Mata Banua Online
Selasa, Februari 24, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Ketika Alam Menjadi Teguran

by Mata Banua
23 Februari 2026
in Opini
0

Oleh: Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Da’i Muda, Peneliti, dan Penulis)

Maraknya bencana dan musibah silih berganti melanda hampir seluruh tempat di atas bumi ini. Mulai dari gempa bumi, gunung meletus, hujan badai, gelombang pasang, petir bersahutan, angin puting beliung, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran, dan lainnya yang datang tanpa permisi untuk merenggut korban baik harta maupun nyawa. Mungkinkah alam sedang marah kepada makhluk yang menghuninya?

Berita Lainnya

Refleksi Krisis Lingkungan dalam Serial The War Between the Land and the Sea(2025)

Refleksi Krisis Lingkungan dalam Serial The War Between the Land and the Sea(2025)

23 Februari 2026
Sentimen MSCI, Aksi Asing dan Peluang di Tengah Volatilitas

Sentimen MSCI, Aksi Asing dan Peluang di Tengah Volatilitas

22 Februari 2026

Perubahan iklim yang ekstrim dan tidak menentu ini, kian menguji kecanggihan teknologi manusia dalam menaklukkan alam raya dengan dinamikanya. Perkembangan teknologi yang begitu pesat merupakan bukti kedigdayaan manusia bila dibanding makhluk lainnya di dunia fana ini. Permasalahannya, banyak manusia yang lupa dan tidak berterima kasih pada alam dan penciptanya. Akibatnya, bumi ini mungkin geram dan menggeliat sekadar mengingatkan manusia yang terlupa dari hakikat penciptaannya.

Amukan angin puting beliung telah memporak-porandakan rumah-rumah penduduk dan bangunan kokoh lainnya. Gelombang pasang telah meremukkan perahu-perahu nelayan dan menghancurkan ekosistem di pesisir pantai. Sungguh tiada lagi tempat yang aman di muka bumi ini jika alam telah berulah.

Dari berbagai rangkaian bencana dan musibah yang menyambangi bumi ini khususnya tanah air Indonesia, merupakan bukti bahwa Sang Pencipta sedang mengingatkan makhluk ciptaan-Nya yang mungkin telah berbuat ”kelewat” batas. Ujian dan bencana yang menimpa manusia adalah konsekuensi dari perbuatan maksiat dan dosa manusia itu sendiri. Pertanyaannya, mengapa harus manusia yang disalahkan? Bukankah banyak makhluk Tuhan lainnya yang juga hidup di muka bumi ini? Jawabnya, karena manusia adalah khalifah di muka bumi.

Logika sederhana, manusia yang diberi akal pikiran mampu menciptakan hal-hal luar biasa untuk menguasai bumi ini. Nah, jika kita menciptakan suatu benda dan benda tersebut tidak memberi manfaat, bahkan membuat kerusakan yang merugikan kita dan orang lain, sangat wajar jika kemudian kita musnahkan saja benda itu. Atau mungkin merenovasinya demi membuatnya bermanfaat dan lebih baik lagi. Demikian halnya manusia di muka bumi ini, jika keberadaannya tidak menjadikan kebaikan atau hanya melakukan kemunkaran, maka sepatutnya azab dari Sang Pemilik kehidupan ini menjadi balasan yang setimpal.

Indonesia adalah negara kepulauan yang di huni 270 jutaan manusia dengan berbagai keragamannya. Untaian pulau yang berjajar dari Sabang hingga Merauke menunjukkan indahnya alam Indonesia. Keragaman suku, budaya, ras dan agama menjadi ciri khas rakyat Indonesia meski secara mayoritas penduduknya beragama Islam. Dan sebagai negara Islam terbesar di dunia, Indonesia semestinya menjadi tempat yang mendatangkan rahmat bagi penduduknya, sebagaimana agama Islam yang turun menjadi rahmat bagi seluruh alam. Lalu, mengapa bencana begitu gemar berkunjung ke tanah air kita ini?

