Perubahan zaman yang begitu pesat seakan menjadi signal bagi penghuni bumi ini agar mempersiapkan diri sejak dini dalam menyambut moderenisasi kehidupan. Namun pada kenyataannya, manusia kini terutama umat Islam banyak yang terhipnotis dan terlena oleh westernisasi dan gemerlap zaman globalisasi. Maka tidak jarang saat ini kita melihat pengangguran di sana-sini, kemiskinan merajalela, pengamen dan anak-anak terlantar berserakan di kota, dan beragam keterpurukan lainnya.
Permasalahnnya, ketika ditanya, sebagian besar mereka mengaku beragama Islam. Lalu, dimanakah letak akar permasalahan keterpurukan umat Islam tersebut?
Banyak faktor yang melandasi dan mendorong dekadensi kehidupan umat Islam di era moderen sekarang ini. Salah satunya adalah cara pandang umat Islam terhadap ajaran Islam itu sendiri yang seharusnya menjadi pedoman hidupnya. Yakni, ajaran yang menganjurkan umat Muslim untuk senantiasa ber-tawakal. Sayangnya, teramat banyak umat Islam yang belum mampu memahami dan menderivasikan tawakal secara menyeluruh. Kesalahan menafsirkan makna tawakal menjadikan banyak umat Islam yang kemudian berpangku tangan mengharapkan rezeki dari belas kasih orang lain.
Kebanyakan dari umat Islam yang condong mengutamakan pasrah sebagai bentuk tawakal mereka. Pasrah menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt tanpa ada upaya untuk menyelesaikannya. Misalnya, saat parkir kendaraan di manapun tanpa memberi kunci pengaman karena cukup pasrah akan kuasa Tuhan dalam menjaganya. Dan ketika kendaraannya hilang karena dicuri orang, maka takdir yang disalahkannya.
Kasus lainnya, ketika seorang hamba cukup berdiam diri untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah karena kesulitan mendapat pekerjaan. Dia pasrah kepada Allah yang Maha memberi dan mengharap diberi pekerjaan itu tanpa secuil upaya. Sudah barang tentu peluangnya mendapat pekerjaan sangat kecil bila dibandingkan dengan mereka yang rela belajar dan ikut pelatihan kewirausahaan. Karena secara tidak langsung, mereka yang memiliki skill telah membuka lapangan kerja untuk dirinya sendiri, bahkan juga orang lain.
Inilah yang harus digaris bawahi, jika tawakal dimaknai sebatas pasrah maka tidak ubahnya katak dalam tempurung yang diam menanti hujan, katak itu tidak akan pernah tahu ada tempat lain yang basah di sekitarnya. Pada akhirnya katak itu mati tanpa secuil upaya demi merubah dan menyongsong takdir dari Tuhannya.
Saatnya untuk merevisi pemahaman kita terhadap makna tawakal jika itu masih sebatas pengetahuan orang pada umumnya. Tawakal yang sesungguhnya akan menjadikan manusia senantiasa bekerja keras dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah Swt. Karena janji Allah yang akan merubah nasib siapapun pasti datang, sebagaimana firman-Nya, ”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d: 11).
Memaknai ayat tersebut, maka kita akan menemukan anjuran Allah Swt untuk bekerja keras dan tidak sekadar bergantung pada takdir dan doa. Allah dan Rasul-Nya sangat mengimbau umat manusia untuk mencari rezeki meskipun harus merantau ke negeri orang. Apabila upaya telah dilakukan dengan maksimal, maka langkah selanjutnya adalah doa yang ikhlas dan khusuk serta menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah swt.
Artinya tawakal itu bukanlah berarti kita meniadakan upaya, harus ada upaya nyata dalam menjaga barang kita, apabila bekerja harus ada usaha dalam mencapai hasil kerja yang terbaik, meski hasil dari semua itu hanya Allah lah yang menentukan.
Sekelompok semut saja harus bekerjasama mengangkat makanan cadangan untuk disimpan ketika menemukan makanan sejauh apapun tempatnya. Seekor merpati pun harus terbang lagi mencari makan walau tuan pemiliknya telah meletakkan makanan di depan kandangnya.
Urgensitas Memahami Tawakal
Rasulullah Saw sangat memotivasi umatnya untuk memiliki etos kerja tinggi dan tidak sekedar berharap pada doa, hal ini sebagaimana disampaikan dalam sebuah kisah dari Hadistnya. Suatu hari, seorang lelaki Badui datang ke masjid menunggangi kuda. Sesampainya di Masjid, ia menghadap Rasulullah Saw tanpa mengikat kudanya. Ketika ditanyakan hal itu kepadanya, lelaki itu berkata, ”Aku sudah bertawakal kepada Allah.” Atas hal ini, Rasulullah berkata, “Ikatlah kudamu, kemudian bertawakallah kamu kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Pesan penting dalam Hadist yang disampaikan Rasulullah Saw tersebut adalah untuk membuka pemahaman kita akan makna penting dari tawakal. Tawakal yang seharusnya mendasari segala aktivitas orang-orang beriman dan menjadi landasan bagi mereka yang senantiasa berserah diri kepada Allah SWT. Inilah salah satu ajakan Rasulullah Saw kepada umatnya untuk bertawakal hanya kepada pencipta kehidupan ini. Allah Swt telah berfirman dalam Alquran, yang artinya: ”…dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS Ibrahim: 11).
