
Sayangilah bumi sebagaimana kita menyayangi diri sendiri. Sebab, hingga hari ini, bumi adalah satu-satunya rumah yang menyediakan syarat-syarat kehidupan secara lengkap dan murah bagi seluruh makhluk. Semua yang kita perlukan tersedia di dalamnya.
Dari hal-hal sederhana seperti sebutir padi, setetes air, dan sepotong kayu untuk tusuk gigi, hingga sumber daya yang bernilai tinggi seperti energi, logam, dan berbagai bahan kebutuhan industri modern. Alam telah menyediakan semuanya. Persoalannya bukan pada ketersediaan, melainkan pada kesediaan manusia untuk mengelola, menjaga, dan berbagi secara adil.
Karena itu, ancaman terbesar bagi bumi sesungguhnya ukanlah keterbatasan sumber daya, melainkan keserakahan manusia. Ketika alam dieksploitasi tanpa kendali, hutan ditebang tanpa perhitungan, sungai dicemari, dan udara dipenuhi polusi, daya dukung bumi perlahan melemah.
Jika suatu saat bumi tidak lagi mampu menopang kehidupan, maka pada titik itulah manusia menyaksikan bentuk kecil dari kiamat yang telah lama diperingatkan.
Lalu bagaimana menubuhkan rasa cinta kepada bumi?
Mungkin kita perlu merenung sejenak tentang hubungan kita dengannya. Bumi bukan sekadar hamparan tanah yang kita pijak. Ia adalah ibu pertiwi, tempat kita dilahirkan, dibesarkan, mencari penghidupan, dan menumpahkan keringat untuk menyusun peradaban. Bahkan Al-Qur’an mengingatkan bahwa dari bumilah manusia diciptakan, ke dalamnyalah manusia akan dikembalika, dan darinya pula manusia akan dibangkitkan kembali. Allah berfirman: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” (QS. Thaha [20]: 55).
Renungan semacam ini membawa kita pada suatu kesadaran yang lebih dalam, yakni kesadaran spiritual tentang alam. Dalam tradisi Islam, keadaran tersebut dapat ditemukan dalam tasawuf atau sufisme.
Sufisme tidak hanya mengajarkan hubungan intim antara manusia dan Tuhan, tetapi juga mengajarkan penghormatan terhadap seluruh ciptaan-Nya. Alam dipandang bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi sesuka hati, melainkan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus dihormati dan dirawat.
Dari sinilah lahir apa yang kini dikenal sebgai ecosufisme, yaitu pendekatan spiritual yang memadukan kesadaran ekologis dengan nilai-nilai tasawuf. Ecosufisme mengajak manusia melihat pepohonan, sungai, gunung, lautan, dan seluruh makhluk hidup sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang diciptakan Allah dengan tujuan dan hikmah tertentu. Merusak alam berarti merusak amanah Tuhan, sedangkan merawatnya merupakan bentuk ibadah dan ungkapn syukur atas karunia-Nya.
Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan semata-mata tindakan ekologis, melainkan juga laku spiritual. Menanam pohon, menghemat air, mengurangi sampah, dan menjaga kelestarian alam adalah bentuk penghambaan yang nyata. Sebab cinta kepada Tuhan seharusnya tercermin dalam sikap hormat terhadap segala sesuatu yang diciptakan-Nya.
Ketika spiritualitas bertemudengan kepedulian lingkungan, lahirlah manusia yang tidak hanya saleh dalam ibadah, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlangsungan bumi sebagai rumah bersama.
Dalam era modern, alam sering kali dipandang tidak lebih dari sekadar objek. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan keyakinan bahwa manusia adalah penguasa yang berhak menaklukkan dan mengendalikan alam sesuaikehendaknya.
Hubungan yang semula bersifat harmonis perlahan berubah menjadi hubungan yang eksploitatif. Alam dinilai berdasarkan manfaat ekonominya, bukan lagi pada nilai intrinsik yang melekat padanya sebagai ciptaan Tuhan.
Kecenderungan ini tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menemukan panorama alam yang indah, respons yang sering muncul adalah mengabadikannya melalui kera, lalu mengunggahnya ke media sosial. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, sering kali keindahan tersebut berhenti sebatas gambar dan konten.
Alam dinikmati sebagai objek visual, bukan sebagai sarana perenungan. Mata melihat keindahan, tetapi hati tidak selalu merasakan kekaguman yang mendalam. Jari-jari sibuk menekan tombol kamera, sementara jiwa luput menangkap pesan-pesan kebesaan Tuhan yang terpancar dari bentangan alam itu.
Padahal, dalam pandangan spiritual, setiap gunung yang menjulang, sungai yang mengalir, hutan yang menghijau, dan langit yang membentang bukan sekadar pemandangan. Semuanya adalah ayat-ayat Tuhan yang mengundang manusia untuk bertafakur. Alam tidak hanya layak dipotret, tetapi juga direnungi; tidak hanya dinikmati, tetapi juga dihormati.
Dari rasa kagum dan takzim itulah tumbuh kesadaran bahwa manusia bukan penguasa mutlak bumi, melainkan penjaga yang diberi amanah untuk merawatnya.
Ecosufisme mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak hanya ditemukan di masjid, musala, atau ruang-ruang zikir, tetapi juga pada kepedulian terhadap sungai yang tetap bersih, pohon yang tetap tumbuh, udara yang tetap segar, dan bumi yang tetap lestari.
Mencintai ciptaan-Nya adalah bagian dari mencintai-Nya. Karena itu, merawat alam bukan sekadar tindakan ekologis, melainkan juga bentuk ibadah dan penghambaan. Dari bumi kita berasal, di atas bumi kita menjalani kehidupan, dan kepada Allah kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana kita memperlakukannya.
Allah mengingatkan bahwa yang bertasbih dan memuji-Nya bukan hanya kit, tetapi seluruh ciptaan-Nya. Semua adalah kita, kita adalah semua, ketika sadar di hadapan-Nya, ternyata kita semua sebagai makhluk bersaudara. (*)

