
JAKARTA – Memasuki bulan puasa hinga Hari Raya Idulfitri, petani sayuran di sejumlah sentra produksi bersiap menjaga pasokan pangan segar.
Namun, ditengah upaya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, petani dihadapkan curah hujan tinggi yang memicu beragam penyakit tanaman dan dinamika harga di pasar. Tantangan yang dihadapi petani ini mencerminkan kompleksitas sistem pangan Indonesia yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.
Menurut Didin Silahudin, petani sayur asal Cianjur, Jawa Barat, persiapan panen jelag Ramadan bukanlah hal baru. Pola konsumsi masyarakat relatif bisa diprediksi, terutama untuk komoditas tertentu seperti cabai, terong dan timun.
“Kami dari jauh-jauh hari sudah membuat pola tanam dimana panen direncakan untuk di bulan puasa. Umumnya untuk hari-hari besar seperti lebaran biasanya permintaan lebih tinggi,” ujar petani yang telah puluhan tahun sukses menanam cabai dan beragam jenis sayuran itu.
Hal yang sama disampaikan oleh Yustam, petani dari Pati, Jawa Tengah. Menurutnya petani di daerahnya telah memahami pola permintaan selama puasa dan menjelang lebaran. Dia menegaskan curah hujan yang sangat tinggi selain memicu pertumbuhan penyakit tanaman juga membatasi jam kerja petani di lahan. “Kami berharap Pemerintahbisa menjaga agar harga jual hasil panen dapat stabil. Demikian juga dengan ketersediaan sarana produksi, seperti pupuk dan benih serta teknologi pertanian seperti alat mesin pertanian supaya kami lebih efektif dan efisien dalam produksi,” ujarnya.
Sejak awal Januari 2026 Badan Pusat Statistik (BPS) telah memberikan peringatan agar sejumlah komoditas pangan termasuk cabai rawit untuk diantisipasi karena berpotensi memicu inflasi. “Komoditas ini mungkin dapat kita segera antisiasi, karena kita sudah mulai memasuki bulan Ramadan, di bulan depan ini,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pertengahan Januari lalu.
Menurut pakar pertanian IPB University, Prof. Bayu Krisnamurti, petani memegang peranan sentral dalam sistem pangan, khususnya untuk pangan segar seperti sayur dan buah. “Tanpa produksi dari petani, tidak akan ada pangan,” ujarnya.
Menurt Bayu, sistem pangan Indonesia saat ini menghadapi tantangan struktural yang semakin berat, mulai dari krisis iklim, degradasi dan keterbatasan lahan, hingga minimnya infrastruktur pendukung seperti cold chain, alat angkut, dan gudang penyimpanan. Tantangan-tantangan ini tidak bisa diatasi hanya di tingkat petani, melainkan memerlukan pendekatan sistemik berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.”Inovasi berbasis riset menjadi sangat penting, bahkan kritikal, untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut,” kata Bayu.
Bayu menegaskan, peran inovasi khususnya di sektor perbenihan dan penanganan pascapanen sebagai salah satu kunci keberlanjutan. Benih yang tahan kekeringan, tahan genangan, atau mampu meningkatkan produktivitas akan sangat menentukan masa depan usaha tani, terutama daam menghadapi ketidakpastian iklim. rep/mb06