Permasalahannya, banyak di antara kita yang sering misunderstanding (salah persepsi) dalam menafsirkan dan mengaplikasikan bentuk tawakal tersebut. Banyak orang yang mengaku bertawakal kepada Allah SWT dalam setiap urusannya, tetapi mereka tidak atau belum melakukan usaha secara maksimal. Dan ketika terjadi kegagalan, mereka menyalahkan takdir atau ketentuan yang mereka terima dari Allah.
Banyak manusia yang condong mengutamakan pasrah tanpa usaha sebagai bentuk tawakal mereka. Mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt tanpa ada upaya untuk menyelesaikannya. Misalnya, seseorang yang memilik banyak hutang. Merasa dirinya sebagai hamba Allah, maka ia hanya berdzikir dan berdoa kepada Allah Swt dengan sepenuh hatinya untuk dapat membayar utangnya. Dia berharap karunia Allah secara tiba-tiba, ia selalu menanti rezeki turun dari langit atau paling tidak ada donatur yang mendatanginya. Sementara, dia tidak melakukan usaha untuk menyelesaikan dan melunasi hutangnya itu.
Tawakal bukan berarti meniadakan upaya, harus ada kerja nyata dan kesungguhan dalam mewujudkan impian. Tawakal yang tidak menjadikan seseorang berdiam diri dalam menunggu takdir. Tawakal menuntut kita untuk berupaya maksimal, sembari mengharap ridha Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, ”Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadamu, sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).
Anjuran untuk bekerja keras dan tidak sekadar bergantung pada doa, nampaknya benar-benar dibutuhkan pada zaman yang penuh tantangan sekarang ini. Rasulullah juga mengimbau kaum Muslim untuk mencari rezeki tanpa putus asa, dengan disertai doa demi melancarkan dan memudahkan rezekinya.
Demikianlah yang sebenarnya maksud tawakal, harus ada upaya nyata baru kemudian berserah kepada Allah atas apa pun hasilnya. Maka beruntunglah kita yang telah bertawakal seperti itu, karena Allah SWT telah berfirman, artinya: ”Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS ath-Thalaq: 3).
Meningkatkan Etos Kerja Agar Mulia
Fenomena yang umum kita jumpai di masyarakat sekarang ini terlebih-lebih umat Islam, diantaranya mereka banyak telah bekerja berpuluh-puluh tahun namun kondisi kehidupannya tiada berubah. Sebagian mereka merasa cukup dengan rezeki yang telah Allah berikan itu, tanpa ada upaya lagi demi mengangkat statusnya. Jika demikian, maka orang-orang tersebut tak ubahnya hewan peliharaan yang dimanfaatkan tenaganya dan hanya diberi makan secukupnya oleh sang majikan.
Berbahayanya lagi jika ini diterapkan di pemerintahan negara liberal seperti Indonesia, sudah pasti rakyat kecil yang mayoritas Muslim akan tertindas oleh pemimpin zalim seperti yang terjadi sekarang ini. Menerima apa adanya semua aturan negara yang otoriter dengan pemimpinnya yang juga hanya mementingkan perutnya sendiri, menjadikan rakyat kecil semakin terkotak dalam keterpurukan tanpa jalan keluar. Inilah yang mendoktrin rakyat agar tidak berani melakukan apapun meskipun sudah jelas para pemimpinnya curang dan munafik.
Semestinya, dengan memiliki etos kerja tinggi kita dapat menghadapi kehidupan dengan kesungguhan yang energik dalam mencari rezeki. Berteguh hati dan fikiran terbuka serta mengharapkan pertolongan-Nya merupakan obat mujarab dalam menghindari segala keraguan dalam hidup. Berikut Allah Subhanahu wa-ta’ala tegaskan dalam firman-Nya, yang artinya, ”Dan Katakanlah: ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).
Semoga seluruh umat Islam khususnya di Indonesia dapat segera bangkit dengan menggenggam sikap tawakal, bersama-sama rakyat Indonesia berjuang dan berupaya untuk kembali merajut kejayaan bangsa ini. Dengan tawakal yang benar, kita bangun etos kerja dalam diri generasi bangsa agar mampu mendelegasikan dirinya untuk menjadi pemimpin yang amanah. Sehingga, impian kita merasakan kesejahteraan rakyat Indonesia yang dipimpin oleh pemimpin yang hikmat dan bijaksana, dapat terwujud dalam kehidupan nyata. Semoga!
