini faktor risiko dikenali, semakin besar peluang seseorang untuk tetap sehat dan produktif.
Sebagai bagian dari transformasi kesehatan nasional, upaya promotif dan preventif sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan harus menjadi gerakan bersama. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membiasakan perilaku CERDIK dalam kehidupan sehari-hari sekaligus tidak melupakan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Sebab, tubuh yang sehat tidak hanya ditentukan oleh jantung yang kuat atau kadar gula yang normal, tetapi juga oleh rongga mulut yang bersih dan bebas penyakit.
Membangun Indonesia yang sehat bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika masyarakat terbiasa memeriksakan kesehatan, menghindari rokok, aktif bergerak, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, beristirahat cukup, mengelola stres, serta menjaga kesehatan gigi dan mulut, maka sesungguhnya kita sedang membangun fondasi bangsa yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