Mulai dari retaknya tanah, gempa yang acapkali menggoyang beberapa pulau di negeri ini, banjir, tanah longsor, gunung yang sering kambuh “berdehem” dan memuntahkan laharnya, hingga tiupan angin yang dapat menerbangkan dan menumbangkan apapun yang dilaluinya, seakan-akan silih berganti menyapa negeri kita ini. Dan masih banyak fenomena alam yang sering terjadi di bumi pertiwi ini dengan meminta korban baik harta maupun jiwa.

Jakarta yang dihuni mayoritas pejabat eselon bangsa kita, hingga detik ini belum mampu menghalau banjir. Jogja dengan keunggulan ritual adatnya belum sanggup menaklukkan ganasnya gunung merapi kala bergolak. Kemudian Kepri dengan kesantunan budaya Melayunya juga tiada bergeming ketika badai menerjangnya. Dan masih banyak lagi daerah-daerah di Nusantara yang masih berjibaku dengan musibah dan bencana alam. Alhasil, terlalu banyak korban yang ditimbulkan dari semua itu.

Lebih memprihatinkan lagi, di Indonesia begitu marak bencana yang sengaja dilakukan oleh manusia itu sendiri. Kasus perkosaan yang telah “menelan” nyawa baik anak-anak ataupun orang dewasa, kasus korupsi yang mengakibatkan rakyat menjadi miskin dan kelaparan, tragedi makelar kasus yang menjadikan hukum semakin liar “membabi buta” tanpa keadilan, pertikaian berkepanjangan yang menyebabkan perang saudara antar warga sendiri, dan masih banyak lagi kerusakan oleh tangan-tangan manusia sekarang ini.

Sebagai umat Islam yang mayoritas hidup di bumi Indonesia, ada baiknya mencermati fenomena alam tersebut dengan bersandar pada nilai-nilai Islam. Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah telah dijelaskan bahwa segala yang terjadi di dunia ini, sangat erat berhubungan dengan apa yang diperbuat manusia sebagai makhluk yang diberi tanggung jawab untuk menjaga bumi Allah ini. Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda, ”Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” Ada yang bertanya, ”Apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah?”

Rasulullah Saw menjawab, “Apabila harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi, amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan, zakat dianggap sebagai cukai (denda), suami menjadi budak istrinya (sampai dia) mendurhakai ibunya, mengutamakan sahabatnya (sampai dia) berbuat zalim kepada ayahnya, terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari’ah), orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat), seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya, minuman keras (khamr) tersebar merata dan menjadi kebiasaan, laki-laki telah memakai pakaian sutera (menyerupai wanita), penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan, alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan, generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya. Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang di atasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tanah longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.” (Riwayat Tirmidzi, 2136).

Sementara itu, peringatan Allah Swt begitu jelas dalam firman-Nya, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa’ [17] : 16).

Banyak ayat-ayat Allah Swt lainnya yang turut menegaskan turunnya azab di dunia, salah satunya dalam al-Qur’an surat Al Israa’ [17] ayat 58 menyebutkan, “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”

Sungguh Allah Swt telah membuktikan firman-Nya dalam al-Qur’an surat an-Nahl [16] ayat 112, yang artinya: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka (seperti pakaian) kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”

Itulah beberapa perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya. Korupsi dan ketidak-adilan merajalela, beraneka-ragam penyakit bermunculan baik yang ada obatnya maupun yang belum ditemukan obatnya. Ironinya, banyak orang tidak sadar dan enggan segera bertaubat kepada Allah Swt, mereka cenderung sibuk mengejar dunia dan berpesta menikmati gemerlap dunia ini.

Sungguh banyak orang yang mengingkari Allah Swt dan Rasul-Nya dalam menolak dakwah Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-Nya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya menukar hukum Allah dengan hukum jahiliyah. Ditambah lagi, kecenderungan masyarakat memilih serta mengikuti tradisi nenek moyangnya yang ajaran-ajarannya banyak bertolak belakang dengan syari’at dari Allah Swt.

Semoga Allah Swt masih berkenan mengampuni kita semua dan menyelamatkan kita dari bencana di dunia dan di akhirat kelak. Sebagaimana janji Allah Swt dalam al-Qur’an surat Al-Ahzab [33] ayat 35, yang artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Aamiin.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper