Mata Banua Online
Minggu, April 19, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Di Jogokariyan, Ribuan Takjil dan Ruang Singgah bagi Pemudik Bertemu

by Mata Banua
29 Maret 2026
in Opini
0
Para relawan menata menu berbuka puasa di Kampoeng Ramadhan Jogokariyan, Yogyakarta, Rabu (18/3/2026).(foto:mb/ant)

Oleh : Farika Nur Khotimah

Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan Masjid Jogokariyan di Kota Yogyakarta dipadati ribuan orang yang datang sejak sore, hingga menjelang magrib. Tidak hanya warga sekitar, pengunjung dari berbagai daerah turut memadati kawasan tersebut untuk merasakan suasana berbuka puasa yang telah menjadi tradisi selama lebih dari dua dekade.

Berita Lainnya

Kebiadaban Yang Dilegalkan

Kebiadaban Yang Dilegalkan

16 April 2026
The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

The Little Princedan Makna Komitmen Dalam Relasi

16 April 2026

Di pintu masuk kawasan, gapura bertuliskan “Kampoeng Ramadhan Jogokariyan” menyambut pengunjung yang datang silih berganti. Area tersebut menjadi pusat aktivitas selama Ramadhan, mulai dari berbagi takjil, hingga pasar sore yang dipadati warga.

Kepada ANTARA, Rabu (18/3), Koordinator Takjil dan Ketua Bidang 4 Masjid Jogokariyan Ismail Thoha Putra mengatakan kegiatan tersebut telah berjalan selama 22 tahun, dengan konsep berbuka puasa bersama yang konsisten dipertahankan.

“Setiap hari selama satu bulan penuh kami menyiapkan menu buka puasa. Tahun ini sekitar 3.800 porsi per hari,” kata Ismail.

Jumlah tersebut meningkat pada akhir pekan, ketika pengunjung membeludak. Panitia menambah porsi hingga sekitar 4.350 porsi per hari, meski jumlah tersebut kerap masih belum mencukupi.

“Kalau Jumat, Sabtu, Ahad itu bisa sampai 4.350 porsi, itu pun masih kurang,” ujarnya.

Semua pengunjung yang datang dipersilakan mengambil menu berbuka puasa dan diminta untuk mengonsumsinya langsung di lokasi.

Ismail menjelaskan penggunaan piring dilakukan untuk memastikan takjil benar-benar digunakan untuk berbuka puasa, sesuai dengan amanah para donatur.

“Ini amanah dari donatur untuk iftar, jadi kami ajak makan di tempat. Kalau pakai boks bisa dibawa pulang dan tidak dimakan, saat berbuka,” katanya.

Ia mengakui penggunaan piring memang lebih merepotkan, namun hal tersebut dipilih untuk menjaga tujuan utama berbagi makanan saat Ramadhan.

“Mungkin dibilang repot, tapi kami ingin memenuhi niat donatur untuk berbuka puasa bersama,” ujarnya.

Menu yang disajikan berbeda setiap hari dan telah dirancang sejak sebelum Ramadhan. Seluruh proses memasak melibatkan warga setempat yang tergabung dalam 28 kelompok dasawisma.

“Yang memasak ibu-ibu dasawisma, ada 28 kelompok. Mereka mengajukan menu, nanti kami atur supaya tidak sama,” ujar Ismail.

Proses distribusi dilakukan secara terstruktur. Makanan mulai dikirim dari dapur warga sekitar pukul 14.30 WIB, kemudian ditata oleh relawan, sebelum dibagikan menjelang waktu berbuka.

Selain makanan utama, panitia juga menyiapkan minuman khas berupa setup nanas yang menjadi identitas Kampoeng Ramadhan Jogokariyan.

“Setup nanas ini khas, munculnya setahun sekali di Jogokariyan,” katanya.

