BANJARMASIN – Destinasi wisata Kampung Ketupat kini dalam kondisi memprihatinkan. Sejumlah fasilitas di kawasan yang sempat digadang-gadang menjadi ikon wisata itu dilaporkan rusak dan tidak terawat.
Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin mengaku telah melayangkan surat kepada pengelola, PT Juru, untuk meminta kejelasan terkait kelanjutan pengembangan kawasan tersebut. Namun hingga kini, surat tersebut belum mendapat tanggapan.
“Kami sudah menyurati PT Juru untuk menanyakan bagaimana kelanjutan pengembangan destinasi ini. Apakah masih akan dilanjutkan atau tidak. Itu penting sebagai bagian dari fungsi pengawasan kami,” kata Kepala Disbudporapar Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil, Sabtu (20/6).
Tidak adanya respons dari pengelola membuat Disbudporapar bersiap mengirim surat kedua dengan tenggat waktu sepekan sebelum mengambil langkah lanjutan.
Menurut Sabil, apabila surat kedua kembali tidak mendapat jawaban, persoalan tersebut akan dilaporkan kepada pimpinan daerah dan dibahas bersama tim kerja sama serta instansi terkait untuk menentukan arah pengelolaan kawasan wisata tersebut.
“Kami beri waktu sekitar satu minggu. Kalau tetap tidak ada jawaban, kami akan melaporkan kepada pimpinan dan berkoordinasi dengan tim kerja sama untuk menentukan tindak lanjutnya,” tuturnya.
Kondisi Kampung Ketupat yang terbengkalai menjadi perhatian karena kawasan itu sebelumnya diproyeksikan sebagai salah satu destinasi unggulan Kota Banjarmasin. Lokasinya berada di kawasan strategis yang terhubung dengan sejumlah objek wisata lain, seperti Menara Pandang dan Patung Bekantan.
Selain itu, ketupat selama ini telah menjadi identitas masyarakat setempat dan memiliki nilai budaya yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Ibnu Sabil mengatakan, Walikota Banjarmasin menginginkan kawasan tersebut tetap menjadi bagian dari pengembangan sektor pariwisata kota. Namun, bentuk pengelolaannya masih menunggu kepastian dari pihak yang saat ini memegang kerja sama.
“Apakah nanti tetap dilanjutkan dengan konsep Kampung Ketupat atau ada konsep baru dengan pengelola yang berbeda, itu masih menunggu hasil koordinasi. Setelah ada kejelasan, kami akan meminta arahan pimpinan,” kata dia.
Jika pada akhirnya pengelolaan kawasan diserahkan kepada Disbudporapar, pihaknya menyatakan siap melakukan penataan dan pengembangan ulang agar Kampung Ketupat kembali berfungsi sebagai destinasi wisata yang mampu menarik kunjungan wisatawan.
Bagi Pemerintah Kota Banjarmasin, nasib Kampung Ketupat tidak hanya soal aset wisata yang terbengkalai, tetapi juga menyangkut upaya menjaga identitas lokal yang selama ini melekat pada kawasan tersebut. Dengan kondisi saat ini, kepastian pengelolaan dinilai menjadi kunci agar kawasan itu tidak semakin kehilangan daya tariknya. via
