
DALAM era globalisasi dan kemajuan teknologi, sangat dibutuhkan adanya seseorang pemimpin yang baik, jujur, bertanggung jawab, adil, bijaksana dan mampu menjalankan tugasnya. Pemimpin adalah merupakan symbol nyata dari suatu kekuasaan, sukses dan tidaknya sebuah organisasi dalam mencapai tujuan sebagian besar ditentukan oleh kemampuan kepemimpinan.
Pemimpin merupakan figure sentral yang menentukan dinamika organisasi, menjadi panutan bagi karyawan dan bawahannya. Tapi sangat disayangkan sekarang ini masih ada sebagian besar seorang pemimpin menggunakan kekuasaannya untuk menzalimi karyawan/ bawahannya, Contoh pemimpin tidak memberikan atau tidak menyetujui yang seharusnya merupakan hak dari karyawan, padahal karyawan/bawahan sudah melaksanakan kewajiban yang seharusnya dikerjakan dalam organisasi.
Secara teori, pemimpin mempunyai kekuasaan dan karyawan/bawahan sebagai pelaksana organisasi, hal ini memang betul tapi bagi pemimpin yang zalim, tidak melihat bagaimana keadaan karyawan/ bawahannya dengan semaunya memerintah tanpa sesuai dengan peraturan yang ada. Bahkan karena kekuasaan lupa akan takdirnya sebagai manusia dunia ini, dan karena kekuasaan lupa akan keberadan Allah SWT yang selalu melihat perbuatan dan perilaku manusia. Sesama manusia, kita harus saling hormat menghormati, saling membantu dan tenggang rasa, tanpa membedakan satu dan yang lain. Begitu juga seorang pemimpin, tidak membedakan karyawan satu dengan yang lain (ada karyawan yang dianak emaskan) dalam artan semua karyawan diperlakukan sama.
Perbuatan Zalim mengandung unsur antara lain :meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya dengan sengaja, menyimpang dari kebenaran kepada kebatilan, pengelolaan terhadap milik pihak lain dengan sesuka hati, dan menahan hak pihak lain. Orang yang berbuat kezaliman dapat diklasifikasikan kepada tiga bentuk:
pertama, kezaliman yang dilakukan terhadap diri sendiri. Kedua , kezaliman terhadap orang lain dan ketiga puncak dari kezaliman yaitu menyekutukan Alllah SWT. Orang-orang yang menyiksa dirinya dengan narkoba dan merokok, bunuh diri, misalnya termasuk dalam kelompok pertama yang menzalimi diri sendiri.Sementara mengambil dan atau menahan hak orang lain juga termasuk dalam kezaliman terhadap orang lain. Adapun menyekutukan Allah SWT termasuk dalam kezaliman yang sangat besar.
Kezaliman yang dilakukan seorang pemimpin dapat disebabkan banyak factor, antara lain obsesi kekuasaan dan kesempatan. Seorang pemimpin yang memiliki obsesi tertentu dalam kekuasaaannya cenderung berbuat otoriter, kejam dan aniaya terhadap orang lain, apalagi yang berseberangan dengannya. Dorongan nafsu ini menjadikan ia orang yang gelap mata dan mehalalkan segala cara seperti membunuh, menyiksa dan menangkap orang-orang yang dianggapnya dapat menghalangi atau mengancam kekuasaaannya. Ditambah lagi dengan kesempatan yang terbuka dihadapannnya membuat ia terpacu untuk merealisasikan keinginannnya sekalipun dengan menzalimi hak-hak orang lain.
Betapa banyak misalnya, rakyat yang mati terbunuh dengan mengenaskan ketika seorang raja berobsesi untuk mendirikan bangunan monumental untuk mengenang jasa-jasanya di kemudian hari. Hal ini dapat kita baca dalam sejarah pembangunan pyramd, Colosium, cand-candi, jembatan dan jalan tertentu untuk menghubungkan satu kota dengan kota lain, menelan banyak korban jiwa dari rakyat jelata. Oleh karena itu Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan ajarannya bersifat “rahmat bagi seru sekalian alam” telah menjelaskan hak dan kewajiban yang diemban masing-msing pihak baik pemimpin maupun rakyat yang dipimpin.
