Mata Banua Online
Sabtu, April 18, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Manabur Kebaikan Menjelang Pilkada

by Mata Banua
2 September 2024
in Opini
0
D:\2024\September 2024\3 September 2024\8\Nanang Qosim.jpg
Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang,Peneliti dan Penulis Buku)

 

Beberapa kali pileg, pilpres, juga tidak terkecuali pilkada yang akan datang memberikan pelajaran berharga. Diantaranya tentang betapa pentingnya calon pemimpin memiliki investasi kebaikan di hati masyarakat. Tatkala seorang mencalonkan dirinya sebagai pemimpin yang harus dipilih langsung oleh rakyat, maka tidak akan mungkin seseorang yang belum dikenal sama sekali akan dipilih oleh rakyat. Rakyat yang semakin kritis dan terbuka seperti ini akan memilih orang yang dikenal dan juga mereka yang memiliki track record yang baik.

Berita Lainnya

Kebiadaban Yang Dilegalkan

Kebiadaban Yang Dilegalkan

16 April 2026
The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

16 April 2026

Kebaikan yang sudah ditunjukkan dan diberikan pada masyarakat itulah yang disebut sebagai investasi kebaikan. Hanya memang tidak mudah berinvestasi dalam bentuk itu. Berinvestasi berupa benda atau uang jauh lebih mudah. Kapan saja dan di mana saja, jika kita punya, bisa kita lakukan. Tetapi, tidak demikian berinvestasi kebaikan. Variabelnya sedemikian banyak.

Selain itu, banyak orang tidak sadar bahwa hidup ini adalah berinvestasi. Sehari-hari, kita ini tidak saja dilihat dan dicatat amal kita oleh malaikat, melainkan juga oleh orang-orang di sekeliling kita. Catatan yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling kita itu, biasanya bukan menggunakan kertas melainkan ditulis di dalam hati, sehingga sulit terhapus. Kita sadari atau tidak, ternyata setiap orang memiliki catatan itu. Tatkala akan dilakukan pemilihan jabatan tertentu, seperti pilkada, pileg, dan pilpres, maka catatan itu akan dibuka. Bahkan, sebatas dalam pemilihan ketua RT atau RW, catatan-catatan dalam hati masyarakat itu akan dilihat dan dijadikan dasar tatkala mereka memilihnya.

Catatan di Hati Masyarakat

Track record seseorang di hati masyarakat tidak saja yang bernilai positif, tetapi juga sebaliknya catatan yang negatif. Perilaku masyarakat dalam memilih calon pemimpin, biasanya sama dengan ketika mereka akan membeli barang di toko atau di pasar. Catatan-catatan negatif biasanya lebih gampang diingat daripada catatan positifnya. Oleh karena itulah, memang hidup ini seyogianya membuat catatan-catatan yang positif.

Memang menjelang dilakukan pemilihan selalu disediakan waktu kepada masing-masing calon untuk berkampanye. Dalam kesempatan itu, semua kandidat diberi kesempatan untuk mengemukakan visi, misi, dan program kerjanya jika ia terpilih. Akan tetapi, biasanya orang lebih mempercayai track record masing-masing sebelumnya daripada visi, misi, dan program kerja yang ditawarkan itu. Singkatnya, track record seseorang lebih penting daripada ungkapan-ungkapan menarik di saat kampanye itu.

Namun, sekalipun betapa pentingnya investasi kebaikan itu, biasanya orang baru menyadarinya tatkala sedang memerlukannya. Para kandidat tatkala menjelang pemilihan kemudian mematut-matutkan diri, bahwa dia adalah layak menduduki posisi yang akan dipilih oleh rakyat. Mereka kemudian ke sana-sini memperkenalkan diri dengan dalih minta restu dan/atau dengan berbagai cara lainnya. Mereka kemudian menyanggupi atau berjanji akan berjuang untuk rakyat. Janji itu tidak ada salahnya diberikan, toh yang disanggupi adalah sebatas akan melakukan itu. Kesanggupan itu bukan menyangkut tentang hasil yang akan diraih.

Kiranya pada saat seperti ini, tatkala banyak orang mengalami kesulitan hidup, jika ada calon pemimpin yang benar-benar telah berinvestasi kebaikan yang besar, akan mudah dipilih oleh rakyat. Akan tetapi, karena investasi itu ternyata tidak mudah dilakukan, tidak banyak orang yang memilikinya.

Untuk bisa dicintai masyarakat, maka sudah seharusnyalah banyak berbuat untuk mereka dan bersabar menghadapi seluruh kondisi yang tidak hanya selalu menyenangkan. Bayangkan ketika kita harus menjadi orang yang benar-benar ikhlas, dengan banyak menolong dan memberi. Padahal, mungkin tidak selalu yang diberikan pertolongan memberikan timbal balik walau sedikit.

Untuk itu, seorang calon pemimpin umat jangan sampai memberi kebaikan sebatas penghargaan orang lain terhadap dirinya. Bila pemberian dihargai, kebaikan diteruskan. Bila dicaci, dia cukupkan.

Belajar dari Kisah Nabi

Kita masih ingat kisah Nabiyullah Yunus AS yang ditarbiyah oleh Allah SWT atas rasionalisasi dakwah yang dijalaninya. Saat itu pertimbangan Nabi Yunus AS untuk meninggalkan kaumnya bisa dibenarkan oleh akal sehat. Namun, di balik itu Allah SWT menginginkan agar kebaikan berupa dakwah itu diberikan tanpa batas, walau makan hati.

Kisah Rasulullah ketika berada di Thaif dengan segala kesulitan dan kesedihan, beliau bersama Zaid RA menghadang lemparan batu dan cacian masyarakat Thaif. Saat itu ada tawaran dari malaikat penjaga bukit untuk mengimpitkan bukit Abu Qubais dan bukit Ahmar kepada mereka. Namun, tawaran ini ditolak oleh Rasulullah, bahkan beliau berdoa: “Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam). Dengan doa ini anak keturunan masyarakat Thaif menjadi generasi Rabbani pendukung dakwah nabi di kemudian hari.

Begitu pula seharusnya bagi para pemimpin umat. Walau secara akal sehat yang perlu ditanamkan dalam hati adalah kemenangan itu milik Allah. Kemenangan tentu saja dapat terukur dengan mudah, yaitu dengan meraih suara sebanyak-banyaknya.

Kecintaan itu harus muncul secara alami dengan proses yang berkesinambungan. Kebaikan yang dilakukan pun tidak boleh berpamrih dan berbatas. Tidak ada dalam kamus kebaikan, setelah pemilu selesai, kebaikan kita pun selesai. Karena itu, semua pihak harus terus bekerja dengan niat ikhlas kepada Allah SWT untuk berbuat kebajikan kepada siapa saja tanpa batas.

Semoga ke depan, belajar dari proses demokrasi yang sedang berjalan di tanah air ini, semua orang menjadi sadar bahwa calon pemimpin pada tingkatan apa pun harus berinvestasi dalam bentuk kebaikan itu. Sehingga dengan begitu, proses demokrasi sekaligus berhasil menyadarkan kepada semua agar selalu berbuat baik. Setidak-tidaknya sebagai investasi kebaikan bagi hidupnya bukan hanya dalam proses pilkada. Semoga.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper