
Di antara beberapa jumlah masalah penting dalam dunia akademik, plagiarisme salah satunya. Ternyata ada banyak cara untuk melakukan kejahatan di dunia, bahkan seseorang yang dianggap sudah berpendidikan, masih berpotensi besar untuk melakukan tindakan yang justru tidak mencerminkan kepribadian yang terdidik.
Hal demikian terjadi, barangkali karena lepasnya kesadaran dari diri manusia; khususnya para akademisi , yang telah dipercaya akan membawa perubahan lebih baik. Tapi naasnya, banyak kita jumpai permasalahan justru berkabut di lingkungan pendidikan itu sendiri. Maka tidak heran, jika kemudian Aristoteles menyarankan agar pelajaran etika tidak dipelajari di usia masih muda. Pasalnya, etika membutuhkan pengalaman yang beragam dan kesanggupan menangkap, bahkan menilai nilai etis yang terjadi.
Sedangkan etika erat kaitannya dengan moralitas, dan kejadian-kejadian semacam ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, jika untuk mempelajari etika, kita masih menunggu banyak pengalaman, saya kurang setuju, karena saya pikir nilai etika juga berfungsi untuk mengontrol, menyadarkan, dan membiasakan. Sehingga dengan mengetahui lebih dulu, kita bisa lebih waspada sebelum melakukan hal-hal yang tidak etis, seperti tindakan plagiarisme tentunya.
Kembali pada masalah plagiarisme, hal ini sudah sering dibahas dikupas tuntas oleh para kritikus yang sering mengkritisi persoalan plagiarisme di dunia akademik. Karena pelakunya bukan hanya seorang mahasiswa, melainkan juga para dosen yang mengajar gelar doktor. Tetapi ironis sekali bila yang terjadi malah membuat cuaca pendidikan kita makin gelap, dan suasananya pun makin suram. Di satu sisi, saya tetap optimis, bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk menciptakan peradaban yang lebih beradab. Di sisi lain, saya skeptis (bukan berarti pesimis) karena cukup sulit untuk memecahkan kabut permasalahan ini, apalagi jiwa kita masih banyak yang belum dihujani kesadaran.Hampir seluruh kampus yang ada di negara kita terjerat kasus plagiarisme, mulai dari tulisan artikel, makalah, jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi. Memang inilah adanya jd kita hari ini, dan akibatnya mutu intelektual tumpul
Ada beberapa asumsi yang mengatakan bahwa tindakan plagiarisme dalam pendidikan tinggi ini sering terjadi disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal.Dan jalan pintas semacam ini,dimungkinkanpenyebabnya karenarendahnya kemampuan menulis dan berargumentasi secara ilmiah. Bahkan yang kutu buku dan sering menulis di media nasional saja masih tersangka melakukan tindakan plagiarisme. Betapa menyedihkan sekali, bila tradisi keilmuan yang diharap dapat membentuk daya intelektual yang kritis justru makin krisis. Terlepas dari berbagai faktor tersebut, tindakan plagiarisme harus diobati dengan cara menanamkan benih-benih kesadaran dan perlu kita siram dengan nilai-nilai etika.
Oleh karena itu,kita semua perlu untuk selalu mengingat kata-kataW.S. Rendra seorang penyair yang sangat kritis terhadap persoalan sosial, menyatakan bahwa kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.Dan inilah saatnya kita melaksanakan kata-kata, dengan cara memulai peradaban yang lebih beradab, membangun mutu intelektual yang mempunyai rasa tanggungjawab.

