Mata Banua Online
Sabtu, April 18, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Determinan Gejala Carpal Tunnel Syndrome pada Anak Usia Remaja

by Mata Banua
15 Desember 2024
in Opini
0

ABSTRAK

Berita Lainnya

Kebiadaban Yang Dilegalkan

Kebiadaban Yang Dilegalkan

16 April 2026
The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

16 April 2026

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah mengubah gaya hidup masyarakat, terutama remaja.Peningkatan penggunaan gadget di kalangan remaja telah memicu peningkatan kasus Carpal Tunnel Syndrome(CTS). Penggunaan gadget dalam jangka panjang dan gerakan tangan berulang yang terkait dengan mengetik, bermain game, dan menonton vedio yang berlebihan dapat menimbulkan masalah kesehatan. Kegiatan berulang seperti itu berkontribusi terhadap kompresi saraf median di pergelangan tangan. Gejala CTS meliputi nyeri, mati rasa, kesemuatan dan kelemahan pada tangan dan jari, yang dapat berdampak signifikan pada aktifitas sehari-hari dan kualitas hidup.Faktor utama CTS pada remaja adalah penggunaan gadgetsecara berlebihan, poster tubuh yang buruk saat penggunaan perangkat elektronik, dan kurangnya aktifitas fisik. Pencegahan CTS dapat dilakukan dengan mengatur waktu penggunaan gadget, menjaga postur tubuh yang baik, dan melalukukan peregangan secara teratur. Diagnosis dini dan intervensi yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan meningkatkan fungsi tangan. Jika gejala CTS sudah muncul, penanganan yang tepat perlu dilakukanbaik melalui terapi (non-bedah) maupun Tindakan bedah.

Kata Kunci:gadget, anak remaja, carpal tunnel syndrome.

PENDAHULUAN

Aktifitas yang melibatkan penggunaan tangan secara intensif telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari apalagi terhadap anak usia remaja. Kegiatan seperti mengetik di komputer dan menggunakan gadgetberjam jam sudah menjadi kebiasaan. Saat ini perkembangan teknologi tidak bisa dibendung di Indonesia terus berkembang hal ini dengan lahirnya kebjikan-kebijakan di duniapendidikan agar anak-anak bangsa tidak terjerumus dalam dampak negatif perkembangan teknologi. Berbagai macam godaan lewat bentuk media sosial yang canggih banyak anak usia remaja terlena dengan kondisi tersebut (Muyassarah,2019:).

Teknologi di era sekarang menjadi kebutuhan bagi anak remaja. Perkembangannya sangat pesat dan cepat berubah membuat teknologi semakain canggih dan paraktis. Teknologi berupa gadgetbisa dimiliki oleh siapapun termasuk anak remaja. Anak remaja bahkan lebih cerdas dalam menggunakan gadget dibandingkan orang dewasa. Anak remaja lebih cepat menguasai gadgetkarena kecerdasan anak remaja. Tidak sedikit anak remaja yang terlena dengan dunia teknologi.

Gadget tanpa internet tidak lah berfungsi. Internet merupakan salah satu media komunikasi yang diakses melalui handphone, laptop, dll. Hingga saat ini internet banyak digemari diberbagai kalangan terutama kalangan anak remaja (Dengah, 2020). Anak remaja sudah menggunakan gadget yang berisi aplikasi atau softwareyang beberapa isinya diciptakan khusus untuk kalangan anak remaja, seperti Youtube, dan beberapasoftware lainnya yang bernilai edukatif. Keberadaan anak usia remaja sebagai generasi zoomer (gen z) ini tidak terlepas dari dampak positif maupun negatif bagi perkembangan anak usia remaja. Anak remaja sering lupa batasan waktu menggunaan gadget. Penggunaan gadget membutuhkan pembatasan dan pengawasan orang tua kapan pun dan dimanapun. Tanpa pengawasan dari orang dewasa anak remaja akan terjerumus ke dampak negatif dari teknologi (Hijriyani dkk, 2020).

Berkembangnya teknologi terdiri dua hal yakni informasi dan komunikasi. Dua hal itu sangat pesat majunya di dunia dengan menerapkan alat canggih. Pengaruh kecanggihan teknologi terhadap anak usia muda jelas adanya. Dampak positif teknologi terhadap anak usia remaja yaitu mempercepat bertukar informasi dengan sesama, semakin cerdas dan melahirkan anak anak remaja yang kreatif dan inovatif (Muyassarah,2019).

Anak usia remaja tidak menyadari akan dampak melakukan kegiatan tersebut secara berulang kali. Penggunaan gadget pada anak usia remaja semakin meningkat semenjak adanya pandemi virus covid-19 di Indonesia dikarenakan penyelenggaraan belajar dari rumah secara daring atau online. Metode pembelajaran daring mengharuskan anak selalu berkutat dengan internet dan gadget. Hampir sepanjang hari mereka bermain gudget sehingga menjadi kebiasaan (Kemdikbud, 2020).

Dampak negatif penggunaan gadget dalam waktu yang lama merukapakan dampak buruk dan akan berdampak kepada kesehatan dari anak tersebut, termasuk membuat pola hidup anak yang lebih sering duduk jaranga bergerak ataupun berolahraga.Kebiasaan ini, terlihat sepele namun jika terus menerus dilakukan dapat berdampak serius terhadap kesehatan, khususnya pada bagian pergelangan tangan. Salah satu kondisi kesehatan yang paling umum terjadi akibat kebiasaan tersebut adalah Carpal Tunnel Syndrome(CTS), yaitu gangguan yang disebabkan oleh tekanan berlebihan pada saraf median yang melewati terowongan karpal di pergelangan tangan(Sujianti, 2019).

PEMBAHASAN

Pembahasan Mengenai Carpal Tunnel Syndrome

Carpal Tunnel Syndrome(CTS) merupakan satu jenis cumulative trauma disoerders (CTD) yang disebabkan terjebaknya nervus medianus dalam carpal tunnel pada pergelangan tangan dengan gejala nyeri, kebas, dan kesemutan pada jari jari dan tangan (Osiak dkk., 2022:124). Tunnel carpal adalah jalur osseofibrous yang sempit ditemukan di bagian depan pergelangan tangan. Berfungsi sebagai pintu masuk ke telapak tangan dari flexor digitorom superficialis, flexor digitorom profundus dan flexor pollicic longus. Struktur abnormal di dalam dan disekitar carpal tunnel dapat meningkatkan volume carpal tunnel yang dapat mengakibatkan kompresi nervus medianus.

Kompresi nervus medianus dimanifestasikan oleh kelemahan dan hilangnya otot-otot thenar, dan hilangnya sensasi kulit dari permukaan palmar dari tiga setengah digit lateral.Jebakan saraf perifer yang paling umum ditemui di seluruh dunia. Etiologi dapat dikaitkan dengan paparan berulang terhadap getaran atau gerakan sudut yang kuat, kecenderungan genetik, cedera dan kondisi spesifik, seperti diabetes, kehamilan dan obesitas morbid. Entitas ini diamati dengan peningkatan frekuensi pada wanita dan orang tua. Diagnosisnya sebagian besar bersifat klinis dan dicurigai ketika pasien menunjukkan gejala khas seperti mati rasa, kesemutan, parestesia nocturnal atau nyeri neuritik di 3,5 digit radial (Szabo, 2022).

Carpal tunnel syndrome meningkat pada tahun 1990. Carpal tunnel syndrome adalah penyakit yang paling umum yang diklasifikasikan sebagai gangguan gerakan berulang, sehingga membuat pencegahan dan manajemennya menjadi prioritas kesehatan dan keselamatan. Beberapa penelitian menemukan sedikit bukti yang mendukung konsep carpal tunnel syndrome yang disebabkan oleh pekerjaan dan kebiasaan.

Kebiasaan anak usia remajayang memiliki kebiasaan buruk seperti jarangnya berolahraga dan kebanyakan bermain gudget yang membuat anak usia remaja rentan terkena carpa tunnel syndrome. Gadget merupakan suatu alat teknologi yang memiliki kemampuan canggih. Gadget sangat diminati oleh berbagai kalangan terutama anak usia remaja (Rusdiyanto dkk., 2024).The Nasional Health Interview Study (NHIS) tahun 2010 memperkirakan bahwa prevalensi carpal tunnel syndrome yang dilaporkan sendiri diantara populasi dewasa adalah sebesar 1,55% (2,6 juta).

Jika tidak segera diatasi, carpa tunnel syndrome dapat membatasi fungsi dari tangan sehingga dapat mengakibatkan kelumpuhan pada otot otot sampai dengan kecacatan yang dapat mempengaruhi produktivitas. Penurunan produktivitas mengakibatkan anak remaja mengalami kerugian, seperti tidak bisa beraktifitas dengan normal (Pratiwi dan Utomo, 2022).

Faktor penyebab Carpal Tunnel Syndrome pada anak usia remaja

Beberapa penelitian membuktikankan bahwa faktor-faktor pekerjaan atau aktivitas sangatlah penting sebagai resiko terjadinya CTS, factor-faktor tersebut meliputi beberapa hal, seperti aktifitas berulang, cedera atau trauma, penyakit tertentu, genetik, penggunaan alat bergetar, dan usia.

Masa kerja merupakan salah satu factor yang dapat mendukung munculnya gangguan musculoskeletal yang disebabkan oleh keperjaan atau kebiasaan. Sikap tubuh dalam kebiasaan merupakan suatu gambaran tentang posisi badan, kepala dan anggota tubuh (tangan dan kaki) baik dalam hubungan antara bagian tubuh tersebut maupun letak pusat gravitasi (Agustin, 2019)

Tanpa disadari anak remaja sering kali melakukan aktivitas berulang. Ketikan otot menerima beban statis secara berulang dan dalam kurun waktu yang lama maka akan menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen, tendon, dan saraf. Penggunakaan komputer ataupun gudget dengan waktu yang lama dan dilakukan secara berulang sudah menjadi kebiasaan pada anak remaja sehingga menyebabkan risiko terkena carpal tunnel syndrome.

Contoh lain seperti buruh pemetik bunga melati yang setiap harinya memetik bunga melati. Gerakan memetik bunga melatih merupakan risiko terkena carpal tunnel syndrome.

Pada era sekarang sering terjadi kejadian yang tidak terduga yang dapat terjadi seperti cedera saat melakukan olahraga ataupun tidak olahraga. Cedera yang dapat di temui cedera pergelangan tangan yang bisa terjadi beberapa faktor yaitu mengangkat berat ataupun gerakan reflek sehinggal mengakibatkan carpal tunnel syndrome.Selama masa pandemi COVID-19, E-Sport telah berkembang pesat berkat teknologi penyiaran dan game online yang semakin tersedia. Popularitas E-Sport semakin meluas di seluruh dunia sebagai permainan video game kompetitif dan terorganisir yang menarik minat banyak individu muda. Banyak anak remaja yang terjun ke dunia E-Sport. Bermain game dan berlatih sepanjang hari membuat mereka lupa akan kesehatan, banyak dari mereka sering mengeluh keram dan mengkibatkan cedera pada pergelangan tangan (Nur Rasyid, 2023).

Carpal tunnel syndromebisa terjadi akibat beberapa penyakit tertentu sepertiperubahan hormon contohnya kehamilanpemakaian hormon estrogen pada menopause. Menopause adalah berhentinya menstruasi secara permanen akibat hilangnya aktifitas ovarium. Menopause umumnya terjadi pada wanita yang melahirkan, dan dapat berakibat retensi cairan dan menyebakan pembengkakan pada jaringan disekeliling terowongan karpal.

Faktor genetik dapat memengaruhi risiko carpal tunnel syndrome. Riwayat keluarga CTS meningkatkan seseorang mengalami kondisi yang sama. Hal ini menunjukkan adanya faktor genetik atau pola gaya hidup yang diturunkan dalam keluarga. Penyakit genetik yang meningkatkan risiko CTS secara tidak langsung yaitu diabetes tipe 2 memiliki komponen genetik yang dapat menyebabkan neuropati perifer dan hipotiroidisme kecenderungan genetik terhadap gangguan tiroid dapat menyebabkan menumpukkan cairan di saluran karpal, meningkatkan tekanan pada saraf median.

Carpal tunnel syndrome yang berhubungan dengan pekerjaan meliputi kegiatan yang membutuhkan kekuatan, penggunaan berulang atau lama pada tangan dan pergelangan tangan, terutama jika faktor risiko potensian tersebut muncul secara bersamaan yaitu:(1) penggunaan tangan yang kuat terutama jika ada pengulangan; (2) penggunaan tangan berulang dikombinasikan dengan beberapa unsur kekuatan terutama untuk waktu yang lama; (3) konstan dalam mengcengkram benda; (4) memindahkan atau menggunakan tangan dan pergelangan tangan terhadap perlawanan atau dengan kekuatan; (5) menggunakan tangan dan pergelangan tangan untuk getaran teratur yang kuat; (6) tekanan biasa atau intermiten pada pergelangan tangan.

Pada pekerja bangunan menggunakan alat-alat yang menghasilkan getaran termasuk peralatan yang menggunakan tangan salah satunya jackhammer. Resiko Kesehatan juga menjadi permasalahan bagi pekerja yang menggunakan jackhammeryakni terkena carpal tunnel syndrome.

Usia terbanyak responden penderita carpal tunnel syndrome kurang lebih 30-50 tahun. Degenerasi tulang berakibat berkurangnya stabilitas otot dan tulang seperti kerusakan jaringan, perubahan jaringan parut dan pengurangan cairan.

Upaya Penanganan Carpal Tunnel Syndrome pada Anak Usia Remaja

Sebelum dokter mendiagnosis dan meyarankan upaya penanganan pasien harus melewati beberapa tahapan anamesis dan pemeriksaan fisik.

Anamnesis adalah proses pengumpulan informasi medis dari pasien atau keluarganyaoleh dokter atau tenaga medis lainnya. Gambaran klinis CTS adalah nyeri di tangan atau lengan terutama pada malam hari atau saat bekerja, pengecilan dan kelemahan otot otot eminensia tenar, hilangnya sensasi pada tangan pada distribusi nervus medianus, parestesia seperti kesemutan pada distribusi nervus medianus, kondisi ini sering bilateral. Gejala awal biasanya berupa parestesia, kurang merasa (numbness) atau rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari dan setengah sisi radial jari sesuai dengan distribusi sensorik nevus medianus, walaupun kadang kadang dirasakan mengenai seluruh jari (Salawati dan Syahrul, 2019).

Pada pemeriksaa fisik dilakukan pemeriksaan pada fungsi motoriK, sensorik dan otonom tangan. Beberapa pemeriksaan dan tes provokasi dapat membantu menegakkan diagnosa CTS yaitu flick’s sign, thenar wasting,menilai kekuatan dan keterampilan serta kekuatan otot secara manual maupun dengan alat dinamometer, wrist extension test, phalen’s test, torniquet test, tinel’s sign(Salawati dan Syahrul, 2019).

Jika pasien sudah melewati tahap tahap pemeriksaan, dokter dapat mendiagnosis apakah pasien benar terkana CTS atau tidak lalu dokter dapat memberikan saran upaya penanganan carpal tunnel syndrome. Upaya penanganan CTS terbagi menjadi dua yaitu non-bedah dan penanganan bedah.

Penanganan non-bedah termasul terapi fisik, belat pergelangan tangan, obat-obatan, menggunakan alat kerja altrnatif ditempat kerja, dan pemberian steroid di daerah yang terkena untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakkan. (Genova dkk.2020)

Pasien dengan gejala ringan hingga sedang dapat diobati secara efektif dalam lingkungan perawatan primer. Terapis fisik harus memberikan saran tentang modifikasi aktifitas dan tempat kerja. Seringkali perubahan sederhana yang jelas pada kebiasaan dapat bermanfaat dalam mengendalikan gejala CTS yan lebih ringan.

