BANJARMASIN – Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Selatan Lisna Prihantini menegaskan kehadiran ayah merupakan investasi bagi karakter dan masa depan anak sebagai upaya memperkuat pengasuhan keluarga di tengah fenomena fatherless.
Lisna Prihantini di Banjarmasin, Rabu, mengatakan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PPK) 2025 menunjukkan 27,1 persen keluarga yang memiliki anak di Kalimantan Selatan mengalami minim keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
“Kondisi itu berarti sekitar satu dari empat anak tumbuh dengan peran ayah yang belum optimal sehingga memerlukan perhatian bersama dalam membangun keluarga yang berkualitas,” ujarnya.
Menurut dia, keterlibatan ayah tidak lagi dapat dimaknai sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, melainkan juga mencakup kehadiran secara emosional melalui komunikasi, pendampingan, serta keteladanan.
“Peran tersebut semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan beragam tantangan yang dihadapi anak dalam proses tumbuh kembang,” katanya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, BKKBN menjalankan program prioritas Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang diperkuat melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GEMAS).
Lisna menjelaskan berbagai gerakan itu dirancang untuk mendorong ayah lebih aktif terlibat dalam aktivitas keseharian anak sekaligus mempererat hubungan emosional di lingkungan keluarga.
Ia mengatakan bahwa perubahan tidak harus diawali melalui langkah besar, melainkan dapat dibangun dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti meluangkan waktu berbincang, mendampingi proses belajar, mendengarkan cerita, hingga memberikan dukungan emosional sesuai kebutuhan anak pada setiap tahapan tumbuh kembang.
Oleh karena itu, dia mengajak seluruh ayah di Kalimantan Selatan untuk benar-benar hadir dalam kehidupan anak, bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga meluangkan waktu, mendengarkan, mendampingi, dan menjadi teladan.
“Karena anak yang tumbuh bersama ayah yang terlibat akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi masa depan. Semangat ‘Ayah Wajib Hadir’ harus menjadi gerakan bersama demi mewujudkan keluarga Indonesia yang berkualitas,” tutur Lisna.
Sementara, Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel Muhammad Syarifuddin mengatakan fenomena fatherless menjadi tantangan serius pembangunan keluarga karena dapat melemahkan pembentukan karakter, kesehatan mental, hingga ketahanan sosial generasi muda apabila ayah hanya hadir secara fisik tanpa keterlibatan emosional dalam kehidupan anak.
Pada peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-33 Tingkat Provinsi Kalsel, dia menegaskan ayah memiliki peran strategis sebagai figur yang membangun karakter, menanamkan nilai, serta memberikan rasa aman bagi anak.
“Kehadiran ayah merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless, di mana ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara psikologis. Kehadiran ayah adalah investasi karakter yang menentukan masa depan anak,” ujar Syarifuddin.
Melalui tema Harganas Ke-33 “Ayah Wajib Hadir”, BKKBN mengajak orang tua agar pengasuhan anak dipahami sebagai tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Penguatan peran ayah diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni peringatan Harganas, melainkan menjadi budaya pengasuhan yang mampu melahirkan generasi berkarakter, tangguh, dan berkualitas. ant
