Mata Banua Online
Senin, Mei 11, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Menjaga Generasi Sehat di Tengah Tantangan Zaman

by Mata Banua
10 Mei 2026
in Opini
0

Oleh: Dr. Yodong, S.ST.,M.H.Kes (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti Bidang Kesehatan)

Kesehatan kerap baru disadari nilainya ketika krisis datang. Saat penyakit menyerang, layanan terbatas, atau angka kematian meningkat, barulah publik tersentak dan menoleh ke sektor yang selama ini dianggap biasa. Padahal, di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, kesehatan seharusnya ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Dunia hari ini menghadapi pergeseran besar: penyakit menular belum sepenuhnya pergi, sementara penyakit tidak menular, persoalan gizi, serta gangguan kesehatan mental justru tumbuh semakin dominan. Dalam situasi ini, kualitas sebuah generasi tidak ditentukan oleh slogan atau seremoni, melainkan oleh keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kesehatan sejak sekarang.

Berita Lainnya

Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Menguatkan Peran Perempuan di Tengah Arus Transformasi Digital

10 Mei 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Guru Pesantren Ditemukan Tewas: Siapa yang Bertanggung Jawab?

10 Mei 2026

Indonesia, sebagaimana banyak negara berkembang lainnya, berada pada persimpangan penting pembangunan kesehatan. Tantangan yang dihadapi tidak lagi sederhana. Jika pada masa lalu fokus utama adalah mengatasi penyakit infeksi dan keterbatasan layanan dasar, kini persoalannya jauh lebih kompleks dan berlapis. Kematian ibu dan bayi masih menjadi bayang-bayang di sejumlah wilayah, stunting belum sepenuhnya teratasi, anemia remaja terus berulang, sementara penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung semakin menggerus usia produktif masyarakat. Semua ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan bukan semata soal ketersediaan fasilitas, tetapi juga soal sistem, tata kelola, dan kesungguhan membangun kualitas manusia.

Sering kali kita terjebak pada ilusi kemajuan. Angka statistik menunjukkan tren perbaikan, tetapi realitas di lapangan masih menyisakan banyak celah. Penurunan stunting, misalnya, patut diapresiasi, namun lajunya belum cukup untuk menjamin generasi mendatang benar-benar bebas dari dampak jangka panjang kekurangan gizi. Demikian pula angka kematian ibu yang menurun perlahan, tetapi setiap satu kematian tetaplah tragedi yang mencerminkan kegagalan sistem melindungi hak hidup paling dasar.

Yang kerap luput disadari, krisis kesehatan jarang datang dengan suara keras. Ia tumbuh perlahan dan senyap. Layanan skrining yang tidak berjalan rutin, program gizi sekolah yang berhenti tanpa evaluasi, keterlambatan pelayanan ibu hamil karena kendala teknis, atau kekosongan tenaga kesehatan di daerah tertentu—semuanya tampak sepele, tetapi akumulasinya menciptakan kerentanan besar. Sistem kesehatan yang dibiarkan berjalan tanpa koreksi ibarat mesin yang terus beroperasi meski komponen pentingnya mulai aus.

Dalam konteks ini, orientasi pembangunan kesehatan perlu ditinjau ulang. Selama ini, kebanggaan sering dilekatkan pada rumah sakit megah, instalasi gawat darurat modern, atau alat medis berteknologi tinggi. Infrastruktur memang penting, tetapi ia hanyalah sarana. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah layanan tersebut benar-benar menjangkau masyarakat? Apakah tenaga kesehatannya cukup, terlatih, dan terlindungi? Apakah sistem rujukan bekerja cepat dan adil ketika nyawa dipertaruhkan?

Pembangunan kesehatan yang berkelanjutan tidak bisa bertumpu pada beton dan peralatan semata. Ia harus berakar pada manusia. Tenaga kesehatan yang kompeten dan sejahtera, sistem kerja yang jelas, pendanaan yang transparan, serta budaya pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien merupakan jantung dari sistem yang hidup. Tanpa itu, fasilitas kesehatan hanya akan menjadi simbol kemajuan yang mahal, tetapi tidak efektif menjawab kebutuhan masyarakat.

Lebih jauh, kesehatan masih sering dipersepsikan sebagai beban anggaran. Padahal, hampir semua kajian pembangunan menyimpulkan hal sebaliknya: kesehatan adalah investasi paling strategis. Upaya pencegahan selalu jauh lebih murah daripada pengobatan. Satu intervensi gizi yang tepat pada anak dapat menghemat biaya kesehatan bertahun-tahun di masa depan. Satu ibu yang selamat melahirkan adalah penopang ekonomi keluarga. Satu remaja yang bebas anemia memiliki peluang belajar lebih baik, bekerja lebih produktif, dan berkontribusi lebih besar bagi pembangunan nasional.

Jika Indonesia ingin menyiapkan generasi yang kuat dan berdaya saing, perhatian harus diarahkan sejak dini. Layanan kesehatan ibu dan anak perlu diperkuat secara konsisten, tidak bergantung pada siklus anggaran atau pergantian kebijakan. Skrining kehamilan, pendampingan persalinan, dan sistem rujukan darurat harus berjalan tanpa kompromi. Kematian ibu dan bayi bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin kegagalan kolektif yang seharusnya tidak dianggap wajar.

Pada saat yang sama, puskesmas harus kembali ditegaskan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan. Tanpa layanan dasar yang kuat, rumah sakit akan terus dibebani kasus-kasus yang seharusnya dapat dicegah. Puskesmas bukan hanya tempat berobat, tetapi pusat edukasi, pencegahan, dan penguatan masyarakat. Ketika fungsi promotif dan preventif berjalan optimal, beban sistem kesehatan secara keseluruhan akan jauh lebih ringan dan berkelanjutan.

Investasi pada remaja juga tidak kalah penting. Remaja hari ini adalah wajah Indonesia di masa depan. Program pencegahan anemia, edukasi gizi, aktivitas fisik, kesehatan reproduksi, hingga dukungan kesehatan mental harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar pelengkap kebijakan. Remaja yang sehat secara fisik dan mental adalah modal utama menghadapi kompetisi global yang semakin ketat.

Transformasi rumah sakit pun harus dimulai dari manusianya. Pelatihan berkelanjutan, sistem insentif yang adil, serta tata kelola yang profesional akan menentukan mutu layanan. Teknologi tanpa sumber daya manusia yang mumpuni hanya akan menjadi investasi yang sia-sia dan berumur pendek.

Namun, sebesar apa pun peran negara, kesehatan pada akhirnya ditentukan di tingkat keluarga. Pola makan, kebiasaan bergerak, kualitas istirahat, dan relasi sosial adalah “obat” harian yang menentukan kesehatan jangka panjang. Karena itu, membangun budaya hidup sehat harus melibatkan ruang-ruang terdekat: rumah, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosial. Perubahan kecil yang konsisten sering kali lebih bermakna daripada program besar yang tidak berkelanjutan.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari kemegahan bangunannya, tetapi dari kualitas manusianya. Jika hari ini kita berani menata ulang sistem kesehatan dengan jujur, berpihak pada manusia, dan berorientasi jangka panjang, maka masa depan yang sehat bukanlah utopia. Menjaga kesehatan generasi hari ini adalah cara paling nyata untuk memastikan Indonesia memiliki masa depan yang kuat, bermartabat, dan mampu bertahan di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper