Mata Banua Online
Jumat, Mei 8, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Deklarasi Bali dan Agenda Baru Olahraga ASEAN

by Mata Banua
7 Mei 2026
in Opini
0
Pertemuan tingkat tinggi SEA Ministerial Meeting On Youth and Sports 2026 di The Meru Hotel, Bali, berlangsung pada 3 hingga 5 Mei 2026 yang dihadiri oleh menteri pemuda dan olahraga dari negara-negara ASEAN.(foto:mb/ant)

Oleh : Aditya Ramadhan

Dalam SEAMMYS, Indonesia berupaya membangun kesamaan perspektif bahwa penguatan sektor pemuda dan olahraga perlu dilakukan secara kolektif, ketimbang harus bekerja sendiri-sendiri di masing-masing negara

Berita Lainnya

Etika Komunikasi Digital sebagai Wujud Integritas ASN

Etika Komunikasi Digital sebagai Wujud Integritas ASN

7 Mei 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Membangun Kedaulatan Pangan Hakiki: Mengubah Kebijakan Reaktif Menjadi Perlindungan Total

6 Mei 2026

Salah satu agenda yang paling menonjol dalam forum tersebut adalah dorongan transformasi SEA Games. Indonesia melalui Menpora Erick Thohir membawa gagasan bahwa SEA Games perlu diarahkan menjadi ajang yang lebih kompetitif dan memiliki standar yang lebih konsisten.

Selama ini SEA Games kerap dipandang terlalu bergantung pada kepentingan tuan rumah. Cabang olahraga yang dipertandingkan sering berubah menyesuaikan kekuatan negara penyelenggara. Negara tuan rumah, tidak bisa dipungkiri, selalu menginginkan keluar sebagai juara umum. Situasi itu membuat kualitas kompetisi sulit memiliki ukuran yang stabil sebagai bagian dari jalur pembinaan atlet menuju level yang lebih tinggi seperti Asian Games atau Olimpiade.

Dalam forum SEAMMYS, Indonesia mendorong agar SEA Games lebih banyak mempertandingkan cabang dan nomor Olimpiade. Pendekatan tersebut mengarah pada perubahan fungsi SEA Games dari ajang perebutan medali regional menjadi bagian dari sistem pembinaan olahraga Asia Tenggara.

Usulan itu mendapat dukungan dari sejumlah negara peserta seperti Filipina, Singapura, Vietnam, dan Laos. Dukungan tersebut mengindikasikan adanya kesadaran bersama mengenai perlunya peningkatan kualitas kompetisi olahraga kawasan.

Filipina bahkan melihat transformasi SEA Games sebagai peluang untuk memperbesar nilai ekonomi olahraga regional. Perspektif ini menandai pergeseran cara pandang negara-negara Asia Tenggara terhadap olahraga.

Investasi olahraga mulai dipahami sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi melalui sport tourism, sponsor, penyiaran, industri olahraga, dan penciptaan lapangan kerja. Sebagaimana Eropa dan Amerika membuat olahraga sudah menjadi industri besar yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks itu, pembahasan mengenai SEA Games di Bali tidak melulu soal skor, rekor, dan medali. SEA Games diarahkan pada tata kelola ekonomi olahraga kawasan.

Deklarasi Bali

Hasil paling konkret dari pertemuan tersebut adalah lahirnya Deklarasi Bali yang disepakati seluruh delegasi negara peserta. Deklarasi itu memuat enam poin utama yang mencakup penguatan kerja sama olahraga regional, pengembangan sistem olahraga prestasi tinggi, peningkatan kolaborasi penyelenggaraan ajang internasional, penguatan partisipasi olahraga untuk kesehatan masyarakat dan integrasi sosial, pemberdayaan pemuda, serta pembangunan ketahanan generasi muda di era digital.

Dokumen Bali tersebut menempatkan olahraga dan kepemudaan sebagai isu strategis kawasan. Deklarasi Bali juga menjadi dasar pembentukan kerangka kerja regional yang lebih terarah dibanding pola kerja sama sebelumnya yang cenderung sporadis.

Dari sisi diplomasi, Indonesia memanfaatkan forum ini untuk memperkuat hubungan bilateral dengan sejumlah negara. Salah satu hasil yang cukup menonjol adalah penandatanganan nota kesepahaman antara Indonesia dan Singapura dalam bidang kepemudaan dan olahraga.

