JAUH sebelum Karen Armstrong menulis buku Sacred Nature yang menjelaskan bahwa setiap agama memiliki pandangan mengenai kesakralan alam, Al-Qur’an telah lebih dahulu mengajarkan bahwa seluruh ciptaan Tuhan senantiasa bertasbih, mengesakan, dan memuji Sang Pencipta. Bagi manusia, banyak makhluk tampak diam, bisu, bahkan seolah-olah mati tanpa aktivitas.

Gunung berdiri tegak, batu terhampar tanpa suara, pepohonan hanya bergoyang diterpa angin, sementara sungai mengalir mengikuti hukumnya. Namun di balik kesunyian itu berlangsung kehidupan yang hanya diketahui oleh Allah. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka” (QS. Al-Isra’ [17]: 44).

Ayat ini menghadirkan cara pandang yang sangat berbeda terhadap alam. Alam bukan sekadar kumpulan benda mati yang boleh diperlakukan sesuka hati manusia. Alam adalah komunitas makhluk yang memiliki hubungan spiritual dengan Tuhannya. Masing-masing memiliki cara sendiri dalam beribadah, menaati hukum-hukum yang telah Allah tetapkan, dan menjalankan fungsi penciptaannya. Matahari tidak pernah terlambat terbit, bulan tidak keluar dari garis edarnya, burung terbang mengikuti fitrahnya, dan pepohonan terus menghasilkan oksigen bagi kehidupan. Semua itu merupakan bentuk ketundukan kepada kehendak Allah, sebuah tasbih yang mungkin tidak terdengar oleh telinga manusia, tetapi nyata dalam pandangan Tuhan.

Karena itu, tasbih tidak selalu berupa rangkaian lafaz yang diucapkan sebagaimana manusia berzikir. Dalam perspektif Al-Qur’an, tasbih juga terwujud dalam ketaatan setiap makhluk menjalankan hukum penciptaannya (sunnatullah). Air mengalir memberi kehidupan, tanah menumbuhkan tanaman, lebah menyerbuki bunga, dan hutan menjaga keseimbangan iklim.

Ketika setiap makhluk menjalankan perannya, sesungguhnya mereka sedang “beribadah” sesuai bahasa dan cara yang Allah anugerahkan kepada mereka.

Kesadaran bahwa seluruh alam sedang bertasbih melahirkan konsekuensi etis yang sangat mendalam. Manusia tidak lagi memandang dirinya sebagai satu-satunya makhluk mulia yang bebas mengeksploitasi ciptaan lain. Sebaliknya, manusia hanyalah salah satu anggota dari “jamaah besar” para makhluk yang sama-sama menghambakan diri kepada Allah.

Yang membedakan manusia hanyalah amanah dan tanggung jawab yang lebih besar sebagai khalifah di bumi. Kemuliaan itu bukanlah lisensi untuk menguasai secara sewenang-wenang, melainkan mandat untuk menjaga harmoni kehidupan.

Ironisnya, justru makhluk yang diberi akal dan amanah inilah yang sering menjadi penyebab rusaknya keteraturan alam. Penebangan hutan secara liar, pencemaran sungai, eksploitasi tambang tanpa kendali, hingga perubahan iklim akibat keserakahan manusia merupakan bentuk pembangkangan terhadap amanah kekhalifahan. Ketika manusia merusak alam, pada saat yang sama ia mengganggu “orkestra tasbih” semesta yang telah Allah ciptakan dngan begitu indah dan seimbang.

Dari sinilah lahir etika ekologis Islam. Menghormati alam bukan berarti menyembah alam, melainkan menghormati sesama makhluk Allah yang sedang melaksanakan ibadah kepada-Nya. Menanam pohon berarti membantu makhluk hidup lain terus bertasbih.

Menjaga kebersihan sungai berarti menjaga media kehidupan jutaan makhluk yang juga memuji Allah. Melindungi satwa dan hutan berarti menjaga ruang agar tasbih alam tetap bergema. Setiap tindakan pelestarian lingkungan pada hakikatnya merupakan bagian dari penghormatan terhadap ibadah makhluk-makhluk Allah.

Pada akhirnya, konsep tasbih alam mengajarkan kerendahan hati. Manusia bukan pusat alam semesta, melainkan bagian dari semesta yang seluruh penghuninya sama-sama tunduk kepada Tuhan. Jika batu, air, pepohonan, burung, dan gunung tidak pernah berhenti bertasbih kepada Allah, sungguh tidak pantas manusia-makhluk yang dikaruniai akal dan hati-justru menjadi pihak yang merusak rumah bersama tempat seluruh makhluk mengagungkan nama-Nya. Merawat bumi dengan demikian bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga wujud penghormatan terhadap tasbih agung yang terus berkumandang di seluruh penjuru alam semesta.

Pada akhirnya, krisis lingkungan yang sedang kita hadapi bukan semata-mata krisis ekologi, melainkan juga krisis spiritual. Kerusakan hutan, tercemarnya sungai, punahnya berbagai spesies, dan memburuknya iklim sesungguhnya berawal dari cara pandang manusia yang memisahkan alam dari dimensi ketuhanan.

Ketika alam dipandang hanya sebagai komoditas ekonomi, manusia merasa berhak menebang tanpa menanam, mengambil tanpa memulihkan, dan mengeksploitasi tanpa batas. Padahal, menurut Al-Qur’an, alam bukanlah benda mati yang bisu. Ia adalah kumpulan makhluk yang terus bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang hanya dipahami oleh Penciptanya.

Karena itu, tugas manusia bukan sekadar mengelola bumi, tetapi juga menghormati ibadah seluruh makhluk yang hidup di dalamnya. Menjaga hutan berarti menjaga “mihrab” pepohonan yang sedang bertasbih. Membersihkan sungai berarti memelihara aliran kehidupan yang mengagungkan nama Allah. Melindungi satwa berarti menjaga makhluk-makhluk yang juga tunduk kepada-Nya. Setiap ikhtiar melestarikan lingkungan pada hakikatnya adalah bentuk penghormatan terhadap tasbih semesta.

Barangkali persoalan terbesar manusia modern bukanlah karena alam berhenti memuji Tuhan, melainkan karena manusialah yang berhenti mendengar pujian itu. Ketika telinga batin menjadi tumpul, gunung hanya dipandang sebagai cadangan tambang, hutan hanya dianggap persediaan kayu, sungai hanya dilihat sebagai saluran limbah, dan laut sekadar ruang eksploitasi. Sejak saat itulah kerusakan bermula.

Maka, jalan keluar dari krisis lingkungan tidak cukup dengan teknoogi, regulasi, atau berbagai kesepakatan internasional. Semua itu penting, tetapi harus diawali dengan membangkitkan kembali kesadaran spiritual bahwa bumi adalah ruang ibadah bersama, tempat setiap makhluk mengumandangkan tasbih kepada Allah.

Mungkin sudah saatnya manusia belajar kembali menjadi pendengar yang baik. Mendengar desir angin sebagai zikir pepohonan, gemericik sungai sebagai pujian yang tak pernah putus, kicau burung sebagai tasbih kehidupan, dan keheningan gunung sebagai tanda ketundukan kepada Sang Pencipta.

Ketika manusia kembali mampu mendengar tasbih alam, pada saat itulah ia akan malu untuk merusaknya. Sebab ia sadar, merawat bumi bukan hanya kewajiban ekologis, melainkan juga bagian dari ibadah dan penghormatan kepada sesama makhluk yang bersama-sama mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika manusia kembali mampu mendengar tasbih alam, pada saat itulah ia akan malu untuk merusaknya. Sebab ia sadar, merawat bumi bukan hanya kewajiban ekologis, melainkan juga bagian dari ibadah dan penghormatan kepada sesama makhluk yang bersama-sama mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. (*)