
Oleh : YUDI RAKHMAN,S.Pd (Guru BK SMKN I Rantau)
Bullying merupakan istilah untuk tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat baik dari segi umur, kekuatan, kekuasaan kepada pihak yang lemah. Bentuk dari perilaku bullying yaitu bullying fisik, bullying verbal dan bullying mental/psikologis yang dapat berdampak buruk kepada korbannya, seperti lebam, luka, sakit, penakut, dan lain sebagainya dan untuk jangka panjang yaitu terganggunya kondisi psikologis dan penyesuaian sosial yang buruk. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor memiliki peranan penting dalam mencegah dan menanggulangi bullying di sekolah, untuk itu diperlukan pelayanan yang efisien dan komprehensif ke pada seluruh siswa dengan menggunakan berbagai keterampilan dan media yang dapat membantu kinerja guru BK/Konselor dalam menangani bullying.
Sekolah merupakan salah satu institusi yang menjadi ujung tombak keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab (UU No. 20 tahun 2003: Pasal 3). Untuk bisa mewujudkan itu, tentunya banyak faktor yang mempengaruhi kelancaran pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Apalagi sekolah sebagai wadah yang menampung beragam peserta didik dari berbagai latar belakang berbeda, hal ini memungkinkan mereka membawa berbagai permasalahan ke sekolah yang akan mengganggu kegiatan belajarnya.
Masalah yang sering diberitakan di media masa seperti tauran antar pelajar, senior menindas junior, pelecehan seksual, senior menghukum junior dengan push up dan masih banyak lagi yang lainnya. Semuanya itu termasuk dalam kategori tindakan bullying.Istilah bullying menggambarkan berbagai perilaku yang dapat berdampak pada kepemilikan seseorang, fisik, perasaan, hubungan, reputasi dan status sosial. Korban bullying biasanya tidak memiliki daya atau kekuatan untuk membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik atau mental, hal ini akan memicu terjadinya stres karena rasa takut yang luar biasa. Jika tindakan bullying ini terus dibiarkan, maka besar kemungkinan tujuan pendidikan yang tertera di Undang-Undang Republik Indonesia akan sangat sulit dicapai, untuk itu dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk memberantas atau mencegah tindakan bullying seperti pemerintah, masyarakat, pihak sekolah, orangtua, dan siswa. Salah satu pihak sekolah yang sangat berperan dalam mencegah dan mengentaskan tindakan bullying yaitu guru BK/Konselor.Guru BK/Konselor mempunyai peran penting dalam menanggulangi atau mencegah tindakan bullying di sekolah. Oleh sebab itu, guru BK perlu menangani secara komprehensif dan sistematis untuk mencegah dan mengentaskan tindakan bullying di sekolah.
KARAKTERISITIK PERILAKU BULLYING
Flaming, merupakan perilaku berupa mengirim pesan teks dengan kata-kata kasar dan frontal.
Harassment, merupakan perilaku mengirim pesan-pesan dengan kata-kata tidak sopan, yang ditujukan kepada seseorang yang berupa gangguan dan dikirimkan melalui email,maupun pesan teks di jejaring sosial.
Denigration, merupakan perilaku mengumbar keburukan seseorang di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik orang yang dituju. Perilaku tersebut juga dapat dilakukan secara langsung dari satu orang ke orang lainnya.
Impersonation, merupakan perilaku berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan-pesan atau status tidak baik.
Outing and trickery, merupakan perilaku menyebarkan rahasia orang lain/foto-foto pribadi milik orang lain. Adapun trickery juga merupakan perilaku membujuk seseorang dengan tipu daya agar mendapatkan rahasia orang tersebut.
Exclusion, merupakan perilaku dengan sengaja dan kejam mengeluarkan seseorang dari grup online.
Cyberstalking, merupakan perilaku berulang kali mengirimkan pesan ancaman membahayakan atau mengintimidasi.
Bullying bisa saja dilakukan oleh orang yang lebih tua, lebih besar, dan lebih kuat karena bullying bukan perkelahian yang melibatkan dua pihak yang memiliki kekuatan seimbang.Perilaku bullying biasanya menyebabkan timbulnya kepedihan emosional, luka fisik, dan bisa kedua- duanya (kepedihan emosional dan luka fisik). Pelaku akan merasa senang ketika melihat korban menderita. Bullying tidak terjadi hanya sekali, pelaku dan korban mengetahui bahwa tindakan bullying itu bisa terjadi berulang-ulang, tanpa henti dan semakin meningkat, jika semua hal itu terjadi maka akan muncul teror. Ketika teror yang dilancarkan oleh pelaku bullying tepat mengenai korbannya maka teror bukan hanya menjadi cara untuk mencapai tujuannya, sekali teror tercipta, pelaku bullying dapat bertindak tanpa merasa takut adanya pembalasan dari korbannya
Selain itu, bullying kurang mendapat perhatian sehingga jatuh korban. Perhatian yang kurang ini bisa disebabkan karena memang efek bullying yang tidak tampak secara langsung. Juga tidak terendus karena banyak korban yang tidak melapor; entah itu karena takut, malu atau diancam maupun karena alasan yang lain.Bullying secara kasat mata tampak seperti guyonan biasa kepada anak-anak. Jangan kira ini tidak menimbulkan dampak serius. Ejekan atau olokan secara verbal sangat berbahaya bagi anak.
BENTUK-BENTUK PERILAKU YANG DIKATEGORIKAN BULLYING
Secara umum, bullying dapat dikelompokkan pada tiga kategori yaitu, (1) bullying fisik, (2) bullying verbal, dan (3) bullying mental/psikologis. Bullying fisik merupakan jenis bullying yang bisa dilihat secara kasat mata. Siapapun bisa melihatnya karena terjadi sentuhan fisik antara pelaku bullying dengan korbannya, seperti: memukul, mendorong, mencekik, menggigit, menampar, menendang, meninju, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, merusak pakaian/property pribadi, mencakar, menodongkan senjata, menginjak kaki, melempar dengan barang,meludahi, menghukum dengan cara push up, menarik baju,menjewer, menyenggol, menghukum dengan cara membersihkan WC, memeras dan merusak barang orang lain (Yayasan Semai Jiwa Insani, 2008).
Kata-kata adalah alat yang kuat dan dapat mematahkan semangat seseorang yang menerimanya. Bullying verbal merupakan bentuk bullying yang paling umum digunakan, baik oleh anak laki-laki maupun oleh anak perempuan. Bullying verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan di hadapan orang dewasa atau teman sebaya tanpa terdeteksi. Bullying verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, penghinaan dan pernyataan- pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual, menuduh, menyoraki, memaki, mengolok-olok, menebar gosip. Selain itu, dapat berupa menakuti lewat telepon, e- mail yang mengintimidasi dan “surat- surat kaleng” yang berisi ancaman kekerasan (Colorosa, 2007).
FAKTOR PENYEBAB BULLYING
Penyebabnya ada banyak faktor. Namun yang sering ditemukan yaitu adanya ketidakseimbangan antara pelaku dengan korban. Bisa berupa ukuran badan, fisik, kepandaian komunikasi, gender hingga status sosial. Selain itu, adanya penyalahgunaan ketidakseimbangan kekuatan untuk kepentingan pelaku dengan cara mengganggu atau mengucilkan korban.
Anak-anak yang memiliki kekurangan secara fisik cenderung menjadi korban bullying seperti anak-anak yang badannya terlalu gemuk, anak yang tinggi badannya tidak sama dengan teman-temannya yang lain seperti badan yang pendek, anak yang cacat dan sebagainya. Faktor biologis juga bisa menjadi salah satu penyebab anak menjadi korban bullying seperti anak yang memiliki silsilah keturunan bisu, teman-temannya akan mengolok- oloknya karena ia berbeda dengan yang lainnya.Lingkungan mempengaruhi perkembangan anak, mereka banyak belajar dari lingkungan seperti lingkungan keluarga, sekolah, sosial dan masyarakat. Jika anak dibesarkan di lingkungan yang buruk dan sudah menganggap biasa kejadian bullying, maka kecenderungan anak akan meniru dan tindakan/perilaku yang ditampilkan di lingkungan sosialnya karena hal ini akan memungkinkan si anak ingin mempelajari bullying dalam artian ingin tahu lebih banyak tentang bullying sehingga membuat mereka mencoba untuk melakukannya.
Pada kalangan remaja, jika mereka bisa menunjukkan kekuatannya secara fisik kepada temannya, maka ia dianggap kuat. Anak-anak seperti ini biasanya meyakini bahwa dengan menunjukkan kekuatannya itu mereka memiliki keunggulan dari teman-temannya. Salah satu penyebab anak-anak seperti itu karena pengaruh media massa yang menampilkan kekerasan, agresi dan konflik sehingga anak-anak belajar dari media tersebut, seperti kekerasan yang terjadi pada olah raga yang sering menampilkan tindakan anarkis, secara tidak langsung anak-anak belajar dari kejadian yang ditampilkan tersebut. Selanjutnya salah satu yang dapat menyebabkan bullying yaitu cemburu dan prasangka yang salah terhadap seseorang atau suatu kelompok sehingga memicu timbulnya tindakan kekerasan atau bullying kepada kelompok tersebut, hal itu dilakukan untuk menyembunyikan kekurangan yang dimilikinya.
Anak-anak yang penakut sangat rentan menjadi korban bullying karena mereka tidak bisa melindungi diri mereka dari serangan pelaku bullying. Anak yang memiliki egosentris, kurang sensitif terhadap orang lain dan lingkungan serta kurang mendapat perhatian biasanya akan cenderung menjadi pelaku bullying, karena mereka menilai dari sudut pandang mereka sendiri, sehingga mereka tidak sensitif terhadap orang lain dan lingkungan mereka. Kelompok anak-anak yang pintar biasanya akan menindas anak-anak yang kurang dari mereka karena mereka merasa memiliki kekuatan/kelebihan yang tidak dimiliki orang lain sehingga dengan kelebihannya itu mereka menggunakan untuk menindas orang lain yang memiliki self-esteem yang rendah.
DAMPAK BULLYING
1. Memicu Masalah Mental
Dampak bullying bagi korban yang paling sering terjadi adalah memicu masalah kesehatan mental, seperti gangguan cemas, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD). Pengaruh bullying terhadap kesehatan mental ini biasanya dialami oleh korban dalam jangka waktu panjang. 2.Gangguan Tidur Insomnia juga menjadi salah satu dampak bullying bagi korban yang tak boleh diremehkan. Pasalnya, korban bullying sering kali mengalami stres berkepanjangan yang bisa menyebabkan hyperarousal, yaitu kondisi ketika tubuh menjadi sangat waspada sehingga mengganggu keseimbangan siklus tidur dan terjaga. 3.Penurunan Prestasi Anak yang mengalami bullying biasanya akan kesulitan untuk memusatkan fokus dan konsentrasinya saat sedang belajar. Korban bullying juga kerap merasa enggan untuk pergi ke sekolah karena ingin menghindari tindakan penindasan yang dialaminya. Bila dibiarkan terus-menerus, kondisi tersebut bisa berdampak pada penurunan prestasi akademik anak. 4. Trust IssueTrust issue merupakan kondisi ketika seseorang sulit memercayai orang-orang yang ada di sekitarnya. Kondisi ini rentan dialami oleh korban bullying karena mereka khawatir akan mendapatkan perlakuan buruk kembali bila menaruh kepercayaan terhadap orang lain.Bahkan, bila tidak segera diatasi, korban bullying yang mengalami trust issue cenderung akan menutup dirinya dan enggan bersosialisasi dengan orang lain. 5.Memiliki Pikiran untuk Balas Dendam Dampak bullying terhadap psikologi korban berikutnya adalah memiliki pikiran untuk balas dendam. Hal ini perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan seseorang melakukan tindakan kekerasan pada orang lain untuk melimpahkan kekesalannya. 6. Memicu Masalah Kesehatan Selain psikis, tindakan bullying bisa memengaruhi kondisi tubuh terutama bagi korban yang mendapatkan kekerasan secara fisik, seperti luka dan memar.Bahkan, bullying juga turut memicu stres berkepanjangan sehingga berisiko menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan, di antaranya penurunan daya tahan tubuh, sakit kepala, dan gangguan pencernaan. Perilaku ini pun dapat memperburuk kondisi anak yang telah memiliki riwayat masalah kesehatan sebelumnya, seperti gangguan jantung atau penyakit kulit.
CIRI-CIRI SISWA YANG MENJADI KORBAN BULLYING
1. Terlihat Berbeda dari Teman-Teman Lain
Orang yang tampak berbeda dari orang kebanyakan biasanya rentan di-bully. Misalnya, memiliki berat badan berlebih atau
justru kurang, memiliki penampilan rambut yang berbeda, menggunakan pakaian yang unik atau tak biasa, dan berasal dari
ras, etnis, ataupun agama berbeda. Meski begitu, berbeda yang dimaksud bukan berarti selalu buruk rupa. Terkadang, orang
yang terlampau cantik atau tampan juga dapat menjadi sasaran bully. Hal ini mesti dihentikan.
2. Terlihat Lemah
Korban bullying juga biasanya tampak lemah dan tidak dapat membela diri sendiri. Ingat, bullying melibatkan tingkatan
superior dan inferior. Saat ada satu orang yang dipandang sebagai makhluk yang lebih lemah, ia akan menjadi sasaran
kelompok yang lebih superior.
3. Terlihat Depresi
Orang-orang yang tampak stres berat, cemas, atau memiliki kepercayaan diri yang rendah biasanya akan lebih mudah di-bully
dan ditindas. Mereka menjadi target bullying karena terlihat lebih lemah dan tidak pede membela diri sendiri.
4. Memiliki Sedikit Teman
Kalau ada orang yang terlihat punya sedikit teman atau bahkan tidak punya sama sekali, biasanya ialah yang menjadi korban.
Orang yang dianggap kurang populer di lingkungannya bisa juga menjadi sasaran bullying.
5. Tidak Dapat Bersosialisasi dengan Baik
Serupa dengan mereka tidak punya banyak teman, orang yang sulit bersosialisasi biasanya juga sering sendirian. Lantaran
dianggap berbeda, ia pun rentan menjadi target bullying.
6. Menderita Gangguan Perkembangan dan Mental
Kondisi mental yang berbeda dan dianggap lemah menjadikan seseorang sering menjadi sasaran perundungan. Menurut
penelitian yang dipublikasikan jurnal Medicine tahun 2019, anak dengan kebutuhan khusus seperti disabilitas belajar,
disabilitas intelektual, attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), dan autisme rentan menjadi korban bullying di
lingkungan sosialnya.
7. Orientasi Seksual Tertentu
Mereka yang memiliki orientasi seksual dengan sesama jenis atau lebih dikenal dengan istilah LGBT (lesbian, gay, bisexual, dan
transgender) rentan menjadi target bullying. Bahkan, bullying yang terjadi tidak hanya secara verbal, tetapi juga fisik.
PERAN GURU BK/KONSELOR SEKOLAH MENCEGAH TINDAKAN BULLYING
Bullying sebagai salah satu masalah besar yang harus dicegah karena dapat menimbulkan trauma pada korbannya sehingga membuat kehidupan korban bullying menjadi tidak efektif dan siswa yang menjadi pelaku bullying perlu digali lebih dalam lagi apa yang latar belakangnya melakukan bullying sehingga guru BK/Konselor bisa mengambil tindakan yang tepat untuk penanggulangan permasalahan bullying.
Guru Bimbingan Konseling (BK) biasanya dimiliki oleh sekolah dan bertugas untuk menangani kasus yang ada di lingkungan sekolah. Apalagi kasus yang melibatkan siswa siswi sekolah, salah satunya kasus bullying. Peran guru BK dalam mengatasi bullying sangat dibutuhkan untuk memantau perilaku siswa yang tidak sesuai dengan visi dan misi pendidikan nasional.
Selain itu, guru BK juga memiliki peran penting dalam keberhasilan siswa agar bisa menjalani proses pembelajaran di sekolah dengan baik. Guru BK bertugas untuk mengetahui dan memahami perilaku siswa dan memberikan konseling kepada siswa yang menjadi korban dan pelaku bullying di sekolah. Dalam menangani kasus tersebut, biasanya guru BK memiliki latar belakang ilmu pendidik, sosial ataupun psikologi sebagai acuan dalam memberikan konseling kepada siswa.
Guru BK/Konselor dalam konteks menjalankan perannya di sekolah harus menyediakan pelayanan yang baik dan optimal untuk seluruh siswa sesuai dengan tanggungjawabnya serta merencanakan layanan sesuai dengan kebutuhan siswa di sekolah, sehingga dengan demikian pelayanan yang diberikan kepada siswa bisa tepat sasaran dan berefek pada perubahan tingkal laku siswa ke arah yang lebih baik. Guru BK/Konselor juga perlu melakukan kolaborasi yaitu melakukan pendekatan-pendekatan untuk mengambil kebijakan dalam mencegah perilaku bullying sehingga perilaku bullying tidak terjadi lagi di sekolah. Pelaku bullying perlu diberikan perhatian dan empati disamping kontrol dan meminimalkan peluang-peluang terjadinya penindasan. Selain itu, guru BK/Konselor perlu melakukan kerjasama dengan berbagai pihak seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru mata pelajaran serta orang tua. Hal ini penting, agar koordinasi dan suvervisi terhadap pencegahan dan pengentasan bullying benar-benar terjalin sehingga bullying tidak membudaya dan tidak dianggap biasa lagi oleh siswa di sekolah.

