JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada April 2026 belum sepenuhnya membebani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebaliknya, lonjakan harga plastik justru menjadi sumber tekanan utama terhadap biaya produksi dan margin usaha.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman nilai dampak kenaikan BBM nonsubsidi terhadap UMKM relatif terbatas karena mayoritas pelaku usaha menggunakan energi bersubsidi. “Kalau yang BBM nonsubsidi kan hampir rata-rata UMKM dia menggunakan BBM-nya subsidi, baik itu yang solar subsidi, maupun yang Pertalite, dan juga LPG. Jadi saya pikir seharusnya untuk yang UMKM, kalau dalam konteks bahan bakar energi, BBM seharusnya tidak ada impak,” kata Maman.
“Sampai hari ini memang aspirasi yang masuk baru plastik. Jadi rata-rata teman-teman UMKM mengeluhkan mengenai masalah kenaikan harga plastik. Makanya segera kita tindak lanjuti,” ujarnya.
Hal ini mengingat lonjakan harga plastik terjadi seiring terganggunya pasokan bahan baku global, termasuk nafta, yang terdampak konflik geopolitik.
Dihubungi terpisah, Sekretais Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero menyebut, kenaikan BBM nonsubsidi memang tidak terlalu dirasakan pelaku UMKM. “Kalaupun ada kenaikan dalam BBM, khusus untuk yang nonsubsidi, impaknya masih tidak terlalu terbebani kepada pelaku UMKM. Karena secara umum pelaku UMKM menggunakan yang subsidi,” kata Edy.
Sebaliknya, dia menilai kenaikan harga plastik berdampak signifikan, terutama bagi pelaku usaha yang menjadikan plastik sebagai bahan baku utama.
Menurutnya, bagi UMKM yang menggunakan plastik sebagai kemasan, dampaknya masih dapat disiasati, misalnya dengan membebankan biaya tambahan kantong plastik kepada konsumen. Sementara itu, Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menilai kenaikan harga plastik berdampak besar karena hampir seluruh sektor usaha, mulai dari industri, ritel, hingga UMKM skala kecil dan menengah, bergantung pada bahan tersebut sehingga berpotensi meningkatkan biaya produksi.
Adapun, besarnya dampak terhadap struktur biaya UMKM juga bergantung pada jenis usaha.Pada sektor industri yang memproduksi dan mendistribusikan barang, kenaikan harga plastik menjadi komponen utama biaya produksi.
Sementara itu, bagi usaha perdagangan, lanjut dia, dampaknya cenderung lebih kecil karena plastik umumnya hanya digunakan sebagai kemasan.
Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai lonjakan harga plastik akan terasa signifikan bagi dunia usaha. Huda menjelaskan, komponen plastik dalam UMKM dapat mencapai 10%-15% dari harga pokok penjualan (HPP), mencakup berbagai sektor mulai dari laundry, makanan, hingga ritel.
Bahkan, industri makanan dan minuman disebut akan terdampak negatif, seiring kenaikan harga minyak goreng yang telah mencapai sekitar 5% dan berpotensi naik hingga 20% jika tidak terkendali. bisn/mb06

