Mata Banua Online
Selasa, Mei 19, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Rupiah Lemah, Ancaman Kenaikan Harga Pangan

by Mata Banua
19 Mei 2026
in Ekonomi & Bisnis
0

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap do­lar Amerika Serikat mulai menguji ketahanan harga pa­ng­an nasional. Ketergantungan tinggi terhadap impor pa­ng­an membuat tekanan kurs berpotensi cepat me­ram­bat ke harga mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hi­ng­ga makanan olahan lainnya pada semester II/2026.

Nilai tukar rupiah yang saat ini me­nem­bus Rp17.706 per satu dolar AS men­jadi perhatian karena sejumlah kom­oditas pangan strategis Indonesia ma­sih bergantung pada impor.

Berita Lainnya

Jelang Idul Adha, Cabai hingga Migor Mahal

Jelang Idul Adha, Cabai hingga Migor Mahal

19 Mei 2026
Bank Kalsel Masuk Peringkat 2 BPD dengan Pengalaman Nasabah Terbaik

Bank Kalsel Masuk Peringkat 2 BPD dengan Pengalaman Nasabah Terbaik

19 Mei 2026

Peneliti dan Pengamat Ekonomi Cen­ter of Reform on Economics Eliza Mardian mengatakan pelemahan rupiah me­miliki dampak signifikan terhadap sek­tor pangan nasional. “Sebagian besar ko­moditas strategis masih bergantung pa­da impor baik untuk bahan baku, pa­ngan konsumsi, maupun input pro­duksi,” kata Eliza.

Menurut Eliza, ketergantungan im­por Indonesia terhadap sejumlah ko­mo­ditas pangan masih sangat tinggi. Gan­dum sepenuhnya impor, kedelai se­kitar 90% masih dipenuhi dari im­por.

Selain itu, bawang putih 95% im­por, gula sekitar 60%, serta daging sa­pi dan kerbau sekitar 54%. Kondisi pel­emahan rupiah ini otomatis me­ni­ng­katkan biaya impor karena mayoritas tran­saksi dilakukan menggunakan dolar AS. Pada akhirnya, peninkatan biaya im­por ini berisiko menimbulkan ke­na­ik­an harga pangan di dalam negeri.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pa­da komoditas mentah, tetapi juga pro­duk turunannya seperti mi instan, roti, ta­hu, tempe, dan makanan olahan la­innya.

Eliza menilai kondisi tersebut me­mun­culkan fenomena imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi ya­ng berasal dari pelemahan nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap ba­rang impor.

Menurut dia, transmisi pelemahan ru­piah ke harga pangan konsumen ber­la­ngsung berbeda pada tiap komoditas. Un­tuk gandum dan kedelai, dampaknya bi­sa terasa hanya dalam hitungan mi­ng­gu karena industri pengolahan lang­su­ng menghadapi kenaikan biaya bahan ba­ku. “Jadinya kenaikan harga bahan ba­ku langsung ditransmisikan ke ko­n­su­men dalam bentuk kenaikan harga pro­duk di tingkat konsumen,” katanya.

Tekanan tersebut dinilai lebih cepat terasa pada produk olahan dibanding bahan baku mentah karena terdapat efek be­rantai pada biaya produksi, energi, dis­tribusi, kemasan, dan logistik.

Lantas, bagaimana respons dunia usa­ha terkait dengan pelemahan rupiah dan dampaknya ke impor pangan?

Sekretaris Jenderal Himpunan Pe­ng­usaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira mengatakan pelemahan ru­piah memang belum bisa disebut krisis, te­tapi sudah menjadi alarm serius bagi pe­laku usaha.

“Yang paling dikhawatirkan bukan han­ya level kursnya, tetapi volatilitas dan ketidakpastian yang menyertainya,” ujar­nya. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper