JAKARTA – Harga ayam di level peternak anjlok bawah harga pokok produksi (HPP) yang di­te­tap­kan pemerintah.

Gabungan Organisasi Pe­ter­nak Ayam Nasional (OPAN) me­ngatakan saat ini harga ayam hi­dup di kandang peternak hanya be­rada di kisaran Rp14 ribu hi­ng­ga Rp15 ribu per kilogram (kg).

Sekretaris Jenderal GOPAN Sugeng Wahyudi men­ye­­but sngka tersebut jauh di bawah har­ga pokok produksi (HPP) yang men­capai sekitar Rp20 ribu per kg.

“Kemarin harga ayam hidup di kandang peternak di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per kg,” kata Sugeng.

Akibat kondisi tersebut, pe­ter­­nak rakyat kini harus me­na­nggung kerugian sekitar Rp5.000 per kg ayam yang dijual. Dengan biaya pokok produksi sekitar Rp20 ribu per kg dan harga jual han­ya Rp14 ribu hingga Rp15 ri­bu per kg, usaha peternakan ayam dinilai semakin tertekan.

Menurut Sugeng, harga ayam anjlok bukan disebabkan oleh tta kelola impor bahan baku pa­kan, tetapi karena pasokan ayam melimpah yang tidak di­im­bangi peningkatan permintaan.

“Memang hari ini, suplai pro­duksi ayam tidak diimbangi oleh peningkatan demand daging ayam. Yang terjadi kemudian, har­ga ayam hidup di kandang-kandang peternak tertekan,” ucapnya.

Kondisi anjloknya harga ayam seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sugeng mengatakan po­la serupa juga sempat terjadi pa­da periode yang sama tahun lalu ketika harga ayam hidup tu­run akibat kelebihan pasokan.

“Kejadian ini berulang, dan se­perti di tahun 2025, di bulan ya­ng sama waktu itu, harga ayam hidup juga mengalami pe­nu­run­an,” sebutnya.

Menurutnya, salah satu akar per­soalan harga ayam anjlok ada­lah masih dominannya pemasaran ayam hidup oleh plaku usaha be­sar ketimbang memasarkan ayam potong.

Sugeng menegaskan pelaku usaha dengan kapasitas produksi lebih dari 50 ribu ekor per minggu seharusnya telah memiliki rumah potong ayam, sebagaimana diatur da­lam Peraturan Menteri Per­ta­nian Nomor 10 Tahun 2024 ten­tang Penyediaan, Peredaran dan Pe­ngawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

“Sudah seharusnya pelaku-pelaku yang mempunyai kapa­si­tas produksi lebih dari 50 ribu per minggu untuk memasarkan bu­kan ayam hidup, tetapi harus mempunyai rumah potong ayam. Sesuai dengan Permentan 10/2024,” katanya.

Ia mengatakan saat ini hampir seluruh pelaku industri memiliki usa­ha budidaya ayam broiler. Se­mentara itu, pasar yang masih bertumpu pada penjualan ayam hidup membuat tekanan harga di tingkat peternak sulit dihindari.

“Saat ini hampir semua pe­la­ku di industri memiliki bu­di­daya ayam broiler, tanpa ter­ke­cu­ali. Sementara pasr yang di­an­dalkan pasar ayam hidup, yang ter­jadi kemudian harga rendah di ti­ngkat peternak tak ter­hin­dar­kan,” jelas dia.

Ia pun mendorong pe­me­rin­tah segera merealisasikan pr­o­g­ram hilirisasi yang selama ini di­jan­jikan. Implementasi hilirisasi da­pat dilakukan melalui BUMN pa­ngan Berdikari, agar pen­ye­rap­an ayam tidak lagi bergantung pada pasar ayam hidup.

“Hilirisasi seperti yang se­ring pemerintah janjikan, sudah sa­atnya untuk diim­ple­menta­si­kan, barang tentu melalui BUMN pangan yang dimiliki pe­me­rintah, Berdikari dalam hal ini,” terang dia. cnn/mb06