Setiap tahun ajaran baru selalu menghadirkan pemandangan yang sama, gerbang sekolah kembali ramai, seragam baru dikenakan dengan bangga, tangis dan tawa anak-anak saling bersahutan, sementara harapan memenuhi hati para guru dan orang tua.

Tahun ajaran 2026–2027 yang resmi dimulai dari jenjang TK hingga SMA bukan sekadar pergantian kalender pendidikan, melainkan sebuah momentum yang menandai dimulainya perjalanan baru bagi jutaan anak Indonesia menuju masa depan yang mereka impikan.

Bagi saya, tahun ajaran ini memiliki makna yang jauh lebih emosional. Untuk pertama kalinya, saya mengantar anak sulung saya memasuki bangku sekolah dasar. Di momen itulah saya menyadari bahwa hari pertama sekolah bukan sekadar urusan administrasi atau rutinitas tahunan.

Ada harapan yang dititipkan, doa yang dipanjatkan, sekaligus tanggung jawab besar yang mulai dipikul oleh orang tua. Dari posisi sebagai guru, saya telah berkali-kali menyaksikan momen itu. Namun, ketika berdiri sebagai seorang ayah di gerbang sekolah, saya merasakan sendiri betapa sakral dan emosionalnya langkah kecil yang akan menjadi awal perjalanan panjang pendidikan seorang anak.

Kesadaran itu membuat saya memandang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan sudut pandang yang berbeda. Selama ini, MPLS yang diselenggarakan oleh sekolah sering dipahami sebagai sebuah rutinitas mengenalkan gedung, guru, progam, tata tertib dan budaya sekolah semata.

Padahal, hakikatnya MPLS adalah gerbang pertama yang menentukan kesan anak terhadap sekolah, bagaimana anak merasa aman dan nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri serta terjalinya kolaborasi anatara sekolah, murid dan orang tua dalam mendidik anak, sehingga momen ini benar-benar menjadi gerbang pembuka bagi anak.

Oleh karena itu, keberhasilan MPLS tidak hanya ditentukan sebagus apa sekolah menyusun kegiatanya namun ia juga ditentukan seberapa besar keterlibatan orang tua dalam hal ini adalah ayah dalam menguatkan serta menemani anaknya menjejakkan kaki di hari pertama di sekolah. Karena sejatinya pendidikan yang baik itu menuntut adanya kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga.

Relevansi GAMAS

Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) merupakan sebuah progam yang relate dengan momen MPLS, karena kehadiran ayah pada hari pertama tidak hanya memenuhi sebuah ajakan prgam untuk mengantar anak sekolah namun lebih dari itu, GAMAS menghadirkan pesan bahwa “ayah adalah orang yang selalu hadir dan mendukung penuh ketika anaknya ingin mengejar mimpi”.

Namun sayangnya, selama ini peran ayah dalam pendidikan anaknya masih dipersempit sebagai pencari nafkah semata. Padahal keterlibatan ayah terbukti berkaitan dengan prestasi akademik, kemampuan sosial-emosional, kontrol emosi, dan perilaku anak yang lebih baik, sehingga peran ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari keberhasilan tumbuh kembang anak.

Sejumlah temuan menunjukkan bahwa kehadiran ayah dalam pengasuhan memberi dampak nyata pada keberhasilan anak, baik pada prestasi belajar maupun perkembangan sosial-emosional. Bahkan, laporan terbaru menyebut 43% anak menunjukkan prestasi akademik dan non-akademik lebih baik ketika ayah terlibat sejak awal sekolah, sementara 30% lainnya memperlihatkan kemampuan sosial-emosional yang lebih tinggi. (Nur Ainy: Cakrawarta.com, 21 juli 2025)

Mungkin kegiatan ayah mengatar anak kesekolah hanya berlangsung hanya beberapa menit, namun bagi seorang anak apalagi masih di usia dini, moment ini manjadi hal yang tak terlupakan dan menjadi kenangan seumur hidup. Terkadang yang paling membekas bagi seorang anak adalah bukan sejauh mana ia diantar, bukan seberapa lama ia ditunggui melain oleh siapa ia diantar dan oleh siapa ia ditunggu.

Lalu, mengapa yang diajak secara khusus adalah ayah?

Pertanyaan ini penting diajukan. Sebab selama bertahun-tahun, urusan pendidikan anak sering kali dianggap sebagai wilayah yang lebih dekat dengan ibu. Ibu mengurus bekal, menyiapkan buku, mendampingi belajar di rumah serta mengahdiri rapat. Sementara ayah lebih sering diposisikan sebagai pencari nafkah untuk keluarga.

Dalam khazanah pendidikan Islam, kita sering mendengar ungkapan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak (al-ummu madrasatul ula). Ungkapan ini mengandung makna yang sangat mendalam. Namun, memaknai ungkapan tersebut secara utuh tidak berarti pendidikan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. Justru sebaliknya, keberhasilan seorang ibu sebagai madrasah pertama sangat bergantung pada hadirnya seorang ayah sebagai pendamping, pelindung, dan mitra pendidikan dalam keluarga.

Begitu juga Al Qur’an yang merupakan umat muslim menjelaskan bawah tidak hanya ibu yang memiliki kasih sayang dan kelembutan namun menghadirkan sosok ayah sebagai figur pendidik. Kita bisa melihat kisah Nabi Ibrahim A.S ketika berdialog dengan putranya yang bernama Ismail A.S. begitu juga dengan Lukman Hakim yang memberikan teladan dan nasehat terhadap anaknya.

Ini menunjukkan bahwa dalam konteks keluarha proses pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Mendidik anak adalah amanah yang harus ditanggung bersama antara ayah dan ibu, dengan peran yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama yaitu keberhasilan pendidikan anak.

Pada akhirnya, ini adalah momentum bagi seorang ayah untuk menunjukkan perannya dalam mendidik anak, bukan berarti pengalihan tanggung jawab mutlak dari ibu ke ayah namun ini adalah moment di mana ayah selalu hadir disetiap langkah anaknya. Kehadiran ayah bukan hanya membangun rasa percaya diri, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa ia tidak pernah berjalan sendirian.

Mungkin suatu hari anak akan lupa pelajaran pertama yang ia terima di sekolah, tetapi ia akan selalu mengingat ayah yang memilih hadir dan membersamainya sejak langkah pertama menuju masa depan.

Bagi ayah dan anak, moment ini tidak akan terulang untuk kedua kali, maka renungkanlah