Mata Banua Online
Selasa, April 28, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Sampah Jadi Berkah: Kisah Amaliyah Kurangi Limbah

by Mata Banua
28 April 2026
in Ekonomi & Bisnis
0
(foto:mb/web)

JAKARTA – Sampah yang selama ini dipandang sebagai masalah, diubah men­jadi peluang bernilai ekonomi ya­ng membawa dampak positif bagi ling­kungan dan sosial oleh seorang na­sa­bah Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar, Amaliyah.

Berawal dari usaha kue rumahan pa­da 2019, Amaliyah yang tinggal di Kam­pung Masigit, Desa Margagiri, Ke­camatan Bojonegara, Kabupaten eSrang, Banten, kini berperan me­ng­inisiasi pengolahan sampah yang ber­hasil memberikan nilai ekonomi dan ma­nfaat sosial bagi masyarakat.

Berita Lainnya

Minyak Goreng, Gula hingga Beras Makin Mahal

Minyak Goreng, Gula hingga Beras Makin Mahal

28 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

UMKM Keluhkan Biaya Admin e-Commerce

27 April 2026

Perjalanan Amaliyah melalui brand Amalia Kitchen mulai ber­kem­bang sejak mendapatkan pem­ber­da­yaan PNM Mekaar pada 2023. Selain tamb­ahan modal, ia juga mendapatkan pen­dampingan dan pembinaan yang men­dorong peningkatan kapasitas usa­hanya.

Seiring peningkatan produksi, mun­cul tantangan berupa penumpukan sam­pah, yang kemudian direspons de­­ngan langkah bijak melalui ini­si­a­si­nya untuk mengajak ibu-ibu lain melakukan pemilahan serupa. Sampah itu diolah menjadi berbagai produk, se­perti aromatheraphy hingga sofa ecobrick.

Inisiatif ini kemudian berkembang men­jadi Bank Sampah MATA (Masigit Asri Tanpa Sampah) ang me­libatkan masyarakat lokal. Terdapat 86 anggota bank sampah yang akan men­dapatkan nominal untuk setiap ki­logram sampah yang disetorkan.

Advertisement

Lebih dari sekadar usaha, Amaliyah juga menjadikan kegiatan ini sebagai ladang berbagi dengan men­yisihkan sebagian keuntungan untuk kaum duafa dan anak yatim.

“Saya tidak pernah menyangka, yang awalnya hanya ibu-ibu dasteran ya­ng ngumpulin sampah, kini bisa sam­pai jadi juara Mekaarpreneur. Alhamdulillah, dari kegiatan se­der­ha­na ini saya justru bisa berbagi dan mem­beri manfaat untuk orang lain,” tutur Amaliyah.

Sekretaris Perusahaan PNM, L. Do­dot Patria Ary menilai upaya Amaliyah itu sebagai gambaran nyata dari semangat yang ingin ditumbuhkan PNM.

“Dari hal sederhana, dapur rumahan, bisa lahir dampak yang luas, bu­kan hanya menguatkan ekonomi ke­luarga, tapi juga menghadirkan ke­pe­du­lian sosial dan menjaga lingkugan di sekitar,” ujar Dodot.

Dampak nyata dari Bank Sampah MATA kini dirasakan langsung oleh Kam­pung Masigit terkait pengelolaan sam­pah. Dari gunungan sampah men­capai 900 kg per bulan yang diberikan ke TPU sebelumnya, kini hanya men­jadi 400 kg setiap bulan.

Inisiatif ini turut membuka peluang eko­nomi baru bagi masyarakat sekitar. Dengan pemilahan sampah yang ter­kelola baik, Amaliyah dan Bank Sam­pah MATA telahmengubah sampah ya­ng semula adalah masalah menjadi sum­ber keberkahan yang bernilai man­faat langsung. cnn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper