Mata Banua Online
Senin, April 20, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Dede Yusuf: Sistem Zonasi Tak Bisa Atasi Masalah PPDB

by matabanua
5 Juli 2024
in Indonesiana
0
Dede Yusuf

JAKARTA –  Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan konsep zonasi  yang berlaku saat ini dinilai tidak bisa mengatasi permasalahan sekolah sekolah yang ada.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi  dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/7).

Berita Lainnya

Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Polisi Dalami Aksi Pengeroyokan di Lesehan Kopi Padat Karya

19 April 2026
Pansus II Perkuat Kualitas Rekomendasi LKPj 2025

Pansus II Perkuat Kualitas Rekomendasi LKPj 2025

19 April 2026

Menurutnya  hal  tersebut dikarenakan jumlah sekolah jenjang-perjenjang pendidikan kini tidak sama dengan jumlah siswa di jenjang sebelumnya. Ia menyadari, selama ini jumlah siswa tak sebanding dengan daya tampung sekolah.

“Jadi kalau kita berbicara SD, jumlahnya katakanlah misalnya 5 juta siswa. SMP hanya sanggup menampung mungkin hanya 3 juta siswa. Maka ada dua juta lainnya yang akhirnya boleh dikatakan belum tentu mendapat sekolah. Demikian juga SMP menuju kepada SMA jumlah sekolahnya kurang,”  jelas Dede

Dalam diskusi bertajuk “Mencari Solusi Menuju PPDB yang Transparan dan Efektif” itu, Politikus Partai Demokrat ini mengungkapkan, anggapan adanya sekolah favorit menandakan ketidakmampuan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  dan pemerintah daerah memenuhi kualitas guru dan fasilitas pendidikan bagi siswa.

“Apa sih yang disebut favorit atau tidak favorit itu banyak, salah satunya adalah sarana-prasarana akses gurunya lalu kemudian juga mungkin ruang belajar dan lain-lain,” ungkapnya pula.

Deden mengungkapkan penerimaan siswa di sekolah favorit dengan nilai pun masih dianggap tidak adil, maka harus mengganti formula baru untuk sistem penerima.

Faktanya, lanjut Dede, masih banyak orang yang ingin mengejar sekolah-sekolah favorit walaupun saat ini sudah dizonasikan tapi realitanya sekolah favorit masih tetap jadi sasaran siswa atau pun orang tua siswa.

Ditambahkannya  sejak diterapkan PPDB sistem zonasi pada 2017 lalu, sistem ini tidak mampu mengatasi permasalahan yang ada.  Seharusnya kalau sudah lama ditetapkan, dan tidak mampu mengatasi permasalahan yang ada ,tentunya  sistem ink harus digantu dan dicarikan formula yang tepat guna mengatasi permasalahan  pendidikan yang ada saat ini.

“Padahal harapannya adalah dengan sistem PPDB dan zonasi ini sekolah-sekolah lain di-upgrade supaya kualitasnya sama dengan sekolah favorit tersebut sehingga sekolah lain pun juga menjadi tujuan daripada siswa-siswa,” tandas Dede. riz

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper