Mata Banua Online
Kamis, April 23, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Harga Beras Khusus Dinilai Tidak Wajar

by Mata Banua
21 September 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\September 2025\22 September 2025\7\7\master 7.jpg
BERAS KHUSUS – Setelah kasus beras premium oplosan, kini beberapa perusahaan yang semula banyak memproduksi beras premium mengalihkan ke beras khusus dengan harga mencapai Rp 100 ribu lebih setiap kemasan 5 kg. Dalam kemasan beras khusus tersebut, selain mencantumkan tanda beras khusus, juga tertera beras mengandung zinc dan beberapa vitamin.(Foto: mb/ist)

JAKARTA – Pengamat pertanian dari Cen­ter of Reform on Economic (Core) In­do­ne­sia, Eliza Mardian, menilai perlu adanya eva­luasi menyeluruh terhadap struktur biaya be­ras khusus untuk memastikan tidak terjadi di­storsi pasar.

Menurut Eliza, konsumen berhak men­dapatkan harga yang wajar sehingga di­per­lu­kan evaluasi terhadap struktur biaya beras khu­sus. Terlebih, lanjut dia, beras me­ru­pa­kan produk pangan pokok.

Berita Lainnya

Harga Emas Antam Amblas Rp50 Ribu

Harga Emas Antam Amblas Rp50 Ribu

22 April 2026
Siap-siap Harga Minyakita Naik

Siap-siap Harga Minyakita Naik

22 April 2026

“Beras khusus ini kan segmennya niche mar­ket, di mana prinsip supply-demand se­ha­rusnya berlku bebas. Tapi kalau harga di­ra­sa tidak wajar, markup-nya berlebih, ini perlu ada transparansi dari sisi cost struc­ture,” kata Eliza.

Eliza menilai, perlu adanya transparansi ter­hadap struktur harga beras khusus, mulai da­ri biaya produksi, biaya distribusi, margin dis­tribusi, hingga biya operasional ritel.

Berdasarkan kalkulasinya, biaya pro­duksi beras khusus paling tinggi hanya se­ki­tar 10-15% lebih mahal dari beras reguler. Na­mun di pasar, selisih harga bisa mencapai 50% atau lebih.

“Setelah di-packing menarik dan di­be­ri­kan brand tertentu harga jualnya 50% lebih ma­hal, itu sinyal distorsi pasar yang perlu di­ko­reksi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eliza menyebut, dorongan un­tuk mengevaluasi struktur biaya bukan be­rarti intervensi berlebihan dari negara. Me­nurut dia, evaluasi justru merupakan in­stru­men penting dalm memastikan pasar berj­alan transparan dan adil, terutama jika men­yangkut komoditas pangan pokok se­per­ti beras. “Pemerintah di banyak negara te­tap campur tangan untuk cegah distorsi, mes­ki swasta punya kebebasan besar me­ne­tapkan harga,” tuturnya.

Eliza menambahkan, pasar beras khu­sus di Indonesia belum sepenuhnya ter­ba­ng­un secara efisien dan masih minim trans­paransi. Padahal, lanjut dia, di sejumlah ne­gara seperti Thailand dan Vietnam, re­gu­lasi telah mendorong keterbukaan in­for­ma­si, bakan tanpa menetapkan Harga Ecer­an Tertinggi (HET).

Dia menuturkan, Thailand tidak mem­batasi harga dengan ketat, melainkan me­ne­kankan kejujuran informasi agar ko­n­su­men bisa membuat keputusan rasional. Di sisi lain, sambung dia, Vietnam justru me­wajibkan keterbukaan harga dari hulu ke hi­lir untuk mencegah manipulasi dan men­ja­min keadilan. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper