
BANJARBARU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru melakukan penyuluhan mengenai Hantavirus di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Banjarbaru, Rabu (3/6).
Kegiatan ini ditujukan khusus kepada para petugas dan warga binaan Lapas, sebagai langkah proaktif dalam mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit di lingkungan Lapas.
Acara ini menghadirkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru dr Siti, sebagai narasumber utama. Turut hadir dalam kegiatan ini, Kepala Seksi (Kasi) Surveilens dan Imunisasi, serta Plt Kasi P2PM yang juga menjabat sebagai Kasi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinkes Banjarbaru.
dr Siti menyampaikan harapannya, agar edukasi ini tidak hanya menjadi sekadar formalitas, melainkan benar-benar menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan penyakit bagi para penghuni dan petugas Lapas.
Dalam sesi pemaparan materi, dr Siti membagikan beberapa fakta penting dan langkah kewaspadaan terkait Hantavirus.
Siti menjelaskan, Hantavirus bukan penyakit yang baru muncul, meskipun namanya mungkin belum terlalu populer di kalangan masyarakat umum. Meskipun jumlah kasus Hantavirus tidak terlalu banyak, masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Jika penderita mengalami gejala yang parah, tingkat kematian (fatality rate) akibat virus ini dapat mencapai 38%.
Hantavirus disebabkan oleh virus yang dibawa oleh hewan pengerat, khususnya tikus. Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan air liur, urine, atau feses tikus yang terinfeksi.
Berbeda dengan hewan penular rabies (seperti anjing atau kucing) yang biasanya tampak mengamuk atau sakit, tikus yang membawa Hantavirus justru tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali, sebut dr Siti.
“Hal ini membuat keberadaan virus sulit dideteksi secara kasatmata,” ujarnya.
Adapun gejala awal infeksi Hantavirus, seringkali menyerupai flu biasa. Namun, apabila berkembang menjadi kasus yang berat, penyakit ini dapat menyebabkan gagal napas hingga gagal ginjal.
“Saat melakukan kegiatan bersih-bersih, kami sangat menyarankan untuk selalu menggunakan masker dan sarung tangan. Selain itu, biasakan untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, serta pastikan makanan dan minuman selalu dalam keadaan tertutup rapat,” kata dr Siti.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, Dinkes Banjarbaru berharap upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular di masyarakat, khususnya di area padat populasi seperti Lapas, dapat semakin digalakkan.
Sesuai dengan prinsip kesehatan, mencegah terjadinya penyakit jauh lebih baik daripada harus mengobati saat kondisi sudah parah. ril/dio

