
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menanggapi fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat atau populer disebut ‘Godzilla El Nino’ yang tengah marak dibahas di masyarakat, seiring adanya prediksi musim kemarau yang lebih kering. Fenomena tersebut dinilai bisa memengaruhi inflasi, terutama pada komponen volatile food.
“Terkait pengaruh El Nino, secara umum musiman atau kondisi seasonal yang terjadi memang sangat berpengaruh sebetulnya terhadap produksi. Kemarau panjang biasanya berpengaruh pada produktivitas sektor pertanian,” kata Direktur Statistik Harga BPS Sarpono dalam acara Workshop Pemanfaatan Data Strategis BPS di Kantor BPS Pusat, Jakarta.
Sarpono menerangkan, secara prinsip ekonomi, ketika produksi tanaman yang dibutuhkan terkendala, jumlah produksi atau stok menjadi sedikit, sementara permintaan tidak berubah, akan ada kecenderungan kenaikan harga.
Kendati demikian, ia tidak menyimpulkan fenomena Godzilla El Nino dipastikan akan mengganggu produksi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkat inflasi.
“Bicara teori semacam itu pasti akan ada pengaruhnya. Tetapi secara potret, tentunya kita belum bisa tahu ya. Sejauh mana pengaruhnya, belum diukur saat ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sarpono memberikan masukan kepada pemerintah untuk mengantisipasi dampak luas dari Godzilla El Nino, terutama pengaruhnya terhadap vlatile food atau komponen pangan dalam pergerakan inflasi.
“Ketika nanti ada kondisi El Nino, tentunya ini menjadi warning bagi pemerintah. Tingkat produktivitas, misalnya kebutuhan pokok, terutama terkait volatile food atau pangan. Mungkin harus ada strategi yang dibangun. Apakah mungkin untuk kestabilan harga perlu impor dan sebagainya, itu bagian dari early warning,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, fenomena yang dikenal sebagai ‘Godzilla El Nino’ kembali menjadi sorotan dalam proyeksi iklim 2026, seiring peringatan otoritas meteorologi tentang potensi musim kemarau yang lebih kering, lebih panjang, dan berdampak luas di Indonesia.
Istilah tersebut merujuk pada kejadian El Nino dengan intensitas sngat kuat yang dapat memperparah kekeringan, krisis air, hingga gangguan produksi pangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan secara ilmiah, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang berada di atas kondisi normal. Pemanasan ini mengubah pola sirkulasi atmosfer global sehingga distribusi awan dan curah hujan bergeser.
Akibatnya, wilayah seperti Indonesia justru mengalami penurunan pembentukan awan dan hujan, sementara curah hujan meningkat di kawasan Pasifik. Istilah ‘Godzilla El Nino’ bukan jenis fenomena baru, melainkan penggambaran untuk El Nino dengan kekuatan sangat besar, termasuk salah satu yang terkuat sejak 1950.
Penyematan nama ‘Godzilla’ menggambarkan dampaknya yang masif dan destruktif terutama ketika fenomena ini terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. bisn/mb06

