JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memutuskan menaikkan harga sejumlah BBM yang mereka jual mulai Sabtu 18 April ini buntut perang AS-Israel lawan Iran yang sudah membakar harga minyak.
Mengutip situs mypertamina.id, sejumlah harga BBM yang mereka jual melesat tajam imbas kebijakan tersebut.
Harga pertamax turbo melesat dari yang 1 Maret atau saat terakhir Pertamina mengubah kebijakan harga BBM Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter.
Untuk dextlite, harga melesat dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter serta Pertamina Dex yang naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Meski demikian, Pertamina memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi. BBM jenis pertalite sampai saat ini masih dibanderol di harga Rp10 ribu per liter.
Pun begitu dengan BBM jenis solar. Pertamina masih mempertahankan harga solar di Rp6.800 per liter. Pertamina juga masih mempertahankan harga pertamax di level Rp12.300 per liter.
Diketahui, Pertamina memastikan setiap keputusan terkait harga BBM nonsubsidi akan dilakukan secara hati-hati, juga mempertimbangkan kondisi ekonomi serta daya beli masyarakat.
Walaupun demikian, penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebenarnya mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar Yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan/atau Pengisian Bahan Bakar Nelayan.
Di sisi lain, Perseroan itu memutuskan tak menaikkan harga BBM subsidi meski harga minyak dunia sudah menyentuh US$100 per barel. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Padahal, di tengah perang Timur Tengah yang tak kunjung reda, berbagai negara sudah menaikkan harga BBM yang mengikuti mekanisme pasar dan membatasi pembeliannya.
Beberapa negara yang menaikkan BBM buntut perang Iran vs Israel-AS di antaranya adalah Singapura, Malaysia, Vietnam, Australia, Jepang dan Korea Selatan.
Kemudian, di negara-negara Asia Selatan tekanan pasokan energi dianggap lebih berat, yakni Pakistan dan Bangladesh menghadapi keterbatasan fiskal serta cadangan energi yang lebih tipis. cnn/mb06

