Mata Banua Online
Kamis, April 23, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Serapan Tenaga Kerja Loyo, Apindo Dorong Investasi Padat Karya

by Mata Banua
7 Oktober 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\Oktober 2025\8 Oktober 2025\7\7\Foto Berita 3.jpg
Karyawan beraktivitas di salah satu pabrik di Jawa Barat.(Foto:mb/ bis)

JAKARTA – Asosiasi Peng­usaha Indonesia alias Apindo men­dorong agar pemerintah mem­perluas cakupan insentif sek­tor-sektor padat karya di tengah se­ma­kin rendahnya rasio pen­ye­rap­an kerja dengan realisasi in­ves­tasi.

Analis Kebijakan Ekonomi Apin­do Ajib Hamdani me­ng­a­ta­kan bahwa investasi beberapa ta­hun terakhir cenderung lebih ban­yak masuk ke sektor padat modal da­ripada padat karya sehingga. Aki­batnya, efek penggandanya ter­hadap penciptaan lapangan ker­ja tidak terlalu terasa.

Berita Lainnya

Harga Emas Antam Amblas Rp50 Ribu

Harga Emas Antam Amblas Rp50 Ribu

22 April 2026
Siap-siap Harga Minyakita Naik

Siap-siap Harga Minyakita Naik

22 April 2026

“Pemerintah bisa lebih men­do­rong dengan memberikan in­sen­tif terhadap sektor-sektor yang pa­dat karya, termasuk ma­nu­fak­tur, pertanian, konstruksi, pe­ri­kan­an dan jasa,” ujar Ajib kepada Bisnis, Senin (6/10).

Adapun pemerintah sudah me­ngumumkan insentif ke se­jum­lah sektor padat karya pada akhir 2025. Misalnya, Pajak Pe­ng­ha­sil­an (PPh) 21 Ditanggung Pe­me­rintah (DTP) untuk pekerja di sek­tor terkait pariwisata sebanyak 552.000 pekerja hingga insentif pa­dat karya tunai (cash for work) K­e­menhub dan Kementerian PU u­n­tuk 609.465 orang.

Hanya saja, Ajib mendorong per­luasan insentif ke lebih banyak sek­tor padat karya. Bahkan, me­nu­rutnya, insentif tak boleh hanya da­ri sisi fiskal namun juga mo­ne­ter. “Bauran insentif fiskal dan mo­neter masih sangat di­bu­tuh­kan, misalnya pajak Ditanggung Pe­me­rintah [DTP] dan juga tarif bunga khusus yang kompetitif,” je­lasnya.

Penyerapan Tenaga Kerja Loyo, Investasi Gagal Kurangi Pe­ng­angguran? Investasi Jumbo Da­nantara Dinilai Jadi Katalis Pe­ng­uatan Ekonomi Nasional Dia me­ngingatkan investasi menjadi kom­ponen yang semakin penting da­lam pembentuk produk do­mes­tik bruto (PDB) beberapa waktu te­rakhir. Ajib mencontohkan, pa­da kuartal II/2025 investasi (6,99%) tumbuh lebih tinggi da­ri­pada PDB (5,12%).

Kendati demikian, sam­bu­ng­nya, lapangan kerja malah me­ng­alami pelambatan dalam se­ra­pan­nya. Penyerapan Tenaga Kerja Rendah Klaim pemerintah ten­tang kenaikan kinerja investasi ru­panya tidak sebanding dengan ke­cepatan penyerapan tenaga ker­ja.

Hal itu ditunjukkan oleh se­ma­kin lemahnya rasio penyerapan te­na­ga kerja terhadap realisasi in­ves­tasi. Berdasarkan data Ke­men­terian Investasi dan Hilirisasi/Ba­dan Koordinasi Penanaman Mo­dal (BKPM), realisasi investasi men­capai Rp942,9 triliun pada se­mester I/2025.\

Dari realisasi investasi itu, pen­yerapan tenaga kerjanya men­capai 1.259.868 orang. Dengan de­mikian, setiap 1 tenaga kerja ter­serap memerlukan investasi se­kitar Rp748 juta. Apabila di­ban­di­ngkan dengan periode yang sa­ma tahun lalu atau pada semester I/2024, realisasi in­ves­tasi ‘han­ya’ mencapai Rp829,9 tri­liun (le­bih rendah Rp113 tri­li­un atau se­ta­ra 13,6% di­ban­di­ng­kan re­a­li­sa­si tahun ini).

Kendati demikian, pen­ye­rap­an tenaga kerjanya mencapai 1.225.042 orang. Dengan de­mi­kian, setiap 1 orang tenaga kerja ter­serap ‘hanya’ memerlukan in­ves­tasi sekitar Rp677 juta. Ar­tinya, terjadi penurunan rasio pen­yerapan tenaga kerja terhadap rea­lisasi investasi: serapan tenaga ker­ja malah memburuk ketika ni­lai investasi langsung tumbuh po­sitif.

Deputi Bidang Promosi Pe­na­naman Modal Kementerian In­ves­tasi dan Hilirisasi/BKPM Nurul Ichwan menilai ke­cen­de­ru­ngan tersebut memang men­jadi per­soalan tersendiri yang menjadi so­rotan pemerintah. Me­nu­rut­nya, investasi tidak hanya bisa di­lihat dari dua sisi yaitu rea­li­sa­si­nya sekaligus la­pa­ngan pe­ker­ja­an yang terbuka ka­renanya.

“Fakta yang harus kita coba ga­li lebih lanjut adalah kenapa ni­lai investasinya semakin besar, te­tapi jumlah tenaga kerja yang di­serapnya itu lebih kecil, kalau pun tidak stagnan,” ujar Ichwan da­lam Forum Investasi Nasional 2025, seperti yang diunggah In­sta­gram @bkpm_id. bis/rds

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper