BANJARBARU – Nelayan di Desa Aluh-Aluh Besar, Kabupaten Banjar kini diharapkan tidak perlu lagi melaut hingga 25-30 kilometer untuk mencari kepiting bakau setelah diperkenalkan teknologi budidaya Crab Box Apartments atau sistem “apartemen” kepiting berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS).

Inovasi yang diperkenalkan Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Achmad Yani Banjarmasin itu menjadi solusi atas keterbatasan habitat mangrove di kawasan Aluh-Aluh yang selama ini memaksa nelayan mencari kepiting hingga perairan Tabunganen dengan biaya operasional tinggi dan risiko kematian kepiting pascatangkap.

Ketua Pelaksana PKM 2026 Dr. Rina Iskandar melalui keterangan tertulis di Kota Banjarbaru, Kamis, mengatakan program yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kemenristekdikti Tahun Anggaran 2026 berdasarkan Kontrak Nomor: 214/C3/DT.05.00/PM/2026 dilaksanakan sejak April hingga Desember 2026 melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan teknologi kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ladung Jaya Setia.

Menurut Rina, teknologi Crab Box Apartments menerapkan konsep satu wadah satu ekor kepiting sehingga mampu mengurangi sifat kanibalisme, menjaga kualitas air dan mempercepat proses penggemukan hanya dalam waktu sekitar dua hingga tiga pekan.

“Program yang kami perkenalkan tidak hanya memperkenalkan teknologi budidaya, tetapi juga memperkuat kapasitas kelompok nelayan agar usaha mereka lebih produktif dan berkelanjutan,” ucapnya.

Koordinator aspek teknis Yulius Kisworo, S.Pi., M.Si. bersama Penyuluh Perikanan Lapangan Teguh Martadinata dan mahasiswa Faperta Uvaya melatih nelayan menerapkan sistem RAS sekaligus memanfaatkan pakan berbahan baku lokal untuk mempercepat pertumbuhan kepiting bakau.

Selain peningkatan teknologi budidaya, tim PKM juga memberikan pelatihan penguatan kelembagaan dan pengelolaan usaha. Di bawah koordinasi Dr. Rozzana Erziaty, S.P., M.P., CIFA., CIWP dari Universitas Islam Kalimantan MAB, anggota KUB Ladung Jaya Setia dibina menerapkan tata kelola organisasi berbasis syariah serta pencatatan keuangan sederhana agar lebih mandiri dan mampu memperluas akses kemitraan pasar.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, mengapresiasi inovasi budidaya kepiting sistem apartemen karena dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Kepala Desa Aluh Aluh Besar Harun menyatakan program memberikan manfaat langsung bagi nelayan karena menghadirkan alternatif budidaya kepiting tanpa harus bergantung pada hasil tangkapan dari lokasi yang jauh.

Melalui penerapan teknologi budidaya RAS dan penguatan kelembagaan kelompok, KUB Ladung Jaya Setia dipersiapkan menjadi percontohan budidaya kepiting bakau di Kalimantan Selatan, sekaligus diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. ant