Oleh: Nor’alimah, S.Pd
Viral di sosial media seorang pedagang ditemukan tewas di sebuah toko perabot kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Hasil penyelidikan polisi, pelaku nyatanya dua anak kandungnya sendiri. Menurut Nicolas, anak berinisial K masih berusia 17 tahun, sementara P berumur 16 tahun. Kasus pembunuhan tersebut kini ditangani oleh Resmob Polda Metro Jaya (Liputan6.com 23/06/2024)
Di tempat yang lain seorang pemuda di Pesisir Barat, Lampung, berinisial SP (19) melakukan tindakan kekerasan terhadap ayah kandungnya yang menderita strok hingga meninggal. Pelaku tega menganiaya ayahnya hingga meninggal hanya karena kesal diminta mengantarkan ayahnya ke kamar mandi. (Beritasatu.com, 14/06/2024)
Pembunuhan tersebut tidak lain adalah pembunuhan orang tua yang dilakukan oleh anaknya sendiri. Hal ini menggambarkan betapa rapuhnya keluarga muslim dan rusaknya generasi. Tentu kita mempertanyakan, mengapa semua ini bisa terjadi?
Saat ini sistem yang diterapkan adalah sekularisme-kapitalisme. Sekularisme adalah sistem yang memisahkan urusan agama dan kehidupan, agama hanya berperan pada aspek ritual semata. Sistem ini telah merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. Sekularisme melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, rapuh dan kosong jiwanya. Sedangkan kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan, abai pada keharusan untuk berbakti kepada orang tua (birrul walidain).
Sistem pendidikan sekuler hari ini tidak mendidik agar memahami birul walidain dan mengamalkannya dalam kehidupan. Karena berfokus kepada kemampuan bisa diserap oleh dunia kerja. Sehingga lahirlah generasi rusak, baik rusaknya hubungan dengan Allah sebagai pengatur kehidupan, maupun manusia lainnya termasuk orang tua.
Penerapan sistem hidup sekuler ini gagal memanusiakan manusia. Fitrah dan akal manusia tidak terpelihara, bahkan menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta. Sistem ini memandang Islam sebagai agama ritual, telah menghilangkan jati diri generasi. Generasi tidak memahami bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Mereka berperilaku sebebas-bebasnya tanpa peduli halal haram. Mereka hanya berfikir bagaimana mendapatkan kesenangan materi sebanyak-banyaknya.
Pandangan terhadap orang tua pun keliru, mereka dipandang sebagai objek yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Jika orang tuanya membawa manfaat materi akan disayang. Sebaliknya jika orang tua menjadi beban akan diabaikan karena dianggap menyusahkan.
Akibat penerapan sistem hidup kapitalisme, banyak orang yang mengalami gejala yang sama, yaitu sama-sama tidak hormat terhadap orang tuanya dan memandang orang tuanya dari kacamata manfaat. Inilah efek negara yang hanya sebagai regulator bukan sebagai pengurus rakyat. Abai terhadap pembentukan kepribadian warga negaranya, agar menjadi pribadi yang taat dan takwa. Oleh karena itu, selama sistem sekuler-kapitalisme diterapkan perilaku buruk anak terhadap orang tua akan terus terjadi.
Berbeda dengan sistem Islam akan mendidik generasi menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam, yakni memiliki pola pikir dan sikap sesuai Islam. Kepribadian Islam ini yang akan menjadikan seorang anak berbakti dan hormat pada orang tuanya, dan memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi. Karena Islam melarang keras berbuat durhaka kepada orang tua. Allah SWT berfirman di dalam Alqur’an Surah Al-Isra ayat 23
(Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.)
Inilah salah satu aturan Islam terkait hubungan anak dan orang tua, kalau berkata “ah” saja tidak boleh apalagi sampai memukul hingga membunuh mereka tentu haram hukumnya. Negara Islam adalah negara yang serius mengurusi generasi, dengan mekanisme yang telah ditetapkan oleh syariat. Mekanisme inilah yang akan menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal.
Melalui sistem pendidikan Islam generasi dididik berlandaskan aqidah Islam. Sehingga terbentuk generasi berkepribadian Islam secara masal. Mereka tidak hanya sekedar menimbang segala hal dengan kacamata manfaat, tetapi disesuaikan dengan halal dan haram. Mereka tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat dan selalu berusaha menaati syariat. Tidak terbesit di dalam jiwanya berbuat jahat, apalagi sampai membunuh orang tuanya sendiri.
Pendidikan ini juga dilakukan terhadap keluarga-keluarga muslim, agar mereka memahami hak dan kewajibannya dalam keluarga. Sehingga terbentuk suasana kasih sayang dan ketaqwaan. Masyarakat dalam sistem Islam adalah masyarakat yang benci dengan kemaksiatan dan mencintai ketaatan. Sehingga akan terjadi kontrol masyarakat melalui aktivitas saling menasihati.
Jika upaya-upaya ini telah dilakukan, namun masih ditemukan kemaksiatan termasuk kekerasan anak terhadap orang tua. Maka negara akan menegakkan sistem sanksi yang menjerakan bagi pelaku, sanki ini dapat mencegah anak-anak lainnya melakukan kejahatan serupa. Demikianlah Islam membentuk generasi muslim yang taat dan senantiasa berbakti kepada orang tua.