Dewasa ini kita sangat merindukan kehadiran pemimpin yang adil. Pemimpin yang memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang perkataannya sesuai dengan perbuatannya, dan perbuatannya sesuai dengan perkataannya. Pemimpin adil dipuji bukan hanya oleh manusia, akan tetapi oleh Allah SWT dan diposisikan ditempat yang sangat mulia. Para pemimpin agar tidak belaku zalim kepada rakyat yang dipimpinnya.
Namun demikian, bertindak sewenang-wenang dan aniaya sulit dipisahkan dari seorang penguasa. Sebab, ia memiliki kekuasaan, kesempatan dan fasilitas untuk berbuat sesuka hatinya tanpa harus memperdulikan orang lain.
Ketika seorang pemimpin diberikan amanah untuk mengurusi hajat hidup orang banyak, maka sikap adil dan tidak berlaku zalim merupakan suatu sikap yang wajib melekat pada dirinya. Sebab, semakin banyak anggota masyarakat yang dipimpin, maka semakin banyak tuntutan dan hajat mereka terhadap pemimpin tersebut.
Disisi lain, semakin terbuka lebar peluang untuk berlaku zalim karena tidak memperdulikan nasib sebagian mereka.Sampai-sampai Rasulullah saw berpesan kepada umatnya agar berlindung kepada Allah SWT dari pemimpin yang zalim.
Hal ini paling tidak mengindikasikan sulitnya mencari pemimpin yang berlaku adil kepada masyarakatnya dan banyaknya pemimpin yang berlaku zlim.
Sikap kasih sayang dan tidak sewenang-wenang adalah sifat arrahman Allah SWT. Allah mampu untuk menghukum setiap makhlukNya yang berdosa seketika. Namun Allah mengakhirkannya agar mereka sempat bertaubat.Pemimpin yang bersifat aniaya, kejam, dan bengis jauh dari Allah SWT dan jauh dari sifat-Nya yang Maha Terpuji. Oleh karena itu, sangatlah urgen untuk diketahui karakter pemimpin zalim agar dapat menolaknya atau menghindarinya.
Berikut ini beberapa karakter pemimpin zalim , Pertama Menipu Rakyat. Di era demokratisasi ini, para calon pemimpin menebar pesona kepada masyarakat dengan segudang janji muluk. Janji-janji itu hanya di bibir saja, namun realisasinya tidak kunjung dirasakan masyarakatnya. Bagi orang yang cerdas menyimak janji-janji itu, maka mereka akan mampu menganalisa bahwa semua itu adalah janji palsu dan impossible untuk dijalankan, sehingga ia tidak terjerat dengan buaiya janji tersebut. Akan tetapi berapalah jumlah masyarakat yang seperti itu. Kebanyakan termakan dengan janji palsu itu, sehingga merasa tertipu setelah mengetahui bahwa janji itu tidak kunjung menjadi kenyataan.
Pemimpin yang dengan sengaja menipu rakyatnya maka Allah SWT mengharamkan baginya surga. Hal ini tentu menjadi peringatan keras dan tegas kepada setiap pemimpin atau calon pemimpin agar tidak mudah menebar janji apalagi ia mengetahui bahwa janji itu mustahil untuk ia realisasikan. Kejujuran (amanah) adalah modal yang paling mendasar dalam sebuah kepemimpinan. Tanpa kejujuran, kepemimpinan ibarat bangunan tanpa fondasi, dari luar nampak megah namun di dalamnya rapuh dan tak bisa bertahan lama. Begitu pula dengan kepemimpinan, bila tidak didasarkan atas kejujurn orang-orang yang terlibat di dalamnya, maka jangan harap kepemimpinan itu akan berjalan dengan baik. Kejujuran tidak bisa hanya mengandalakan pada satu orang saja, akan tetapi dituntut semua komponen untuk bersikap jujur. Jika suatu pemerintahan kita ibaratkan dengan bangunan besar. Ketika mengerjakan bangunan itu, terdapat seribu tukang yang bekerja sama mengerjakannya.
Namun, di belakang tukang-tukang yang bekerja itu terdapat seorang yang membawa palu merusak bangunan tersebut. Lambatlaun bangunan itu akan hancur sekalipun tukang yang membangun lebih banyak jumlahnya daripada orang yang merusaknya. Coba bayangkan, jika yang terjadi sebaliknya. Tukang yang mengerjakan bangunan itu satu dan yang merusaknya seribu. Pastilah bangunan itu tidak pernah berdiri rampung. Demikian juga halnya dengan sikap jujur dalam suatu pemerintahan, jika terdapat seorang staf saja melakukan kecurangan maka seluruhnya tercemar olehnya.
Bagaimana pula jika suatu pemerintahan itu telah menjadi “sarang penipu”, maka kehancuran adalah suatu yang pasti. Oleh karena itu, sikap amanah lawan dari curang wajib dimiliki oleh setiap orang pemimpin sekecil apapun yang dipimpinnya. Ia harus menjadi suri tauladan terbaik dalam penegakkan kejujuran dan pelopor terdepan bagi rakyat yang dipimpinnya. Jika seorang pemimpin menipu rakyatnya maka hal itu melukai hati mereka. Ketika itu pula posisi rakyat sebagai orang yang terzalimi (mazhlûm), maka doa mereka didengar Allah SWT.
Boleh jadi, doa mereka sebab dari kehancuran kekuasannya atau bahkan kebinasaan atas dirinya. Atau paling tidak siksa neraka telah menanti dirinya, dan sebenarnya hukuman “haram masuk surga” ini mencerminkan betapa murkanya Allah terhadap pemimpinyang tidak jujur dan suka menipu rakyatnya.
Kedua , Mempersulit Urusan Rakyatnya ,seorang pemimpin adalah pelayan bagi masyarakatnya. Hal ini berarti bahwa ia akan bersinggungan dengan hajat orang banyak. pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memberikan kemudahan urusan bagi rakyatnya bukan malah mempersulit dengan administrasi yang berbelit-belit. Melarangan setiap pemimpin untuk bersikap arogan dan birokratis dengan tujuan untuk mempersulit urusan-urusan rakyatnya.
Kerap ditemukan pemimpin yang bersikap seperti itu, misalnya ketika rakyat jelata datang kepadanya untuk mengurus dokumen-dokumen kewarga-negaraan seperti KTP, Akte Kelahiran, izin usaha, dan sebagainya, maka rakyat tersebut harus melalui tahapan-tahapan yang cukup rumit dan memakan waktu serta biaya yang tidak sedikit. Namun, bagi mereka yang mampu membayar (sogok), maka urusannya lancar dan menjadi mudah seketika. Jadi, sikap mempersulit tersebut bertujuan untuk korupsi dengan mendapatkan sogokan atau uang pelican. Ketika bersentuhan dengan layanan publik, semboyan yang kerap disuarakan adalah “jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”.
Seorang pemimpin wajib memberikan pelayanan yang maksimal serta tidak mempersulit urusan warganya. Jika suatu urusan dapat dipermudah, maka haram untuk dipersulit. Maksud mempermudah disini tentunya tidak menghalalkan yang diharamkan Allah dan rasul-Nya atau mengharamkan yang dihalalkan keduanya. Jadi, seorang pemimpin suka mempersulit urusan rakyatnya, maka AllahSWT akan mempersulit segala urusannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Ketiga, Pemimpin yang Kejam dan Otoriter , Karakter berikutnya adalah bersikap bengis dan kejam terhadap rakyatnya. Catatan sjarah merekam perbuatan kejam dan sadis para pemimpin terhadap rakyatnya atau lawan politiknya. Pemerintahan atau kepemimpinan yang paling jelek dalam pandangan Islam adalah yang dipimpin oleh pemimpin yang kejam dan otoriter. Allah SWT memerintahkan kepada hambahamba-Nya untuk berlindung kepadaNya dari pemimpin yang kejam tersebut. Pemimpin yang tidak memiliki rasa iba dan empati terhadap
Keempat , Pemimpin Gila Jabatan . Amanat itu tidak perlu dicari dan jabatan itu tidak perlu dikejar. Karena bila kita mencari dan mengejar amanat dan jabatan itu, maka niscaya Allah tidak akan membantu kita. Akan tetapi bila kita tidak menuntut dan tidak mencari amanat itu, maka justru Allah akan membantu untuk meringankan beban amanat itu sendiri. Hal ini tentang etika politik. Seoarang politisi tidak serta-merta bebas dari etika, sebagaimana ditunjukkan oleh para politisi kita selama ini. Melainkan seorang politisi dan kehidupan politik itu sendiri harus berdasarkan sebuah kode etik. Bila kehidupan politik tidak berasarkan etika, maka kesan yang muncul kemudian bahwa politik itu kotor. Padahal, tidak selamanya politik itu kotor, nabi Muhammad SAW sendiri pernah menjadi seorang politisi, tapi tidak pernah bermain kotor. Bila kita mencermati, maka akan kita temukan bahwa citra “ke-kotoran” dari politik itu sebenarnya bersumber dari sikap para pelakuknya yang ambisius.
Dalam hal ini, ambisi menjadi salah satu faktor uatama dalam membentuk sikap dan pandangan politik eseorang sehingga menjadi kotor. Betapa tidak, dari ambisi itu, seseorang bisa saja membunuh orang lain yang menjadi pesaing politiknya. Dan dari ambisi itu pula seseorang bisa melakukan apa aja untuk meraih jabatan politk yang diinginkannya, baik melalui korupsi, penipuan, pembunuhan, menggunakan jasa paranormal dan sebagainya. Oleh sebab itu, “menjaga ambisi” adalah sebuah etika politik yang diajarkan Islam kepada umatnya, terutama bagi mereka yang berkiprah di dunia politik.
Rakyat memiliki hak dan pemimpin memiliki tanggung jawab. Begitu pula sebaliknya, rakyat memiliki tanggung jawab dan pemimpin juga memiliki hak. Antara keduanya harus ada keseimbangan dan kesetaraan. Yang satu tidak boleh mendominasi yang lain. Akan tetapi kekuasaan sepenuhnya adalah tetap berada di tangan rakyat. Karena hakekat kepemimpinan hanyalah amanat yang harus diemban oleh seorang pemimpin. Bila sang pemimpin tidak bisa menjaga amanat itu dengan baik, maka kekuasaan kembali berada di tangan rakyat.
Oleh sebab itu, mengingat kesetaraan posisi rakyat dan pemimpin ini, maka masing-masing memilki hak dan tanggung jawabnya. Seorang pemimpin jangan hanya bisa memenuhi haknya, dan mengebiri hak rakyatnya, akan tetapi seorang pemimpin harus mengakui dan menjamin hak-hak rakyatnya secara bebas. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, mungkin kita sudah mengenal konsep hak azazi manusia (ham). Oleh sebab itu, sebanarnya nabi Muhammad saw jauh sebelumnya sudah mengajarkan prinsip-prinsip ham dalam kehidupan politik rakyatnya. Betapa tidak, bahwa Islam menjamin ham termasuk di dalamnya hak-hak sipil dan politik (isipol) dan hak-hak ekonomi sosial dan budaya (ekosob). Karena itu, bila seorang peimimpin tidak menjamin hak-hak azasi manusia (ham) warganya, maka pemimpin itu telah keluar dari sunnah rasul SAW.
Dengan demikian Allah SWT dan rasul-Nya melarang umat manusia berlaku zalim baik terhadap diriny sendiri maupun orang lain. Dengan menahan atau mengambil hak orang lain atau sengaja menempatkan sesuatu tidak pada tempat semestinya. Sekecil apapun kezaliman yang dilakukan oleh siapapun, kelak akan menyulitkan dirinya baik di dunia atau di akhirat.
Oleh karena itu, tidak hanya pemimpin akan tetapi setiap insan hendaklah menghidarkan sikap zalim dari dirinya. Hanya dengan cara itu kehidupan ini akan berkah dan memperoleh ridha-Nya. Pemimpin yang zalim terhadap rakyatnya, tidak hanya menyiksa dan membahayakan orang lain akan tetapi sebenarnya ia telah menggali lubang bahaya yang siap menelan dirinya sewaktu-waktu. (*)
