JAKARTA – Peternak ayam pedaging mengaku kon­disi harga saat ini sudah sangat mem­pri­ha­tinkan. Peternak dari Perhimpunan Peternak Rak­yat Mandiri Indonesia (Permindo), Asep Saepudin, menyebut harga ayam sudah me­ro­sot hingga ke angka Rp 13.000/kilogram (kg).

“Ini sudah jadi musibah bagi pe­ternak Rp15.000/kg. Di Jabar (Ja­wa Barat) sudah Rp13.000-Rp14.000/kg. Terburuk ini,” ujar Asep secara terpisah pada Sab­tu (27/6). Padahal, HPP di­se­but sudah naik ke Rp 22.000-23.000 per kilogram akibat me­ningkatnya biaya produksi.

Kementerian Pertanian (Ke­men­tan) merespons terkait an­jlok­nya harga ayam hidup di ting­kat peternak. Penurunan harga ter­jadi akibat pasokan yang lebih ti­nggi dibanding kemampuan se­rap pasar, sehingga harga di se­jumlah wilayah jatuh di bawah har­ga pokok produksi (HPP).

Direktur Perbibitan dan Pro­duksi Ternak Kementan, Hary Su­hada, mengatakan hasil pe­man­tauan menunjukkan kondisi pasar unggs saat ini memang se­dang tertekan.

Oleh karena itu, pemerintah me­ngambil sejumlah langkah untuk menahan penurunan harga le­bih dalam sekaligus menjaga ke­berlanjutan usaha perunggasan nasional. Salah satu langkah, yak­ni mendorong pelaku usaha untuk menyerap ayam hidup atau livebird langsung dari peternak.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan He­wan Kementan Nomor B-200/PK.230/F.2/06/2026 tentang Him­bauan Penyerapan Livebird di Tingkat Peternak dan Peng­en­dalian Produksi DOC FS Broiler.

“Langkah yang dilakukan pe­me­rintah bertujuan menjaga ke­se­­imbangan pasokan dan per­mintaan, mendorong perbaikan har­ga livebird di tingkat peternak, serta menjaga keberlanjutan usaha pe­runggasan nasional,” ujar Hary, Sabtu.

Hari menekankan, pe­lak­sanaan berbagai komitmen yang su­dah disepakati, perlu terus di­ka­wal dan dievaluasi agar berdampaknyata bagi perbaikan kon­disi perunggasan nasional.

Selain penyerapan livebird, Ke­mentan juga berupaya me­ngendalikan produksi day old chicken (DOC) final stock (FS) broiler. Menurut Hary, pe­ng­aturan ini penting agar rantai usa­ha perunggasan dari hulu hingga hilir berjalan lebih sehat dan ber­kelanjutan.

Hary menegaskan ke­ber­ha­silan menjaga stabilitas sektor pe­ru­nggasan tidak bisa hanya ber­gantung pada kebijakan pe­me­rintah. Dibutuhkan juga du­kungan dan komitmen seluruh pelaku usaha, termasuk inte­gra­tor, peternak, hingga pihak dis­tribusi.

Bagi Kementan, ketersediaan da­ta perunggasan yang akurat dan te­rintegrasi antara pemerintah pu­sat dan daerah juga penting. Data tersebut bisa menjadi fondasi utama dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi lapangan.

“Kami berharap terdapat data ya­ng sinkron antara pemerintah pu­sat dan daerah. Karena itu, kami membutuhkan keterlibatan aktif dinas-dinas terkait untuk bersama-sama menyusun me­ka­nisme dan langkah teknis dalam mem­peroleh data perunggasan ya­ng akurat,” ujar Hary. cnn/mb06