JAKARTA – Langkah PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) yang memutuskan untuk menyudahi bisnis e-commerce dan beralih untuk menjual produks virtual seperti pulsa prabayar hingga token listrik disayangkan pelapak.
Perlu dikeahui, pelapak sendiri merupakan istilah Bukalapak kepada pengguna terdaftar yang melakukan penjualan dan/atau penawaran barang kepada para pengguna melalui lapak di platform Bukalapak.
Salah satu pelapak asal Kabupaten Bekasi, misalnya, mengaku sangat menyayangkan langkah BUKA yang menyudahi bisnis e-commerce. Meski egitu, pelapak yang tak mau disebutkan namanya itu mengaku pesanan produk yang dijual terus mengalami penurunan, meski menggunakan fitur promosi berbayar Bukalapak.
Pelapak yang bergabung dengan Bukalapak pada 2015 itu mengatakan bahwa pembeli menginginkan adanya fitur gratis ongkos kirim (ongkir) dan cashback, sama sepert platform e-commerce lainnya. “Pembeli mau dapat free ongkir dan cashback dan itu persaingannya lumayan berat dengan marketplace lain,” kata pelapak BUKA.
Lebih lanjut, pelapak yang menjual aksesoris elektronik itu juga menyampaikan bahwa fitur gratis ongkir di Bukalapak sudah tidak ada sejak lama. Jika menengok blog resmi BUKA, memang enar perusahaan sudah lama menutup fitur gratis ongkir dari pelapak pada 2022 silam. Per 1 September 2022, gratis ongkir tidak bisa diakses melalui Seller Center atau aplikasi Bukalapak terbaru mulai dari Android v5.18 dan iOS v3.13 ke atas.
Selain itu, per 7 Oktober 2022, gratis ongkir tidak bisa digunakan untuk seua platform termasuk untuk aplikasi Bukalapak. Demikian yang dikutip dari blog resmi BUKA, Kamis (9/1).
“Makanya pembeli lari ke marketplace sebelah karena nyari free ongkirnya itu, meskipun penjual pakai berbayar pun tetap saja hasilnya nggak maksimal,” ungkapnya.
Direktur Ekonomi Digital dan Ekonom Cnter of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memadang bahwa aksi bakar uang dinilai masih menjadi ‘bensin’ pemain e-commerce untuk mempertahankan posisi serta merebut pasar antarpemain.
“Apa yang terjadi di Bukalapak, semakin mengindikasikan inovasi dan bakar uang yang dilakukan oleh e-commerce, hampir di semua industri digital, itu bisa menjadi alat bertahan,” kata Huda.
Apalagi, Huda menilai bahwa para pembeli lebih cenderung berpaku pada harga saat berbelanja online. “Tidak bisa dipungkiri, konsumen kita masih price oriented consumer. Harga menjadi daya tarik utama dalam berbeanja via digital,” ungkapnya.
Dihubungi terpisah, Head of Media and Communications Bukalapak Dimas Bayu memastikan bahwa layanan marketplace Bukalapak masih tetap beroperasi meski perusahaan menutup layanan produk fisik. “Layanan marketplace Bukalapak masih tetap beroperasi,” kata Dimas dalam keterangan.
Namun, Dimas mengatakan bahwa Bukalapak akan menghentikan layanan produk fisik secara bertahap hingga Februari 2025. Emiten bersandi saham BUKA itu nantinya akan berfokus pada layanan produk virtual seperti pulsa prabayar, paket data, token listrik, BPJS Kesehatan, BPJ Ketenagakerjaan, hingga voucher digital emas. bisn/mb06