Di luar aktivitas berbuka, kawasan tersebut juga diramaikan oleh pasar sore yang diikuti 415 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktivitas tersebut terlihat sejak memasuki area masjid, di mana seluruh pelaku usaha diberikan fasilitas lapak secara gratis.

“Gratis lapaknya, jadi mereka bisa berjualan di sini,” ujar Ismail.

Keberadaan pasar tersebut menjadikan kawasan Jogokariyan sebagai tempat ibadah sekaligus pusat aktivitas ekonomi warga selama Ramadhan.

Filosofi Jogokariyan

Konsep berbagi yang diterapkan di Masjid Jogokariyan merupakan bagian dari pendekatan pengelolaan masjid yang sejak awal diarahkan untuk melayani kebutuhan umat secara luas.

Berdasarkan laman Masjid Jogokariyan, masjid ini dikembangkan tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat yang mencakup aspek sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan warga.

Salah satu pendekatan yang dikenal adalah pengelolaan dana infak yang tidak ditimbun, melainkan langsung disalurkan untuk kebutuhan jamaah. Program tersebut dinamakan “Saldo Infak Nol Rupiah”. Pola ini membuat berbagai program sosial dapat berjalan secara berkelanjutan dan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ketika bulan Ramadhan tiba, konsep tersebut diterjemahkan melalui penyediaan takjil yang melibatkan warga, serta pemberian ruang usaha bagi ratusan pelaku UMKM.

Pendekatan ini juga mendorong interaksi antarjamaah. Pengunjung tidak hanya datang untuk mengambil makanan, tetapi juga berbuka puasa bersama dalam satu ruang yang sama.

Persinggahan pemudik

Memasuki pekan terakhir Ramadhan, komposisi pengunjung di Kampoeng Ramadhan Jogokariyan mulai berubah. Pengunjung tidak lagi didominasi warga lokal, tetapi mulai dipenuhi pemudik dari berbagai daerah.

“Empat hari terakhir ini kebanyakan pemudik. Ada dari Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan dari Sulawesi,” kata Ismail.

Ia mengatakan banyak pemudik yang sengaja datang untuk melihat langsung suasana berbuka puasa di Jogokariyan yang selama ini dikenal luas.

Fenomena tersebut menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai salah satu titik singgah bagi pemudik yang melintas di Yogyakarta.

Masjid juga menyediakan fasilitas penginapan bernama “Suffah” yang memiliki 11 kamar, terdiri atas satu kamar keluarga dan 10 kamar reguler.

“Ada 11 kamar di atas, satu family room dan 10 kamar reguler,” kata Ismail.

Penginapan tersebut dapat digunakan oleh masyarakat umum melalui pemesanan, dan selama Ramadhan seluruh kamar telah terisi penuh, hingga beberapa hari setelah Lebaran.

“Kalau Ramadhan ini sudah penuh, sampai plus tujuh juga sudah penuh,” ujarnya.

Selain penginapan berbayar, masjid juga menyediakan fasilitas khusus bagi musafir secara gratis, dengan durasi maksimal dua malam.

Tak hanya menyediakan tempat beristirahat atau aula yang berbeda bagi musafir perempuan dan laki-laki, pengelola juga membantu musafir yang mengalami kesulitan selama perjalanan, termasuk mereka yang kehabisan bekal atau kehilangan barang.

“Kalau memang benar-benar kehabisan bekal, kami bantu sampai pulang. Kami belikan tiketnya,” kata Ismail.

Di tengah berbagai aktivitas tersebut, kegiatan keagamaan tetap menjadi inti dari Kampoeng Ramadhan Jogokariyan. Selama bulan Ramadhan, jamaah mengikuti tadarus Al Quran dan tausiah menjelang waktu berbuka puasa.

Dengan berbagai kegiatan yang terintegrasi, Kampoeng Ramadhan Jogokariyan menjadi ruang berbagi yang melibatkan warga, pelaku usaha, hingga pemudik dari berbagai daerah. (ant)

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper