Mata Banua Online
Selasa, Maret 3, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Masa Depan Iran Tanpa Khamenei

by Mata Banua
2 Maret 2026
in Opini
0
Adzin Aris Aniq Adani (Alumni Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri, dan sekarang menjadi peneliti di UIN Raden Mas Said, Surakarta.)

Melalui akun media sosial pribadinya, Donald Trump menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, telah tewas dalam serangan udara yang menghancurkan kompleks kediamannya pada Sabtu (28/2/2026). Awalnya, pihak Teheran merespons dengan cepat melalui pernyataan bahwa Khamenei telah dievakuasi ke lokasi aman sebelum serangan diluncurkan. Namun, ketidakpastian itu tidak berlangsung lama.

Kabar kematian Khamenei sontak menimbulkan gelombang pertanyaan di kalangan pegiat geopolitik global. Terlepas dari klaim awal Trump yang sempat dituding oleh pihak Iran sebagai strategi propaganda semata untuk meruntuhkan mental rakyat, media resmi pemerintah Iran akhirnya mengonfirmasi kabar duka tersebut. Klaim Trump terbukti benar. Kematian sang tokoh revolusioner ini lantas membuka babak baru yang penuh ketidakpastian dalam konfrontasi panjang antara Iran dan Amerika Serikat. Dunia kini bertanya: apakah kepergian Khamenei akan membuka pintu diplomasi untuk mengakhiri ketegangan bertahun-tahun, atau justru sebaliknya, membuat Iran semakin ganas dan ambisius dalam membalas dendam?

Berita Lainnya

Digitalisasi Birokrasi: Jembatan Menuju Keadilan atau Sekat yang Memisahkan Rakyat?

Digitalisasi Birokrasi: Jembatan Menuju Keadilan atau Sekat yang Memisahkan Rakyat?

2 Maret 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

Menakar Batas Pengawasan: Antara Fungsi Kontrol DPR dan Independensi Penegakan Hukum Pidana

2 Maret 2026

Jejak Perjalanan Sang Imam

Khamenei lahir di Mashhad pada tahun 1939 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ia tumbuh besar dalam tradisi Syiah yang sangat taat. Sejak usia muda, ia telah dikenal sebagai orator ulung dan kritikus vokal terhadap rezim Mohammad Reza Pahlavi yang akhirnya runtuh pada revolusi 1979. Jiwa kepemimpinannya semakin terasah ketika Ayatullah Ruhollah Khomeini mengangkatnya menjadi Imam Salat Jumat di ibu kota Teheran, sebuah posisi yang sangat strategis secara politis dan religius.

Reputasinya yang gemilang membawanya pada kursi Presiden Iran pada Oktober 1981, sebuah jabatan yang ia pegang selama dua periode hingga 1985. Ketika Ruhollah Khomeini wafat pada 1989, Majelis Ahli mengangkat Khamenei sebagai penerus posisi Pemimpin Tertinggi (Rahbar). Di bawah kendalinya, wajah Iran mengalami transformasi signifikan. Misi utamanya adalah memperkuat negara yang berbasis pada ajaran Islam murni dan menolak segala bentuk intervensi Barat.

Untuk menopang hegemoninya, Khamenei memperkuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam waktu singkat, organisasi ini menjelma menjadi raksasa militer dan ekonomi yang mendominasi hampir seluruh aspek kehidupan di Iran. Namun, perjalanan karirnya bukan tanpa kontroversi. Banyak warga Iran yang melihat rezimnya sebagai bentuk tirani. Kritikus global bahkan menuding Khamenei sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas kematian Mahsa Amini pada tahun 2022, yang memicu represi berdarah terhadap demonstran hingga menewaskan ribuan orang.

Ideologi Perlawanan dan Geopolitik

Terlepas dari dinamika domestiknya, Iran di bawah Khamenei berdiri sebagai benteng oposisi paling keras terhadap dominasi Amerika Serikat. Sejak menjabat, ia konsisten menyebut AS sebagai “Setan Besar” dan musuh utama. Khamenei membangun Iran dengan semangat perlawanan yang sering dianggap sebagai upaya mengembalikan supremasi Islam dalam percaturan geopolitik internasional.

Meskipun memimpin negara dengan mazhab Syiah, Khamenei berhasil memposisikan dirinya sebagai tokoh representatif yang membawa bendera perlawanan Islam di medan internasional. Di saat banyak negara mayoritas Muslim tunduk pada tekanan AS, Iran memilih bertempur hingga titik darah penghabisan. Selain itu, Iran adalah negara yang paling lantang menyuarakan kemerdekaan Palestina dan secara konsisten melabeli Israel sebagai entitas penjajah dan teroris.

Masa Depan Iran Tanpa Khamenei

Kini, bendera merah—yang melambangkan tuntutan balas dendam atas kematian seorang pemimpin—telah dikibarkan di puncak-puncak masjid di seluruh Iran. Ini adalah indikator jelas bahwa Iran tidak akan mundur meski pemimpin tertingginya telah tiada. Segera setelah konfirmasi kematian tersebut, Iran dilaporkan telah meluncurkan ratusan rudal ke wilayah yang dianggap sebagai sekutu AS, termasuk titik-titik strategis di kawasan. Bagi Teheran, ini barulah permulaan dari rangkaian pembalasan.

Bendera merah yang bertuliskan seruan jihad bukan sekadar simbol, melainkan janji pertarungan habis-habisan. Doktrin anti-Barat yang ditanamkan Khamenei selama puluhan tahun telah mengakar kuat dalam struktur militer dan birokrasi Iran, sehingga sulit membayangkan adanya pelunakan kebijakan dalam waktu dekat.

Meskipun prospek diplomasi terlihat suram, mata dunia kini tertuju pada Rusia dan Tiongkok. Sebagai mitra strategis Iran, kedua negara besar ini diprediksi akan mengambil langkah-langkah mediasi guna mencegah eskalasi perang total yang dapat melumpuhkan ekonomi global. Namun, selama api balas dendam masih berkobar di Teheran, masa depan hubungan Iran-AS tampaknya akan tetap berada di titik nadir yang paling berbahaya.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper