Mata Banua Online
Rabu, April 22, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Dokter Forensik se-Indonesia Kunjungi Stasiun Riset Bekantan

by Mata Banua
17 September 2024
in Banjarmasin, Indonesiana
0
D:\2024\September 2024\18 September 2024\2\2\1 (MASTER).jpg
Dr Amalia Rezeki, selaku founder sekaligus pengelola Stasiun Riset Bekantan berfoto bersama para dokter forensik se-Indonesia yang mengujungi Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala (Batola) .(Foto:mb/ant)

BANJARMASIN – Pertemuan Ilmiah Tahunan dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI), di Banjarmasin, Jumat (13/9), ditutup dengan kegiatan fieldtrip ke Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala (Batola).

Sekitar seratus dokter forensik se-Indonesia ini menyempatkan diri berkunjung ke kawasan yang dijadikan konservasi alami bekantan (Nasalis larvatus), yang sekarang menjadi bagian dari situs Geopark Meratus.

Berita Lainnya

Pemko Dorong UMKM Urus Perizinan dan Go Digital

Pemko Dorong UMKM Urus Perizinan dan Go Digital

21 April 2026
Tingkatkan Pelayanan, PAM Prioritaskan Tujuh Proyek

Tingkatkan Pelayanan, PAM Prioritaskan Tujuh Proyek

21 April 2026

Tamu eksklusif ini disambut langsung oleh Dr Amalia Rezeki, selaku founder sekaligus pengelola Stasiun Riset Bekantan yang menyebut suatu kehormatan dikunjungi dari rombongan dokter forensik se-Indonesia.

“Tentunya kunjungan ini sangat positif bagi pengenalan upaya perlindungan primata endemik Kalimantan yang menjadi satwa ikon atau maskot kebanggaan Provinsi Kalimantan Selatan,” jelas Amel sebutan akrab dosen pendidikan Biologi di Universitas Lambung Mangkurat ini.

Lebih lanjut, menurut Amel, para dokter ini tidak saja diajak melihat-melihat kawasan restorasi mangrove rambai (Sonneratia caseolaris) dan mengamati prilaku bekantan dialam liar tapi juga diajak melakukan aksi konservasi penanaman pohon serta pelepas liaran kura-kura air tawar jenis Smiling terrapin (Siebenrockiella crassicollis), dalam rangka pulihkan ekosistem lahan basah di kawasan tersebut.

Sementara itu, dr Farhad Moegis, SpFM, kedokteran Forensik dan Medikolegal Universitas Airlangga, Surabaya, Pulau Curiak contoh yang baik dan harus dilestarikan untuk tempat-tempat keanekaragaman hayati, flora dan fauna khas Indonesia.

“Apalagi ada konservasi fauna yang sudah hampir punah seperti bekantan,” jelasnya.

Menurutnya, aktivitas di Pulau Curiak terlihat perannya sangat baik dilihat dari perluasan lahan dengan menanam pohon mangrove dan juga untuk menjaga eksistensi bekantan di Kalimantan Selatan.

Farhad Moegis berharap dengan banyaknya pemerhati baik dari pengunjung dalam maupun luar negeri dapat membantu konservasi bekantan hingga anak cucu bangsa generasi penerus dapat mengetahui keindahan aneka ragam hayati terutama bekantan. an/ani

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper