Mata Banua Online
Sabtu, April 18, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Fenomena Child Free Meningkat, Bahaya Mengancam Generasi

by Mata Banua
27 November 2024
in Opini
0

Oleh : Siti Sarah

Beberapa waktu yang lalu ramai pembicaraan terkait dengan fenomena child free. Ternyata sampai hari ini semakin banyak wanita yang memutuskan untuk melakukan child free sebagai sebuah pilihan yang menurut mereka itu baik dan masih ada beberapa alasan mengapa mereka memilih child free.

Berita Lainnya

Kebiadaban Yang Dilegalkan

Kebiadaban Yang Dilegalkan

16 April 2026
The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

16 April 2026

Diantaranya adalah memang karena tidak ingin direpotkan oleh berbagai hal yang berkaitan dengan anak. Seperti kehamilan, melahirkan, menyusui dan pola pengasuhan anak, yang terkadang banyak di dapati fakta adanya ketidaknyamanan ketika berada di fase tersebut. Seperti mual pada saat hamil, kemudian baby blues setelah melahirkan. Selain itu, ada faktor ekonomi yang juga menjadi salah satu penyebab child free.

Menurut sebagian kalangan masalah child free haruslah di hargai karena itu merupakan hak asasi seseorang. Ketika itu berkaitan dengan hak asasi manusia maka kita harus toleran dan menerima. Ini lah salah satu pembenaran saat ini, Ketika memandangnya bukan berdasarkan dalil agama tapi menggunakan dalil dari opini manusia.

Kehidupan saat ini, ketika tidak lagi di atur oleh agama maka banyak pemahaman-pemahaman asing yang masuk dan kita ambil sebagai sebuah aturan dalam menjalani kehidupan.Salah satunya adalah child free. Sebelumnya kita tidak pernah mengenal istilah tersebut, namun ketika pemahaman ini masuk ke negeri kita dengan dalil hal itu merupakan hak asasi manusia dan kita bisa melihat kaum perempuan mulai mengambil ini tanpa melihat bagaimana agama memandang hal tersebut.

Inilah buah sistem kehidupan sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan.Bisa kita bayangkan seandainya pemahaman ini semakin meluas mungkin saja apa yang menimpa negara-negara maju terkait krisis generasi juga akan menimpa kita, seperti apa yang menimpa jepang, Korea dan negara-negara eropa. Ini lah salah satu bukti akan rusaknya kehidupan ketika kita meninggalkan aturan Tuhan. Sehingga saat ini negara -negara tersebut berlomba-lomba membuat program agar setiap pasangan yang menikah mau memiliki anak seperti progam bantuan keuangan untuk keperluan ibu dan anak.

Selain itu faktor ekonomi yang sulit membuat kaum perempuan berpikir lagi untuk memiliki anak, karena saat ini ketika ingin memberikan fasilitas yang terbaik bagi anak maka perlu biaya yang tinggi, semisal pendidikan dan lain-lain. Jadi selain fakta di lapangan banyak didapati masalah dalam hal ekonomi juga rendahnya keyakinan terkait dengan rezeki. Apalagi saat ini marak pemutusan hubungan kerja dan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan

Dalam Islam memiliki anak bagi seorang perempuan yang telah menikah adalah suatu kebahagian karena salah satu tujuan menikah adalah memiliki keturunan yang akan jadi tabungan amal kebaikan bagi orang tuanya. Anak adalah amanah bagi orang tua dan ketika seorang perempuan menjalani kehamilan, melahirkan,menyusui, mengasuh dan mendidik anak-anaknya adalah sebagai amal kebaikan yang akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT.

Selain itu, negara juga bertugas sebagai pelayan rakyatnya dengan memenuhi kebutuhan rakyat yang berkaitan sandang, pangan, papan, dan menyediakan fasilitas untuk menunjang kehidupan seperti pendidikan, kesehatan dengan harga terjangkau bahkan gratis. Disamping itu, negara juga berperan untuk melindungi akidah umat dari paham-paham asing yang bertentangan dengan ajaran Islam. Jadi kekhawatiran akan masa depan anak akan tertanggulangi dan akidah umat terjaga dari paham yang merusak.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper