Oleh: Dicky Choirriyan, S.Tr.Rad.( Pegawai Poltekkes Kemenkes Semarang, Aktif dalam Promosi Kesehatan)

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara generasi muda memperoleh informasi, berkomunikasi, mencari hiburan, hingga membangun identitas dirinya. Di tengah derasnya arus media sosial, TikTok muncul sebagai salah satu platform yang paling berpengaruh dalam kehidupan Generasi Z. Aplikasi berbasis video pendek ini tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi telah menjadi ruang belajar, bekerja, berbisnis, bahkan membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna TikTok terbesar di dunia. Berbagai laporan menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif TikTok di Indonesia telah melampaui 100 juta akun dan didominasi kelompok usia muda, khususnya Generasi Z dan milenial. Kondisi ini menunjukkan bahwa TikTok bukan lagi sekadar aplikasi hiburan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda Indonesia.

Di satu sisi, kehadiran TikTok membawa banyak manfaat. Platform ini membuka ruang kreativitas yang sangat luas. Banyak pelajar dan mahasiswa memanfaatkannya sebagai media belajar, berbagi ilmu, promosi usaha, kampanye kesehatan, hingga membangun jejaring profesional. Konten edukasi tentang kesehatan, keuangan, teknologi, maupun keterampilan hidup kini dapat diakses dalam hitungan detik.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang tidak boleh diabaikan, terutama terhadap kesehatan mental. Persoalannya bukan semata-mata terletak pada keberadaan TikTok, melainkan pada cara algoritma platform digital bekerja memengaruhi perhatian, emosi, dan perilaku penggunanya.

Algoritma TikTok dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Semakin lama seseorang menonton, semakin banyak konten yang disesuaikan dengan minatnya akan muncul. Fenomena inilah yang dikenal sebagai doomscrolling, yakni kebiasaan menggulir layar tanpa henti hingga lupa waktu. Banyak remaja berniat membuka TikTok hanya lima menit, tetapi tanpa disadari menghabiskan satu hingga tiga jam setiap hari.

Waktu yang terus tersita tersebut bukan sekadar mengurangi produktivitas. Lebih dari itu, penggunaan media sosial secara berlebihan berpotensi mengganggu kualitas tidur, menurunkan konsentrasi belajar, meningkatkan stres akademik, hingga memengaruhi keseimbangan emosional. Tidak sedikit mahasiswa yang mengaku menunda menyelesaikan tugas karena lebih tertarik menikmati konten yang terus bermunculan di beranda mereka.

Persoalan lain yang semakin nyata adalah budaya membandingkan diri dengan orang lain (social comparison). Hampir setiap hari pengguna disuguhi video tentang kehidupan yang tampak sempurna: wajah yang menarik, tubuh ideal, liburan mewah, prestasi akademik, gaya hidup modern, hingga kesuksesan finansial di usia muda. Padahal apa yang tampil di layar sering kali merupakan potongan kecil dari kehidupan seseorang yang telah dipilih, diedit, bahkan diberi berbagai filter.

Ironisnya, banyak remaja lupa bahwa media sosial bukanlah cerminan kehidupan yang utuh. Mereka kemudian membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan digital yang telah dipoles sedemikian rupa. Akibatnya muncul rasa tidak percaya diri, minder, iri hati, bahkan merasa hidupnya tidak cukup berharga dibandingkan orang lain.

Fenomena tersebut diperkuat dengan maraknya penggunaan filter kecantikan. Teknologi ini memang mampu meningkatkan kualitas visual sebuah video, tetapi juga secara perlahan membentuk standar kecantikan yang tidak realistis. Wajah yang selalu tampak mulus, hidung mancung, kulit cerah, dan bentuk wajah simetris akhirnya dianggap sebagai ukuran kecantikan baru.

Tidak sedikit remaja yang mulai merasa kurang puas terhadap penampilan aslinya setelah terlalu sering menggunakan filter digital. Mereka merasa lebih percaya diri ketika tampil di layar dibandingkan ketika berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, bukan tidak mungkin akan memengaruhi konsep diri dan penerimaan terhadap tubuhnya sendiri (body image).

Selain persoalan penampilan, TikTok juga menghadirkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Banyak anak muda merasa harus selalu mengikuti tren terbaru agar tidak dianggap tertinggal. Mereka berlomba mengikuti tantangan viral, membeli produk yang sedang populer, mencoba tempat yang sedang ramai diperbincangkan, hingga memaksakan gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuan ekonomi.

Tekanan sosial semacam ini dapat memunculkan kecemasan, terutama bagi mahasiswa atau remaja yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana. Keinginan untuk tampil setara dengan lingkungan digital terkadang berujung pada perilaku konsumtif yang justru menambah beban psikologis.

Konten mengenai kehidupan keluarga juga tidak jarang memengaruhi kondisi emosional pengguna. Video yang menampilkan keluarga harmonis, hubungan romantis yang tampak sempurna, maupun pencapaian pribadi sering kali menjadi pemicu kesedihan bagi mereka yang sedang menghadapi persoalan keluarga, kesepian, atau tekanan hidup lainnya. Bagi mahasiswa perantauan, melihat kebersamaan keluarga melalui media sosial dapat membangkitkan rasa rindu yang mendalam sekaligus meningkatkan perasaan kesepian.

Meski demikian, tidak tepat jika TikTok diposisikan sebagai penyebab utama gangguan kesehatan mental. Platform digital hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada pola penggunaan, kemampuan mengendalikan diri, serta literasi digital setiap individu. TikTok dapat menjadi media yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijak, tetapi dapat pula menjadi sumber tekanan psikologis apabila dikonsumsi secara berlebihan tanpa pengendalian.

Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan melarang Generasi Z menggunakan TikTok, melainkan membangun kemampuan mereka untuk menjadi pengguna yang cerdas. Literasi digital harus dipahami tidak hanya sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengelola emosi, memilah informasi, menjaga privasi, serta memahami bahwa tidak semua yang muncul di media sosial adalah kenyataan.

Keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Orang tua tidak cukup hanya membatasi waktu penggunaan gawai, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang hangat sehingga anak merasa nyaman bercerita ketika mengalami tekanan psikologis. Demikian pula sekolah dan perguruan tinggi perlu menghadirkan pendidikan kesehatan mental sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

Tenaga kesehatan dan praktisi promosi kesehatan juga memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang menarik, kreatif, dan berbasis bukti ilmiah. Konten positif yang dikemas secara sederhana akan lebih mudah diterima oleh Generasi Z dibandingkan penyuluhan yang bersifat satu arah.

Pada akhirnya, yang perlu dibangun bukanlah rasa takut terhadap TikTok, melainkan kemampuan mengendalikan penggunaannya. Teknologi seharusnya menjadi alat yang meningkatkan kualitas hidup, bukan justru mengendalikan cara berpikir dan cara seseorang menghargai dirinya sendiri.

Generasi Z adalah generasi yang lahir di era digital dan akan menjadi penentu arah Indonesia pada masa mendatang. Menjaga kesehatan mental mereka berarti menjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sebab, kemajuan teknologi hanya akan menjadi kekuatan apabila diiringi dengan manusia yang sehat secara fisik, matang secara emosional, dan bijaksana dalam memanfaatkan ruang digital.