Pasien yang menderita CTS parah dari hasil elektro-diangnostik memerlukan dekompresi bedah sebagai metode untuk pengelolaan CTS. Pasien harus dirujuk untuk perawatan bedah jika gejalanya berlanjut. Namun, ada 80% kemungkinan gejala kambuh pada pasien-pasien ini dalam waktu satu tahun. Dokter seharusnya hanya mempertimbangkan operasi Ketika kondisinya menghasilkan respons negative terhadap terapi konservatif.

Dalam penanganan bedah dokter ahli bedah memotong saraf yang menekan, membuat sayatan pada bagian yang membengkak. Dengan demikian menciptakan ruang ekstra untuk tendon dan saraf median yang melewati terowongan karpal sehingga mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsi. Pemulihan pasca operasi berkisar dari beberapa minggu hingga beberapa bulan. Pemulihan tergantung pada tigkat dan durasi kompresi pada saraf median. Namun, ada beberapa risiko saat dilakukan penanganan bedah yaitu infeksi, bekas luka sensitif, pendarahan, cedera pada saraf yang bercabang dari saraf median, dan cedera pembuluh darah. (Genova dkk.2020).

Prognosis pada kasus CTS ringan, dengan terapi konservatif pada umunya prognosis baik. Secara umum prognosis operasi juga baik, tetapi karena operasi hanya dilakukan pada penderita yang sudah lama menderita CTS penyembuhan post operatifnya tertahap. Perbaikan yang paling cepat dirasakan adalah hilangnya rasa nyeri yang kemudian diikuti perbaikan sensorik. Biasanya perbaikan motorik dan otot otot yang mengalami atrofi baru diperoleh kemudian. Keseluruhan proses perbaikan CTS setelah operasi ada yang sampai memakan waktu 18 bulan (Salawati dan Syahrul, 2019).

Carpal tunnel syndrome dapat dicegah dengan cara istirahatkan tangan secara berkala, saat melakukan gadgetatau melakukan aktiftas yang melibatkan pergelangan tangan dalam waktu lama, istirahatkan tangan setiap 30 menit. Menjaga poster tubuh yang baik saat menggunakan computer atau laptop, pastikan tangan lurus dan tidak tertekuk. Membatasi bermain gudget seperti mengurangi waktu untuk bermain game, menonton video, atau scroll tiktok. Memperhatikan aktifitas sehari-hari hindari aktifitas yang melibatkan gerakan berulang pada pergelangan tangan, seperti menulis atau menggambar dalam waktu yang lama.

KESIMPULAN

Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan neuropati jebakan yang sering ditemukan. Syndrome ini terjadi karena penyempitan pada terowongan karpal edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus dipergelangan tangan. Gejala awal CTS umumnya hanya brupa gangguan ensorik seperti rasa nyeri, parestesia, rasa tebal dan tinglingdi daerah kulit yang dipersarafi oleh nervus medianus. Gejala gejala ini umunya bertambah berat pada malam hari dan berkurang bila pergelangan tangan digerak gerakkan atau dipijat.

Teknologi di era sekarang ini, aktifitas yang melibatkan penggunaan tangan secara intensif telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari apalagi terhadap anak usia remaja. Dampak negatif penggunaan gadget dalam waktu yang lama merukapakan dampak buruk dan akan berdampak kepada kesehatan dari anak tersebut,termasuk membuat pola hidup anak yang lebih sering duduk jarangan bergerak ataupun berolahraga. Salah satu kondisi Kesehatan yang paling umum terjadi akibat kebiasaan tersebut adalah Carpal Tunnel Syndrome , yaitu gangguan yang disebabkan oleh tekanan berlebihan pada saraf median yang melewati terowongan karpal di pergelangan tangan.

Pada penderita yang sudah lama terkana dapat ditemukan gejala motoric dan yerkadang terdapat hipotrofi tenar. Diagnose CTS dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik yang meliputi berbagai macam tes. Syndrome ini dapat dicegah dan disembuhkan. Pencegahan yang dapat dilakukan seperti memperbaiki aktivitas hidup dan sikap kerja yang benar. Prognosis CTS dengan terapi konsevatif maupun operatif cukup baik, tetapi risiko untuk kambuh Kembali masih tetap ada. Bila terjasi kekambuhan, prosedur terapi baik konservatif atau operatif dapat diulangi kembali.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper