JAKARTA – Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berpotensi semakin tinggi imbas Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 poin.
BI Rate telah melonjak sebesar 1 persen dari sebelumnya yang ditahan selama tujuh bulan di level 4,75 persen. Kebijakan mengerek suku bunga acuan diambil BI sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.
Kenaikan BI Rate menimbulkan keresahan bagi mereka yang berencana membei rumah, apakah mungkin membeli hunian impian terwujud saat cicilan KPR makin mahal?
Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari mengatakan kenaikan BI Rate akan berdampak terhadap kenaikan suku bunga pinjaman di bank, terutama untuk nasabah yang punya KPR dengan bunga floating atau yang baru mengambil cicilan.
“Kemampuan jumlah hutang yang diberikan jadi lebih kecil karena bank akan melihat besarnya bunga dan kemampuan membayar, sementara penghasilan masyarakat tetap,” ujar Tejasari.
Lantas, strategi apa yang perlu disiapkan agar cicilan KPR tak membebani kondisi keuangan?
Tejasari menyampaikan saat hendak mengambil KPR sebaiknya cek terlebih dahulu besaran cicilan yang dibayar dan menyesuaikan dengan kemampuan bayar. Besaran cicilan KPR maksimal sebesar sepertiga gaji sehingga tidak akan membebani keuangan.
“Untuk yang penghasilannya tidak tetap, batas tersebut sebaiknya diturunkan ke 25-30 persen penghasilan rata-rata agar ketika penghasilan turun, pembayaran cicilan tetap terbayar,” terangnya.
Ia pun menyarankan jumlah pembayaran down payment (DP) untuk diperbesar agar jumlah cicilan bisa lebih kecil.
Selain sesuaikan dengan kemampuan bayar, Tejasari juga menyarankan calon peminjam untuk membandingkan program bunga tetap (fixed) dan mengambang (floating).
“Bandingkan program bunga fixed dan floating yang ditawarkan bank. Semakin panjang bunga fixed maka semakin nyaman pembayarannya buat kita,” ungkap Tejasari.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menyampaikan masyarakat masih dapat mempunyai rumah meski BI Rate telah naik. Namun, ia menekankan calon peminjam KPR kemungkinan akan memerlukan usaha yang lebih besar agar bisa terus membayarkan cicilannya.
Karena itu, Andy mengimbau masyarakat untuk jangan trpaku dengan properti impian, tetapi cari yang paling realistis dan terjangkau secara finansial.
“Jangan terpaku pada properti impian kita, namun cari yang paling realistis untuk aktivitas sehari-hari dan terjangkau secara finansial oleh kita,” kata Andy.
Andy juga merekomendasikan calon peminjam untuk mengajukan permohonan KPR ke dua atau tiga bank berbeda karena mengingat pengajuan KPR tidak selalu diterima oleh pihak bank. cnn/mb06
