Oleh: Revina (Aktivis Muslimah)
Depresi bukan lagi istilah yang asing. Fenomena ini semakin banyak dialami Generasi Z (Gen Z). Berbagai survei menunjukkan bahwa Gen Z di Indonesia merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental. Berdasarkan Goodstats (8/4/2026), kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental (60%), disusul tekanan finansial (57%), ekspektasi sosial (42%), serta perasaan tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali (36%).
Fenomena ini juga terjadi secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Survei Deloitte juga menunjukkan 54% Gen Z mengaku kecemasannya semakin memburuk. Kekhawatiran terbesar berkaitan dengan biaya hidup, pekerjaan, perubahan iklim, dan kesehatan mental. Di Indonesia, hasil Program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026 menunjukkan sekitar 700 ribu anak memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi.
Krisis multidimensi yang melanda dunia menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kecemasan tersebut. Tekanan ekonomi, perubahan sosial, derasnya arus digital, dan ketidakpastian dunia kerja datang secara bersamaan sehingga melemahkan optimisme generasi muda. Kondisi ini diperparah oleh sistem sekuler kapitalistik yang menempatkan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan. Akibatnya, banyak pemuda kehilangan tujuan hidup, mudah membandingkan diri dengan orang lain, serta merasa gagal ketika tidak mampu memenuhi standar kesuksesan yang dibentuk masyarakat.
Di sisi lain, perhatian negara terhadap generasi muda juga belum optimal. Alih-alih memperoleh pembinaan dan perlindungan, mereka sering kali mendapat stigma negatif. Padahal, generasi muda memerlukan pendidikan yang membentuk kepribadian, lingkungan yang sehat, serta jaminan kebutuhan hidup agar mampu berkembang secara optimal.
Meski demikian, meningkatnya kecemasan dan sikap kritis Gen Z juga dapat menjadi peluang perubahan. Sebagian anak muda mulai menyadari perlunya mencari solusi yang lebih mendasar terhadap berbagai persoalan hidup. Mereka mulai membatasi penggunaan media sosial, membangun kebiasaan yang lebih sehat, serta mempertanyakan sistem yang belum mampu memberikan rasa aman dan harapan.
Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar persoalan. Islam mengajarkan bahwa ketenangan jiwa tidak bergantung pada harta, popularitas, maupun pencapaian dunia, melainkan pada keimanan kepada Allah Swt. Seorang muslim meyakini bahwa setiap rezeki, musibah, dan perjalanan hidup berada dalam ketetapan-Nya sehingga tidak larut dalam kecemasan terhadap hal-hal yang berada di luar kendalinya. Shalat, zikir, doa, membaca Al-Qur’an, dan tawakal bukan sekadar ibadah, tetapi juga menjadi sarana menenangkan hati, menguatkan mental, dan membangun harapan ketika menghadapi ujian hidup.
Namun, Islam tidak berhenti pada ibadah ritual dan pembinaan individu saja. Islam juga menghadirkan sistem kehidupan yang mampu mengurangi faktor-faktor penyebab depresi. Negara berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, menyediakan pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, membuka lapangan pekerjaan, serta menciptakan lingkungan yang saling peduli. Dengan demikian, tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan individualisme yang menjadi pemicu kecemasan dapat diminimalkan.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam mampu melahirkan generasi emas yang berkepribadian Islam sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan. Mereka memiliki tujuan hidup yang jelas, akhlak yang mulia, serta semangat berkarya untuk kemaslahatan umat. Karena itu, pemuda hari ini perlu kembali menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang diterapkan secara menyeluruh (kaffah) dalam seluruh aspek, termasuk politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial. Dengan penerapan Islam secara kaffah, fungsi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dapat terwujud sehingga mampu menghadirkan kehidupan yang adil, tenteram, dan menyejahterakan manusia. Dengan ketenangan yang lahir dari keimanan serta dukungan sistem Islam yang melayani masyarakat, depresi tidak hanya ditangani pada tingkat gejalanya, tetapi juga dicegah dengan menghilangkan akar penyebabnya. Dengan demikian, generasi muda dapat kembali menjadi agen perubahan yang mewujudkan masa depan yang gemilang, bukan sekadar memimpikannya.