Kerja sama tersebut mencakup pemberdayaan pemuda, kewirausahaan, kepemimpinan, penguatan organisasi kepemudaan, pengembangan ekosistem digital yang aman, hingga kolaborasi sport science dan teknologi olahraga.

Kerja sama dengan Singapura menempatkan isu kepemudaan pada konteks tantangan era digital dan kecerdasan artifisial. Fokus pembahasan berubah dari aktivitas kepemudaan konvensional menuju kesiapan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.

Selain Singapura, Indonesia juga memperkuat hubungan olahraga dengan Timor Leste dan Brunei Darussalam melalui pencak silat. Kepada Timor Leste, Indonesia menawarkan dukungan pembinaan dan penguatan ekosistem olahraga, termasuk kepelatihan dan perwasitan pencak silat.

Sementara dalam pertemuan dengan Brunei Darussalam, pembahasan berkembang pada peluang pengembangan pelatih, penyelenggaraan kejuaraan, hingga kemungkinan kolaborasi menjadi tuan rumah ajang pencak silat.

Pencak silat menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya yang cukup menonjol dalam rangkaian SEAMMYS 2026. Indonesia, yang sedang berjuang membawa olahraga asli tanah air itu ke level Olimpiade, menggunakan pencak silat sebagai medium penguatan hubungan antarnegara sekaligus memperluas pengaruh budaya Indonesia di kawasan.

Diplomasi olahraga yang dibangun Indonesia melalui pencak silat tersebut tidak hanya berorientasi pada prestasi kompetisi. Indonesia sedang berupaya menyebarkan identitas budaya dan penguatan hubungan sosial antarnegara melalui salah satu cabang olahraga bela diri.

Di sisi lain, forum SEAMMYS juga menjadi bagian dari upaya Indonesia membangun posisi kepemimpinan regional dalam isu olahraga dan kepemudaan. Selama ini ASEAN lebih banyak dikenal melalui kerja sama ekonomi, perdagangan, dan politik. Sektor olahraga dan pemuda belum terlalu menonjol sebagai agenda strategis kawasan.

Melalui SEAMMYS, Indonesia membuka ruang baru bahwa kerja sama regional dapat diperluas lewat pembangunan sistem olahraga dan penguatan generasi muda. Pendekatan ini berimplikasi pada tantangan kawasan Asia Tenggara yang sedang menghadapi kompetisi global yang semakin ketat, baik dalam bidang ekonomi maupun kualitas sumber daya manusia.

Kesepakatan untuk menjadikan SEAMMYS sebagai agenda rutin dua tahunan menandakan bahwa forum ini diarahkan menjadi mekanisme kerja sama jangka panjang. Filipina bahkan langsung menyatakan minat menjadi tuan rumah berikutnya.

Keputusan tersebut menjadi indikasi penerimaan kawasan terhadap gagasan yang dibawa Indonesia. Dalam konteks diplomasi regional, keberhasilan membangun forum permanen menjadi capaian penting karena inisiatif Indonesia diterima sebagai kebutuhan bersama.

SEAMMYS 2026 menandai perubahan orientasi kerja sama olahraga Asia Tenggara. Pembahasan tidak lagi terbatas pada agenda pertandingan dan perebutan medali, tetapi berkembang pada isu pembinaan atlet, tata kelola olahraga, ekonomi olahraga, ketahanan generasi muda, teknologi digital, hingga diplomasi budaya.

Bagi Indonesia, forum ini juga menjadi instrumen untuk memperkuat posisi sebagai penggerak agenda regional di luar isu ekonomi dan politik. Melalui olahraga dan kepemudaan, Indonesia mencoba membangun ruang kolaborasi baru yang lebih dekat dengan dinamika sosial masyarakat Asia Tenggara.

Di Asia Tenggara, kini olahraga mulai ditempatkan sebagai bagian dari infrastruktur strategis regional. Tidak selalu tentang menumpuk prestasi, tetapi untuk memperkuat integrasi, membentuk ekosistem ekonomi baru, dan memperluas pengaruh Asia Tenggara dalam pandangan internasional.(ant)

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper