JAKARTA – Perum Bulog menargetkan Beras Kita dapat lang­sung dipasarkan paling cepat sepekan setelah men­dapat persetujuan pemerintah melalui rapat ko­or­di­nasi terbatas (rakortas).

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pem­ba­hasan i tingkat teknis sengaja di­perce­pat agar pelaksanaan program tidak tertunda setelah keputusan pemerintah terbit.

“Kami nunggu nanti kebijakan dari rakortas. Begitu diputuskan di rakortas, ka­lau bisa seminggu kemudian lang­sung bisa operasional,” ujar Rizal dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Ja­karta Selatan.

Menurut Rizal, Bulog aat ini masih me­n­unggu jadwal rakortas yang ren­ca­nanya digelar pada Jumat (17/7) ini.

Adapun konsep peluncuran Beras Kita telah lebih dulu disampaikan ke­pada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ia mengatakan Bulog sengaja lebih dulu menggandeng Persatuan Pe­ngusaha Penggilinan Padi dan Pe­ng­u­saha Beras Indonesia (Perpadi) sebelum rakortas digelar agar seluruh tahapan teknis dapat disiapkan sejak dini.

“Jadi tidak baru setelah diputuskan rakortas kami baru mau diskusi. Bukan. Tapi diawali diskusi dulu dengan teman-teman Perpadi, dengan peng­u­sa­ha-pengusaha. Begitu putusan ra­kor­tas keluar, langsung bisa dieksekusi,” ujarnya.

Sebagai thap awal, Bulog men­yi­apkan 2 juta ton cadangan beras pe­me­rintah (CBP) yang akan diolah me­lalui proses rice to rice menjadi beras premium sebelum dipasarkan dengan me­rek Beras Kita.

Meski demikian, Rizal memastikan ke­hadiran Beras Kita tidak akan me­ng­gantikan seluruh produk beras ko­mer­sial yang selama ini sudah dimiliki Bulog, termasuk merek Befood.

“Tetap berjalan seperti biaanya saja, tidak ada perubahan. Cuma Beras Ki­ta ini tujuannya untuk lebih mem-fa­­miliarkan, supaya lebih mudah di­te­ri­ma masyarakat. Berasnya pemerintah, berasnya rakyat, maksudnya seperti itu,” ujarnya.

Menurut Rizal, penamaan Beras Ki­ta dipilih agar lebih mudah dikenali mas­yarakat, mengikuti pola penamaan produk pangan pemerintah seperti Minyakita dan Gula Mani Kita.

Sementara itu, Bulog bersama Perpadi juga tengah menyusun skema teknis pelaksanaan program, mulai dari mekanisme penyaluran, proses peng­gi­lingan, hingga pemanfaatan hasil sam­ping pengolahan beras.

“Nanti kita akan buat rapat teknis minggu-minggu ini terkait skemanya se­perti apa, teknis penggilingannya se­perti apa, hasil sampingnya juga nanti seperti apa. Itu akan ddiskusikan ber­sama teman-teman Perpadi,” ujar Rizal.

Sebelumnya, Bulog mengusulkan pe­ru­bahan identitas beras program Sta­bi­litas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi Beras Kita. Tulisan SPHP tetap akan dicantumkan pada ke­masan sebagai penanda program pe­me­rintah, namun ukurannya lebih kecil.

Bulog juga menargetkan produksi sekitar 2 juta ton Beras Kita untuk pasar ko­mersial setelah memperole per­se­tu­ju­an pemerintah.

Untuk tahap awal, produk tersebut akan dipasarkan dalam kemasan 5 kilogram, sementara harga jualnya ma­sih menunggu keputusan rakortas yang dikoordinasikan Kementerian Ko­or­di­na­tor Bidang Pangan. cnn/mb06