
BANJARMASIN – Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin menggelar uji coba ujian Online Berbasis Mobile pertama di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Sebanyak 48 orang mahasiswa/mahasiswi Universitas Terbuka Banjarmasin mengikuti uji coba ujian dengan menggunakan handphone masing -masing.
Direktur Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin,Mochamad Priono, mengatakan UT memiliki perangkat ujian berbasis web yang dapat diakses melalui perangkat Android, seperti telepon pintar (HP) maupun tablet.
Tujuan utama pengembangan sistem ini adalah karena UT merupakan perguruan tinggi berbasis digital yang harus terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
“Pada akhirnya, orientasi kami adalah memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa, baik dari sisi kecepatan akses, kemudahan penggunaan, maupun aksesibilitas, sehingga mahasiswa dapat lebih mudah mengikuti seluruh proses pembelajaran di UT, termasuk pelaksanaan ujian,” ujar Priono disela uji coba Online Berbasis Mobile di Universitas Terbuka Banjarmasin,Senin (18/5).
Di sisi lain, ia juga tetap memperhatikan pengembangan kualitas akademik. Artinya, peningkatan kualitas soal ujian dan sistem evaluasi pembelajaran tetap menjadi perhatian utama.
Transformasi digital ini tidak mengurangi kualitas akademik, justru diharapkan dapat membuat proses ujian menjadi lebih tepat, fleksibel, dan menjangkau lebih luas.
Sebelumnya, pelaksanaan ujian berbasis komputer atau laboratorium memiliki keterbatasan ruang dan kapasitas.
Dalam satu kota misalnya, pelaksanaan ujian mungkin hanya dapat dilakukan di beberapa ruangan tertentu.
“Namun dengan sistem berbasis gadget seperti HP atau tablet, pelaksanaan ujian dapat dilakukan dengan cakupan yang lebih luas,” jelasnya.
Karena itu, mahasiswa kini memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengikuti ujian, baik dari sisi waktu, lokasi, maupun kemudahan akses, tentunya tetap sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.
Sementara,Nasrul Arifin sebagai Pengadministrasi Data menjelaskan inovasi ini sebenarnya bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam mengikuti ujian online di mana saja dan kapan saja. Namun, pelaksanaannya tetap dibatasi pada lokasi dan waktu yang telah ditentukan oleh pihak kampus.
Sebelumnya, mahasiswa terbatas oleh jumlah komputer yang disediakan kampus. Mahasiswa harus menyesuaikan jadwal dengan ketersediaan perangkat, sementara pihak kampus juga tidak memungkinkan menyediakan komputer sebanyak jumlah mahasiswa.
“Oleh karena itu, dikembangkan aplikasi ujian online berbasis mobile agar mahasiswa dapat menggunakan perangkat masing-masing, khususnya telepon genggam,” katanya.
Melalui sistem ini, mahasiswa nantinya dapat memilih sendiri lokasi dan tanggal ujian.
“Jika sebelumnya kampus hanya menyediakan, misalnya, lima tanggal ujian dengan kapasitas lima puluh komputer sehingga mahasiswa harus berebut jadwal, kini dengan penggunaan handphone pribadi, ujian dapat dilaksanakan di ruang kelas biasa menggunakan perangkat masing-masing,” tambahnya.
Hal ini membuat proses pemilihan jadwal menjadi lebih fleksibel dan mengurangi kepadatan peserta pada waktu tertentu.
“Saat ini aplikasi masih dalam tahap uji coba dan baru tersedia untuk perangkat Android. Namun ke depan, aplikasi juga akan dikembangkan untuk sistem iOS sehingga dapat digunakan oleh lebih banyak mahasiswa,”tegasnya.
Bahkan, perangkat dengan spesifikasi minimum seperti RAM 4 GB tetap dapat menjalankan aplikasi tersebut.
Terkait kebutuhan internet, mahasiswa nantinya diharapkan menyediakan kuota sendiri dengan kebutuhan minimal sekitar 500 MB per hari ujian.
Menurut penjelasan, jumlah tersebut tergolong ringan untuk kebutuhan lima sesi ujian dalam sehari.
Jika mahasiswa mengambil sekitar delapan hingga sepuluh mata kuliah per semester, maka keseluruhan kebutuhan kuota diperkirakan tidak terlalu besar, sekitar 1 GB untuk dua hari pelaksanaan ujian.
Pihak kampus juga menegaskan bahwa apabila nantinya terdapat kendala teknis, akan tetap disediakan ruang diskusi atau bantuan bagi mahasiswa agar pelaksanaan ujian dapat berjalan lancar.rds

