JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank In­do­nesia (BI Rate) membawa dampak bagi mas­ya­raka maupun pelaku usaha, terutama yang memiliki pinjaman dengan bunga me­ng­am­bang atau floating rate. Kondisi ini membuat bia­ya pinjaman berpotensi meningkat sehingga per­lu diantisipasi sejak dini.

Financial Planner sekaligus CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, mengatakan ke­naikan BI Rate umumnya akan di­ikuti oleh penyesuaian suku bu­nga kredit perbankan. Dam­pak­nya, debitur dengan skema bunga mengambang berisiko me­ng­hadapi cicilan yang lebih besar di­banding sebelumnya.

Menurut Melvin, individu mau­pun pelaku usaha yang me­mi­liki pinjaman perlu mulai men­yusun strategi pengelolaan utang agar tidak terbebani kenaikan bunga dalam jangka panjang. “Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mempercepat pe­lunasan sebagian pokok pin­jam­an atau mengurangi bebn ci­cil­an jika memungkinkan,” ujar­nya.

Ia menjelaskan, pengelolaan uta­ng menjadi semakin penting ke­tika tren suku bunga bergerak na­ik. Dengan mengurangi saldo pin­jaman lebih cepat, debitur da­pat menekan total bunga yang harus dibayarkan ke depan.

Meski demikian, kenaikan BI Rate tidak hanya membawa dam­pak negatif. Bagi masyarakat yang memiliki dana menganggur, kon­disi ini justru membuka pe­luang memperoleh imbal hasil ya­ng lebih tinggi dari produk sim­panan perbankan.

Melvin menilai, tabungan ber­jangka dan deposito ber­po­ten­si menawarkan tingkat p­e­ng­em­ba­lian yang lebih menarik seiring ke­naikan suku bunga.

Selain itu, instrumen pen­da­pat­an tetap atau fixed income juga men­jadi pilihan yang layak di­per­timbangkan. Produk seperti ob­ligasi negara dan Surat Ber­har­ga Negara (SBN) berpeluang mem­berikan imbl hasil yang lebih ti­nggi dibanding sebelumnya.

“Kenaikan suku bunga bia­sa­nya akan membuat instrumen fi­xed income menjadi lebih me­na­rik karena yield yang dit­a­war­kan ikut meningkat,” kata Melvin.

Karena itu, di tengah tren ke­na­ikan suku bunga, masyarakat di­sarankan tidak hanya fokus pa­da risiko bertambahnya biaya pin­jaman, tetapi juga me­man­fa­at­kan peluang untuk meng­o­p­ti­ma­lkan penempatan dana pada in­strumen investasi yang sesuai de­ngan profil risikonya.

Sebelumnya, pengamat pasar ua­ng Ibrahim Assuaibi mem­per­ki­rakan nilai tukar rupiah ter­ha­dap dolar Amerika Serikat (AS) ma­sih akan menghadapi tekanan da­lam aktu dekat meskipun Bank In­donesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate se­besar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Bahkan, ia menilai rupiah ber­potensi kembali melemah hi­ng­ga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). “Saya perkirakan ya ke­mu­ng­kin­an akan kembali ke level Rp 18 ribu lagi,” kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, langkah BI menaikkan suku bunga belum mam­pu memberikan dampak sig­ni­fikan terhadap penguatan mata ua­ng rupiah. Hal itu terlihat dari res­pons pasar yang tetap me­nun­juk­kan pelemahan rupiah setelah pe­ng­umuman kebijakan moneter ter­sebut.