JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mewaspadai potensi kenaikan harga beras dan gula, meskipun dampaknya saat ini masih relatif terbatas.
Hal ini seiring dengan lonjakan harga bahan baku plastik akibat gejolak geopolitik yang mulai merambat ke sektor pangan pokok. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan gangguan pasokan plastik telah dirasakan oleh pelaku usaha pangan, terutama yang menggunakan kemasan karungan seperti beras dan gula. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya rantai pasok global, termasuk dari kawasan Timur Tengah.
“Terkait plastik, itu sudah kami rapatkan juga, jadi kita sudah ketemu dengan teman-teman. Begitu ada isu plastik mengalami kekurangan pasok, kita sudah diskusi menghitung berapa sih dampaknya per kilo terhadap beras dan gula,” kat Ketut dalam keterangan tertulis, dikutip.
Berdasarkan masukan pelaku usaha, Ketut menuturkan kenaikan biaya kemasan akibat gangguan pasokan plastik berdampak langsung pada harga pangan, yakni sekitar Rp350 per kilogram untuk beras dan Rp150 per kilogram untuk gula.
Menurutnya, tambahan biaya tersebut cukup signifikan sehingga perlu diantisipasi agar tidak memicu kenaikan harga lebih lanjut di tingkat konsumen. Adapun, untuk mencegah dampak lebih luas,
Bapanas akan memperkuat koordinasi lintas kementerian guna memastikan pasokan plastik tetap terjaga. “Kita harus diskusi mendalam karena kalau tidak, harga akan bisa agak sedikit terkoreksi. Kami juga merencanakan rapat besar, artinya dengan kementerian lembaga terkait, untuk mencarikan solusi, karena pengaruh Rp350 memang terasa kecil, tapi berdampak karena per kilonya jadi naik,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pasokan bahan baku plastik berupa nafta dari sejumlah negara alternatif seperti India, Afrika, hingga Amerika Serikat (AS) saat ini masih dalam proses pengiriman menuju Indonesia.
Untuk diketahui, nafta merupakan salah satu bahan baku utama dalam industri petrokimia yang dihasilkan dari pengolahan minyak bumi dan digunakan untuk memproduksi berbagai produk turunan, seperti plastik, karet sintetis, hingga bahan kimia lainnya.
“Harga plastik [mahal] itu kan pertama karena mbas perang di Timur Tengah. Kita impor nafta untuk bahan baku plastik dari Timur Tengah, tetapi kita sudah dapat alternatif dari India, Afrika, dan Amerika,” kata Budi.
Meski demikian, dia berharap upaya diversifikasi pasokan nafta tersebut dapat menjaga keberlangsungan industri dalam negeri di tengah tekanan global.
Di saat yang sama, pemerintah juga mulai menjajaki penggunaan LPG sebagai alternatif pengganti nafta dengan mencari sumber pasokan dari kawasan Eurasia, termasuk negara-negara di sekitar Rusia.
“Kita sudah mencoba melakukan pendekatan. Dan mudah-mudahan segera selesailah krisis ini ya. Jadi mudah-mudahan plastik juga segera turun, karena kan nanti bisa dampaknya ke yang lain, kan banyak produk yang dibungkus plastik. Jadi mudah-mudahan cepat selesai,” pungkasnya. bisn/mb06

