JAKARTA – Harga berbagai barang konsumsi diperkirakan mulai naik pada kuartal IV/2026 se­i­ring masuknya stok baru yang diproduksi de­ngan biaya logistik, energi, dan bahan baku ya­ng lebih ahal. Pelemahan nilai tukar rupiah ju­ga diperkirakan akan semakin menekan har­ga barang menjelang Natal, Tahun Baru, Imlek, hi­ngga Ramadan 2027 sehingga berpotensi me­nggerus daya beli masyarakat, terutama ke­lompok menengah bawah.

Ketua Umum Asosiasi Pe­ng­elola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja me­ng­atakan, pelaku ritel masih ber­ha­rap penjualan membaik pada ku­artal IV yang merupakan peak sea­son kedua setelah Ramadan dan Idulfitri.

Namun, momentum tersebut di­perkirakan juga akan diwarnai ke­naikan harga berbagai produk ka­rena peritel mulai menjual stok baru.

Menurutnya, stok barang ya­ng akan dipasarkan pada akhir ta­hun merupakan hasil produksi ke­tika biaya material, logistik, dan energi telah meningkat se­panjang kuartal II dan III.

Adapun, produk yang be­re­dar saat ini masih berasal dari per­sediaan lama sehingga ke­na­ikan harga belum terlalu terasa.

“Stok baru ini itu adalah hasil pro­duksi dari harga-harga material yang sudah naik di triwulan II dan triwulan III. Sekarang ini di tri­wulan II, triwulan III relatif harga masih naik, tapi belum signifikan karena itu adalah ba­rang-barang produk hasil stok ya­ng lama. Tapi nanti di triwulan IV hampir pasti harga akan naik. Ja­di saya kira itu yang harus di­an­tisipasi,” kata Alphonzus.

Dia menilai kelompok mas­yarakat berpendapatan menengah ba­wah akan menjadi yang paling terdampak apabila harga barang mulai meningkat karena daya beli hingga kini belum sepenuhnya pulih.

Alphonzus memperkirakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu kelompok produk, melainkan hampir seluruh kate­gori barang. Pasalnya, kenaikan biaya logistik, energi, dan bahan ba­ku memengaruhi seluruh rantai pro­duksi dan distribusi.

Lebih lanjut, dia me­nambah­kan kenaikan biaya logistik tidak hanya berdampak pada produk ma­kanan dan minuman, tetapi se­luruh kategori barang.

Selain itu, kenaikan biaya energi serta berbagai tantangan di dalam negeri turut mem­perbesar tekanan biaya yang di­ha­dapi pelaku usaha. Adapun, un­tuk mengantisipasi kondisi ter­sebut, APPBI meminta pe­me­rin­tah menjaga iklim usaha tetap kon­dusif dengan meminimalkan ber­bagai faktor yang dapat me­nambah beban dunia usaha.

Selain itu, Alphonzus menilai prio­ritas pemerintah pada se­mes­ter II/2026 seharusnya di­fo­kus­kan untuk menjaga daya beli mas­yarakat dibandingkan mem­be­rikan insentif langsung kepada pe­laku ritel.

Menurut dia, insentif kepada pe­laku ritel tidak akan efektif apa­bila masyarakat masih menahan kon­sumsi. “Kalau daya belinya meningkat, pasti belanja. Jadi saya kira lebih baik fokus ba­gai­mana meningkatkan daya beli. Ka­rena itu yang jauh lebih pen­ting menurut saya daripada in­sen­tif yang langsung ke retail. Di­berikan insentif, kalau enggak ada yang beli tidak ada gunanya,” tuturnya. Kekhawatiran APPBI ter­sebut sejalan dengan hasil Survei KonsumenBank Indonesia (BI) yang menunjukkan op­ti­mis­me masyarakat terus melemah. bisn/mb06