
BANJARMASIN – Upaya mengangkat marwah produk lokal sekaligus menyelesaikan persoalan kota tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, hal ini kembali ditegaskan Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR disela membuka kegiatan sosialisasi Lomba Desain Motif Sasirangan 2026 menyambut hari Kota Banjarmasin ke 500 tahun, yang digelar di Rumah Kemasan Banjarmasin.
Kegiatan itu melibatkan pelaku IKM, Dekranasda, serta jajaran SKPD terkait. Pemerintah Kota Banjarmasin mulai mengaitkan penguatan ekonomi kreatif dengan pembenahan lingkungan. Wali Kota Yamin, secara terbuka menyoroti peluang yang selama ini belum dimaksimalkan.
“Selama ini urusan kepabeanan kita lebih banyak bergantung dari luar daerah. Padahal, kalau ini kita kelola sendiri, dampaknya bisa langsung ke peningkatan pendapatan daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan, sebagai kota perdagangan dan jasa tanpa sumber daya alam, Banjarmasin dituntut mengandalkan kreativitas dan inovasi agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan.
Namun di balik peluang tersebut, Yamin tidak menutup mata terhadap persoalan mendasar yang masih berulang, yakni sampah. Ia menilai pola penanganan selama ini masih terlalu fokus di hilir. “Masalahnya bukan sekadar pengangkutan. Kita harus mulai dari sumbernya, dari rumah tangga. Kalau tidak, pagi dibersihkan, sore menumpuk lagi,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, koordinasi lintas instansi telah dilakukan untuk mendorong pengelolaan dari hulu hingga hilir, termasuk upaya pengurangan volume sampah dan pemilahan sejak awal.
Sebagai langkah konkret, pemerintah tengah mengusulkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi. Menurutnya, jika dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup terealisasi, maka persoalan sampah dapat ditekan secara signifikan. “Kalau sistem ini berjalan, tidak ada lagi alasan sampah menumpuk di pinggir jalan. Tapi tetap, pemilahan dan pengeringan sampah harus disiplin dilakukan masyarakat karena itu menentukan hasil energi,” jelasnya. Ia juga mengajak seluruh pihak, termasuk Dekranasda, untuk ikut mengedukasi masyarakat mengurangi produksi sampah.
Di sisi lain, Plt. Kepala Disperdagin Banjarmasin, Noosyahdi, dalam penuturannya memandang ajang ini sebagai momentum strategis untuk mendorong sasirangan naik kelas. Ia menjelaskan, lomba tahun ini tidak hanya diikuti pemula, tetapi juga mempertemukan para senior di bidangnya termasuk para pemenang lomba satu dekade terakhir dalam kategori “best of the best”.
“Kita ingin melahirkan motif yang benar-benar merepresentasikan 500 tahun Kota Banjarmasin dan bisa diterima pasar luas, bahkan sampai ekspor,” katanya.
Ia menambahkan, komunikasi dengan Bea Cukai mulai dibangun untuk membuka akses ekspor yang selama ini dianggap rumit oleh pelaku usaha.
Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Neli Listriani menegaskan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan strategi membangun identitas daerah. “Motif yang terpilih akan digunakan oleh kepala daerah hingga ASN. Ini bentuk nyata bahwa karya lokal menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya. Dengan sekitar 50 peserta kategori reguler dan 15 peserta kategori terbaik, ia optimis kualitas desain akan semakin meningkat dan mampu menembus pasar nasional hingga global.
Dengan melihat kondisi tersebut, peluang besar terbuka, tentu dukungan pemerintah serta kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memperkuat identitas budaya, dan membantu akses ekspor pasar global bagi pelaku IKM.
Kegiatan turut dihadiri oleh Wali Kota Banjarmasin, Plt. Kepala Disperdagin, Ketua Dekranasda, perwakilan Bea Cukai, pelaku IKM sasirangan, serta jajaran SKPD terkait.
Lewat pelaksanaan lomba ini, pemerintah ingin agar motif Sasirangan tidak dipandang sekadar instrumen kompetisi, tetapi simbol arah baru Banjarmasin yaitu kota yang bertumpu pada kreativitas, kolaborasi, dan kesadaran lingkungan.via/ rds

