Mata Banua Online
Jumat, Januari 23, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

RI Putar Otak Diversifikasi Pasar

by Mata Banua
18 Februari 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\Februari 2025\19 Februari 2025\7\7\foto Berita 7.jpg
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah.(foto;mb/bis)

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan melakukan diversifikasi pasar dalam menghadapi ketegangan perang dagang AS—China. Kemendag) akan melakukan diversifikasi pasar dalam menghadapi ketegangan perang dagang AS—China.

Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BKPerdag) Kemendag Rusmin Amin menyebut bahwa Indonesia perlu mencari diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan China.

Berita Lainnya

G:\2026\Januari\23 Januari 2026\7\7\master 7.jpg

Cetak Rekor Lagi, Emas Antam Nyaris Rp2,8 Juta

22 Januari 2026
G:\2026\Januari\23 Januari 2026\7\7\hal 7 - 2 klm (Bawah).jpg

Harga Beras-Cabai Turun, Telur Naik Lagi

22 Januari 2026

“Strategi diversifikasi pasar dan memperkuat hubungan regional menjadi kunci dalam menghadapi dampak ketegangan ini,” kata Rusmin kepada Bisnis, Senin (17/2).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China masih menjadi tujuan utama impor Indonesia pada Januari 2025. China menjadi negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari 2025, yakni senilai US$6,34 miliar atau dengan pangsa pasar sebesar 40,86%.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), nilai impor nonmigas dari China mengalami kenaikan. Pada Januari 2024, nilai impornya hanya US$5,95 miliar. Namun jika dibandingkan bulan sebelumnya nilai impornya turun atau pernah mencapai US$7,29 miliar pada Desember 2024.

“Jika hal ini terbukti, maka perlu langkah antisipatif agar hal ini tidak berdampak pada industri domestik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rusmin menyebut, adanya potensi perubahan dalam rantai pasok global, maka Indonesia harus meraih kesempatan dan peluang agar menjadi bagian dari basis produksi bagi produk-produk ekspor China di wilayah Asia.

“Indonesia dapat fokus untuk menarik investasi dalam sektor manufaktur dan teknologi,” ungkapnya.

Kendati demikian, dia mengungkap bahwa ketegangan perang dagang AS vs China dapat menyebabkan fragmentasi perdagangan global yang mungkin tidak selalu menguntungkan bagi Indonesia.

“Untuk itu Indonesia tetap harus cermat dalam melihat peluang pasar agar tidak dijadikan pengalihan pasar dari kedua negara tersebut,” jelasnya.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif tambahan 25% untuk impor dari Kanada dan Meksiko. AS juga mengenakan tarif tambahan 10% untuk impor dari China dalam perang dagang.

Mengutip lembar fakta dari Gedung Putih, Selasa (18/2/2025), Trump berkomitmen untuk memastikan kebijakan perdagangan AS melayani kepentingan nasional. Dalam Memorandum Presiden tentang Kebijakan Perdagangan Pertama Amerika, Trump menyatakan bahwa kebijakan perdagangan adalah komponen penting dalam keamanan nasional.bis/rds

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper