JAKARTA – Harga beras kem­bali menguat pada Juni 2026 di se­luruh rantai distribusi, mulai da­ri tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran.

Kenaikan tersebut mem­per­pan­jang tren penguatan harga se­jak aal tahun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 0,97% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan meningkat 6,96% dibandingkan Juni 2025 (year-on-year/yoy). Ke­naikan ter­tinggi terjadi pada beras pre­mi­um. Di tingkat penggilingan, har­ga beras premium naik 1,01% se­cara bulanan dan melonjak 11,66% secara tahunan.

Sementara itu, harga beras me­dium meningkat 0,92% secara b­u­lanan dan 5,10% secara ta­hunan. Tekanan harga juga berlanut di tingkat grosir. BPS men­catat inflasi beras grosir men­ca­pai 0,82% secara bulanan dan 5,12% secara tahunan.

Di tingkat konsumen, harga be­ras eceran masih mengalami ke­naikan meski dengan laju yang le­bih terbatas. Inflasi beras eceran tercatat sebesar 0,45% secara bu­lan­an dan 3,98% secara tahunan.

BPS menjelaskan angka ter­sebut merupakan rata-rata harga be­ras nasional yang mencakup seluruh kualitas beras dan se­lu­ruh wilayah Indonesia.

Kenaikan harga pada Juni memperlihatkan tekanan di pasar beras belum mereda. Setelah men­jadi salah satu penyumbang inflasi pada bulan sebelumnya, komoditas ini masih mencatatkan kenaikan di seluruh mata rantai dis­tribusi.

Tren tersebut terjadi ketika pe­merintah masih memiliki Ca­da­ngan Beras Pemerintah (CBP) da­lam jumlah besar. Kondisi ini me­nunjukkan bahwa ke­ter­se­diaan stok belum sepenuhnya ­mam­pu meredam kenaikan harga di pasar sehingga efektivitas dis­tribusi dan program stabilisasi men­jadi faktor yang akan me­nen­tu­kan pergerakan harga beras pada bulan-bulan berikutnya. bisn/mb06