BANJARBARU – Berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan dari Januari hingga Mei 2026 telah terjadi sebanyak 106 kali bencana alam seperti banjir, puting beliung dan tanah longsor di Kalsel.
“Dari 106 kali bencana alam di Kalsel itu didominasi bencana angin ribut atau dikenal angin puting beliung sebanyak 80 kali,” kata Kabid Penanganan Bencana pada Dinas Sosial Provnsi Kalsel, H Achmadi, SSos di Banjarbaru, Selasa (16/6).
Menurut Madi (sapaan akrabnya) dari 80 kali bencana angin puting beliung di Kalsel hingga Mei 2026 ini, terbanyak terjadi di Kabupaten Banjar 24 kali, disusul 10 kali di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) masing-masing 11 kali.
Selain itu, masing-masing sebanyak tujuh kali di Kabupaten Barito Kuala (Batola) dan Kabupaten Tapin, lima kali di Kota Banjarmasin.
Kemudian, Kabupaten Tanah Laut (Tala) dan Kabupaten Kotabaru masing-masing empat kali, tiga kali di Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) serta masing-masing dua kali di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dan Kabupaten Balangan.
Madi menyebutkan, selama lima bulan tahun 2026 telah terjadi 21 kali bencana banjir terbanyak di Kabupaten Tapin dan Kabupaten HST masing-masing lima kali, disusul tiga kali di Kabupaten Tanah Laut.
Selanjutnya, dua kali di Kabupaten Balangan dan masing-masing satu kali di Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten HSS, Kabupaten HSU, Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Batola.
Sementara itu, telah terjadi lima kali bencana alam tanah longsor yakni empat kali di Kabupaten Banjar dan satu kali di Kabupaten Tapin.
Madi menyebutkan akibat bencana alam selama lima bulan tahun 2026 di Kalsel itu menyebabkan 80.248 kepala keluarga (KK) atau 243.196 jiwa terdampak.
Dari bencana alam tersebut, sebut Madi, korban terbanyak terdampak di Kabupaten Banjar mencapai 37.995 KK atau 107.627 jiwa, disusul Kabupaten HSU tercatat 14.326 KK atau 41.694 jiwa dan Kabupaten Batola 8.752 KK atau 25.491 jiwa.
Akibat bencana alam di Kalsel itu, lanjutnya, menyebabkan 85 buah rumah penduduk mengalami kerusakan barat, 158 rumah rusak ringan dan 45.48 rumah mengalami kerusakan ringan, terbanyak di Kabupaten HSU tercatat 13.086 buah.
Ketika ditanya asumsi kerugian akibat bencana alam selama lima bulan tahun 2026 itu, Madi menyebutkan asumsi sementara kerugian ditaksir mencapai Rp233,680 miliar.
Kerugian akibat bencana alam sekitar Rp233,680 miliar tersebut terbesar dialami Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sekitar Rp65,430 miliar, disusul Kabupaten Banjar sekitar Rp45,830 miliar dan Kabupaten Batola ditaksir Rp35,735 miliar.
Disamping itu, Kabupaten HST ditaksir Rp21,580 miliar, Kabupaten Tapin Rp20,945 miliar, Kabupaten HSS sekitar Rp17,395 miliar, Kabupaten Tala mencapai Rp9,135 miliar dan Kabupaten Balangan Rp9,645 miliar.
Kemudian, Kabupaten Tabalong Rp7 miliar, Kota Banjarbaru Rp390 juta, Kabupaten Kotabaru sekitar Rp350 juta dan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) Rp240 juta.
Dalam kesempatan itu, Madi mengingatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam banjir, tanah longsor dan angin puting beliung untuk meningkatkan kewaspadaan, guna mengurangi resiko akibat bencana itu. ani
